Ngaji Bareng Surah Al-Mulk Ayat 19-21: Taat Kepada Allah

ILUSTRASI: Santri Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dalam sebuah kegiatan pelajaran Diniyah

Berikut ini disajikan fadhilah (keutamaan) surah al-Mulk. Ada 8 riwayat, diambil dari kitab Fadhailul Quran karya al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ayyub bin adh-Dhurais al-Bajali (w. 294 H).

######

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ (19)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ (20)
“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.”

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ (21)
“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?”

Sebagian ‘ibrah bagi kita dari ayat-ayat di atas:

Ayat-ayat ini merupakan kelanjutan ancaman dan peringatan Allah kepada siapa saja yang enggan beriman. Allah mempertanyakan alasan di balik pembangkangan yang mereka pertahankan di hadapan segenap bukti yang tergelar di alam semesta.

Ada tiga persoalan yang disitir di sini, yaitu (1) burung yang terbang di udara, (2) pelindung dalam peperangan, dan (3) pemberi rezeki.

PERTAMA. Burung yang terbang di udara adalah tamsil hidup kita di bumi: keajaiban yang terkepung aneka kondisi ekstrem. Terbang adalah keistimewaan yang menakjuban, tapi andai bukan karena Allah menahannya burung bisa terjerembab jatuh sewaktu-waktu.

Kehidupan di bumi adalah anugerah agung yang dikepung bahaya dari segala arah. Dari ruang angkasa kita terancam paparan radiasi mematikan, tumbukan meteor, dan sebagainya.

Di saat bersamaan, perut bumi membara dan bergejolak, lautan bergelora, daratan terus bergerak, angin berputar, dll.

Andai Allah tidak menahan semua itu dalam batas-batas tertentu, pasti kita telah binasa. Mengapa masih selalu merasa kurang dan belum bersyukur?

KEDUA. Ingatlah sejarah bangsa ini, Indonesia: lebih dari 70 tahun silam, di zaman revolusi. Siapakah yang memenangkan bambu runcing melawan artileri berat, pesawat tempur, senjata api, dan tank?.

Siapakah yang menjayakan rakyat sipil tak terlatih di hadapan balatentara yang baru saja memenangi Perang Dunia II? Dengan pekikan takbirlah jenderal mereka gentar, bahkan tewas.

Apa semua itu karena hebatnya bangsamu, atau karena besarnya pertolongan Allah? Jangan tertipu oleh angan-angan kosong, seperti para durjana yang sok hebat dan mengelabui masyarakat dengan retorika palsunya!

“Ghurur” (غرور) artinya mempercayai sesuatu terjadi berdasar praduga saja, sedangkan fakta sebenarnya tidak demikian. Itulah pikiran kaum kafir dan mereka yang terhijab dari Allah. Apa yang mereka sangka benar dan fakta, sesungguhnya hanya khayalan kosong belaka.

Pada ayat-ayat terdahulu telah diingatkan anugerah-anugerah Allah bagi kita, agar bersyukur dan beriman. Di sini, kembali diulang dalam nada retoris: jika Allah menghentikan rezeki-Nya, siapa yang bisa menggantikan-Nya untuk mencukupi kebutuhan kita?

KETIGA. Pada ayat 21 ini digunakan fi’il mudhori’ (kata kerja bentuk sekarang/akan datang) yaitu “yarzuqukum” (يرزقكم), artinya: “Dia memberi kalian rezeki”, untuk mengisyaratkan makna kontinuitas. Sebab, di antara makna fi’il mudhori’ adalah menunjukkan suatu aktivitas yang sedang & akan terus berlangsung.

Singkatnya, rezeki dari Allah terus mengalir baik kita minta atau tidak, sadari atau tidak, mukmin atau kafir, taat atau maksiat. Itulah mengapa di sini disitir nama Allah “Ar-Rahman”, Dzat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia ini.

“Ar-Rahman” (الرحمن) diulang 4 kali dalam surah Al-Mulk, yaitu pada ayat 3, 19, 20, 29. Ini dikarenakan akutnya penolakan manusia, eksplisit maupun implisit. Dulu bangsa Arab mengakui Allah, tapi menolak jika “Ar-Rahman” dilekatkan kepada-Nya, seperti direkam surah Al-Furqan: 60.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).”

Manusia merasakan dan menikmati keberlimpahan karunia Ar-Rahman, tetapi beribadah dan tunduk kepada “tuhan” yang lain. Mereka tahu itu, tapi — ayat 21 menyebut mereka — “lajjuu fi ‘utuwwin wa nufuur” (لجّوا في عتوّ ونفور). “Lajja” (لجّ) artinya terus-menerus dan bersikeras melakukan suatu perbuatan yang dilarang.

“‘Utuwwun” (عتوّ) artinya terpental/gelisah/tidak tenang berada dalam ketaatan. “Nufuur” (نفور) artinya gelisah/tidak tenang terhadap sesuatu sehingga menjauhkan diri darinya.

Singkatnya, ayat ini mencela perilaku sebagian manusia yang membandel dalam kubangan perbuatan yang dilarang, yaitu tidak istiqomah di jalan ketaatan dan justru menjauh dari Allah, meski mereka sadar dan tetap menikmati pemberian-Nya dengan penuh sukacita. Ironis!

Wallahu a’lam.

____
USTADZ ALIMIN MUKHTAR, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur. Seri lain dari rangkaian tulisan ini dapat dinikmati di kanal Ngaji Surah Al Mulk.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.