Wajah Ali Imron (21 tahun) siang itu terlihat sumringah. Pandangannya yang sedari tadi kerap memaku lantai, kini tampak berkaca-kaca di selingi senyum kecil. Bibirnya bergetar.
"Tegang sekali. Alhamdulillah, bisa juga saya selesaikan pendidikan ini dengan baik," katanya mantap saat dimintai kesan selama mengikuti kegiatan pendidikan da’i, ini.
Acara wisuda pelepasan dan penugasan peserta program Kuliah Da'i Mandiri Angkatan VII yang berlangsung pada Ahad, 01 November 2009 lalu, ini memang tak semeriah dengan acara-acara penutupan yang telah gelar di beberapa tingkatan sebelumnya.
Tapi, ini tentu saja tak mengurangi kesakralan seremoni acara yang berlangsung di Aula Masjid Baitul Karim, Jakarta Timur, ini. Dua hari sebelum acara penutupan, yakni Jum’at-Sabtu (30 -31 Oktober) dilakukan pemantapan kemampuan leadership para peserta yang juga disesaki sejumlah peserta dari Kota Bekasi dan Bogor.
Imron yang asli Jember, Jawa Timur, memang patut berbangga. Dia bersyukur dapat mengikuti program pendidikan untuk da'i ini. Dia mengakui, sekolahnya hanya sampai tingkat sekolah dasar. Mau lanjut SMP modal tak ada. Orang tuanya pun ogah lagi mengusahakan.
Tapi entah kenapa, dari daerah Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dia malah di beri tugas untuk mewakili daerah tersebut untuk mengikut program ini.
Sejak tahun 2008 lalu, Imron memang sudah bergabung dengan Pesantren Hidayatullah Malinau yang letaknya di dalam hutan. Sehari-hari kerjanya adalah mengasuh santri belasan orang dan membabat rumput, selain sebagai tukang. Sejak itu, sekolah tak lagi pernah ia bayangkan.
"Bersyukur sekali saya, Allah masih beri saya peluang untuk belajar lagi," kata mantan penjual bakso keliling di Kota Malinau ini.
Di usianya yang terbilang masih muda ini, Imron sudah meninggalkan tanah kelahirannya. Tahun 2006 lalu, dia keluar kandang dari Kota Jember.
Destinasi impiannya waktu adalah Kalimantan Timur. Imron tertarik. Sebab kata dia, ada iming-iming dari temannya yang mengatakan mudahnya dapat pekerjaan di wilayah ini. Namun belakangan, ternyata kawannya tersebut mengkhianatinya.
Dimasa transisi iman dan finansial itulah, Imron dijangkit stress. Tidurnya tidak jelas, berpindah dari masjid ke masjid. Terkadang hari ini mendadak jadi takmir masjid, esok harinya dia menjadi pedagang bakso. Kadang pula berprofesi sebagai kuli bangunan. Teman yang diharap menjadi teman senasib itu telah mengkhianatinya sejak awal. Uang Imron sebanyak 1 juta lebih yang dititipkan padanya di bawa kabur. Kini, kawan dia itu tak jelas rimbanya.
Ketika dalam kondisi kemaruk itu dia kemudian mulai agak dekat-dekat dengan Tuhan. Hatinya terasa kering kerontang seperti ikan yang dilepas di padang pasir.
"Disinilah pertama kali keinginan masuk pesantren itu membuncah. Pokoknya apapun jadinya, saya harus masuk pesantren," kata pria berparas kontras dengan usianya ini.
Atas kesadaran sendiri, dia akhirnya menjatuhkan pilihannya ke Pesantren Hidayatatullah Malinau. Pekerjaannnya sebagai buruh pengupas kulit udang di pelabuhan ia tanggalkan. Bosnya yang tipikalnya kasar sempat kaget juga dengan keputusan sepihak dari Imron itu.
Pasalnya, Imron belum lama bekerja di pusat penjualan udang milik saudagar Bugis ini, tapi langsung mengajukan 'surat' pengunduran diri beberapa hari kemudian.
"Saya mau masuk pesantren, Pak," katanya pada bosnya. Sang bos tak bisa berbuat banyak untuk menahan Imron. Imron sudah bulat. Sebulat tekadnya untuk segera kembali ke Malinau segera setelah acara pelepasan siang hari itu.
"Saya sudah mantap disini (Pesantren Hidayatullah), apapun posisi dan pekerjaan saya," imbuh Imron.

Bekal Keyakinan Retas Dakwah di Tanah Lahir Setali dua uang dengan Imron, Mukhtar Efendi yang berasal dari Jambi, pun merasakan hal yang sama. Ia juga tak sekolah sampai tinggi. Dia hanya sempat mengecap nikmatnya pendidikan sampai SMA. Mau kuliah dana tak mumpuni. Tak ada pula potensi sumber dana yang bisa dikerok.
Persoalan finansial, aku dia, menjadi perkara klasik yang tak diinginkannya. Namun, kesempatan mengikuti program pendidikan Kuliah Da'i Mandiri yang berlangsung selama 3 bulan ini, membuatnya seakan melepas dahaga berkepanjangan itu.
"Bukan saja ilmu agama, saya juga bangga bisa mendapatkan ilmu terapan semacam ilmu komputer, thibbun nawabi, dan tulis-menulis," ujar pria yang sudah beristri ini.
Efendi baru enam bulan lalu mengenal Pesantren Hidayatullah di Jambi. Dulu mengaji, kata dia, tidak bisa sama sekali. Bahkan akunya, baca Qur'an baginya adalah pekerjaan yang sangat berat sehingga ia sempat putus asa. "Saya pernah bilang, sudahlah memang lidah saya sudah diciptakan seperti ini," kenang dia.
Tapi selama enam bulan tinggal di pesantren, pelan-pelan dia terbiasa dan bisa menamatkan minimal sebulan sekali.
"Dulu, sholat pun seenaknya saja. Sekarang, Alhamdulillah, saya semakin sadar apa tujuan hidup ini. Sholat adalah hal yang prinsip," imbuh Efendi.
"Insya Allah, besok saya berangkat ke tempat tugas. Semoga bisa betul-betul berjuang di sana," tambah pria enerjik yang bertugas di Kabupaten Muaro Jambi, ini. Allahu Akbar..!!
Dakwah, Proyek Besar Dunia Akhirat Ketua Departemen Sumber Daya Insani Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah Abdul Muhaimin dalam sambutan pada acara Wisuda dan Penugasan Da’i Nusantara tersebut, mengatakan orang pintar di Indonesia sudah banyak dan tak akan kekurangan. Tapi menurut dia, hanya sedikit saja yang memiliki kesadaran intelektual ideologis.
”Yakni, mereka yang memiliki kesadaran untuk turut mengambil bagian dalam gerakan dakwah Islam ini. Seperti Anda-Anda inilah yang sedikit itu, Maka, yakinlah antum dengan tugas ini. Allah tak pernah terlambat pertolongannya,” jelas pria yang selalu bersemangat ini.
”Tidak main-main, ini adalah pekerjaan dan proyek besar yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang besar. Bersyukurlah Anda termasuk dalam pilihan itu,” tukasnya. [ai/www.posdai.com]
|