Selasa, 07 September 2010   28. Ramadhan 1431
Baner

Pengunjung

Ada 15 Tamu online
mod_vvisit_counterHari ini77
mod_vvisit_counterKemarin726
mod_vvisit_counterMinggu ini1980
mod_vvisit_counterBulan ini4354
mod_vvisit_counterTotal96698

Hari ini: 07 Sep 2010

YM: admhidayatullah

sumber: bmg.go.id

Assalamu'alaikum wr.wb
Bagi DPD atau Pengurus Hidayatullah yang ingin mempunyai e-mail dari domain hidayatullah.or.id dengan account e-mail Sebagai berikut:

1.dpd_namadpd@hidayatullah.or.id  Contoh: dpd_bekasi@hidayatullah.or.id *
2.nama_pengurus@hidayatullah.or.id  Contoh: hamba_allah@hidayatullah.or.id **
silahkan kirimkan data DPD/diri anda ke e-mail: admin@hidayatullah.or.id.

Adapun data yang harus anda kirimkan adalah:
1.Nama DPD*
2.Nama lengkap anda**
3.Alamat e-mail yang di inginkan**
4.Alamat e-mail anda untuk konfirmasi (harus ada dan valid)
5.ID Code:kata kunci jika anda lupa password (minimal tiga karakter)**

Adapun Fasilitas yang diberikan untuk e-mail hidayatullah.or.id adalah:
1. Kapasitas yang cukup besar yaitu 6 GB.(6000 MB)
2. Aman dari Virus.
3. Lebih Cepat dalam proses Attachment (melampirkan file)
4. Didukung Pilihan bahasa (+- 40 bahasa)
5. Penjawab Pesan otomatis saat liburan
6. Dapat di links dengan account e-mail yang lain sehingga terintegrasi.
7. Label dan filtering
8. POP dan IMAP
9. Chatting
10.Dan lain-lain silahkan anda berexplorasi.

Syarat penggunaan dan kebijakan dari mail.hidayatullah.or.id:

1. Penyalahgunaan account e-mail yang dilakukan merupakan tanggung jawab sendiri pengguna free account di Mail.hidayatullah.or.id
2. Pengguna tidak diperbolehkan menggunakan account e-mail untuk tujuan spam, email bomb, mail virus, email carding dan sejenisnya.
3. Jika lupa password anda harus mempunyai ID Code, tanpa kode tersebut mail.hidayatullah.or.id tidak akan pernah memberikan password anda yang baru.**
4. Mail.hidayatullah.or.id berhak menghapus Account e-mail anda jika diketahui disalahgunakan.

Wassalamu'alaikum wr.wb


admin@hidayatullah.or.id

Catatan:

*  Berlaku Untuk DPD (Lembaga)
** Berlaku Untuk Pengurus (Personal)

article thumbnail Belajar Lewat Bacaan
Rabu, 17 Desember 2008 | Admin

Kegemaran membaca buku sudah terlihat sejak duduk di bangku Sekolah Lanjutan, PGA Neg. 6 tahun Makassar. Dia tertolong dengan tunjangan ID yang diterima setiap bulan. Dia manfaatkan tunjangan itu...

Baner
Poko-pokok Pikiran, Kiprah dan Perjuangan Ustad Abdullah Said Pendiri Hidayatullah Kini akan ditampilkan di Hidayatullah.or.id Ikuti terus Kisah Perjalannanya hanya di sini.
19
Jan
2009
Ber-Khadijah PDF Cetak E-mail
Kondisi pra Wahyu
Fase berikut yang dilakoni Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu atau memasuki kepemimpinan profetik, Muhammad menempuh dulu kehidupan berumah tangga. Beliau nikah dengan Khadijah dengan mahar 400 dinar. Kalau dirupiahkan dengan nilai sekarang = Rp 340.000.000,-.

Dari mana uang sebanyak itu diambil oleh Muhammad ? Adalah hasil cucuran keringatnya mengantar barang dagangan Khadijah sebanyak 15 kali dan tiap kali berangkat diupah 2 ekor onta betina. Bahkan keberangkatannya yang terakhir mendpat upah 4 ekor onta betina. Sebagian dari upahnya itu diserahkan kepada pamannya, untuk membantu menanggulangi kesulitan ekonomi yang dialaminya. Jadi pernikahnannya dengan Khadijah bukan gratis. Tapi dari hasil tabungannya selama bekerja sebagai karyawan Khadijah.
Pernikahan Nabi ini memiliki banyak nakna. Dapat juga bermakna untuk lanjutan pengikisan thaga’ (sifat arogansi), karena betapapun kaya dan cantiknya Khadijah usianya 15 tahun lebih tua dari Nabi dan sudah janda dua kali beranak dua. Dengan menikahi Khadijah betapapun juga orang tetap mengatakan bahwa, pemuda ganteng beristri janda beranak dua.
 
Maka seorang jejaka seperti Muhammad tidaklah pantas berbangga dengan kebanggaan yang sempurna dengan menikahi Khadijah. Tapi yang mendominasi pikiran dan perasaan Muhammad adalah akhlak dan jiwa pengorbanan Khadijah yang begitu mencolok dalam dirinya yang justru sangat diperlukan untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Disana bukan nafsu yang dominan.
 
Baik cara Khadijah memandang Muhammad ataupun cara Muhamamd memperhitungkan Khadijah. Dan ternyata sangat terasa setelah Muhammad menjadi Nabi bahwa sosok Khadijah adalah bahagian yang sangat penting dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dan nampak gusar karena belum mengetahui persis apa yang terjadi atas dirinya nampak sekali peranan Khadijahlah yang langsung meyakinkan bahwa, “Wahai putra pamanku, bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap  kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah tidak akan mencemoohkan engkau, karena engkaulah yang mempererat tali persaudaraan, jujur dalam kata-kata, engkau mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang kesulitan atas jalan yang benar”.

Menjelang wafat dia menangis. Nabi heran apa gerangan yang ditangisi Khadijah, istri yang sangat dicintainya itu. Dia berujar ketika ditanya oleh Nabi, “Saya menangis bukan karena apa tapi karena tidak ada lagi yang dapat saya korbankan untuk perjuangan. Kalau saya meninggal nanti dan tulang-tulang saya ada gunanya  untuk perjuangan, maka gunakanlah tulang-tulang saya  itu untuk perjuangan”.

Setelah santri-santri dianggap dewasa; sudah memenuhi syarat untuk berumah tangga, Ustadz Abdullah Said segera mengupayakan mencarikan mereka  jodoh. Karena bagaimanapun kemampuan kepemimpinan seorang kader, kalau belum berumah tangga , tidak dapat diandalkan. Maka program pernikahan ini menjadi program penting untuk dapat menampilkan seorang pemimpin yang bertanggung jawab, karena memimpin sebuah rumah  tangga adalah langkah awal memimpin masyarakat.

Pada waktu pesantren belum mampu melaksankan pernikahan kader-kader yang dianggap sudah tiba waktunya untuk nikah, dinikahkan di rumahnya. Seperti Hasan Suradji, seorang kader awal dengan Asmah, juga santri awal. Usman Palese nikah di kampungnya di Pinrang dengan sorang putri di kampung itu, Noorhidayah kemudian diboyong ke Balikpapan. Nazir Hasan dengan juga dilaksanakan di kampungnya di Sumatra Barat kemudian memboyong isterinya, Suryati, ke Gunung Tembak. Usman Asy'ari nikah di rumahnya di Balikpapan dengan Hasanah Luqman, keduanya  sebagai kader awal.

Setelah hijrah ke Gunung Tembak, pernikahan sudah dapat dilaksanakan sendiri oleh Pesantren walaupun dengan cara yang sangat sederhana. Dinikahkanlah Amin Mahmud dengan Mar'fuah  keduanya sebagai santri awal Ustadz Abdullah Said, dalam keadaan kampus Gunung Tembak masih terdiri dari hutan belukar, masih sangat bersahaja. Pernikahan berikut adalah M.Hasyim HS dengan Rusmala Dewi pernikhan antara murid dengan gurunya. Pelaksanaan pernikahan yang sangat sederhana. Suguhannya hanyalah sayur terong yang diberi bumbu. Tapi masya Allah terasa sekali bagi orang yang menyaksikannya bahwa cukup berberkah dan membahagiakan. Seterusnya A.Hasan Ibrahim dan Elliya Noor, M.Yahya dengan Rohana (adik kandung M.Hasyim Hs),

Pernikahan yang lebih dari satu pasang adalah pernikahan Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati H.Rowa dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah. Ini agak meningkat hidangannya karena disamping sayur terong ada bantuan daging dari rumah mertua A.Qadir Jailani dari Kampung Baru – Balikpapan.

Demikianlah pernikahan itu terus menerus dilaksanakan dengan jumlah yang bervariasi:
1977 sejumlah 2 pasang, 1979 sebanyak 3 pasang, 1980 5 pasang, 1983 3 pasang, 1984 7 pasang, 1985 12 pasang, 1989 31 pasang, 1991 47 pasang, 1994 61 pasang, 1996 13 pasang, 1997 100 pasang, 1998 20 pasang, 2000 47 pasang, 2001 4 pasang, 2002 57  pasang, 2003 44 pasang, 2004 6 pasang, 2006 28 pasang. 2007  pasang,  dan 2008 25 Pasang
Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

busy