Orang Bersyahadat Harus Sibuk Mengurus Kemaslahatan Umat

KETIKA sudah muncul kesadaran tentang urgensi dan konsekwensi syahadat. Maka seseorang itu tidak berhenti untuk berfikir dan bergerak.

Berfikir untuk bagaimana bisa orang banyak juga bisa menikmati syahadat. Akan selalu mencari cara, menemukan metode, membuat media dan pendekatan yang agar banyak orang bisa bersyahadat. Sebanyak banyaknya.

Mereka hanya berfikir tapi juga terus bergerak di tengah masyarakat. Menghadapi segala tantangan orang-orang yang kontra syahadat. Dan tentu sunnatullah nya pasti ada saja halangan, hambatan dan orang-orang yang tidak suka atau memusuhi bersyahadat.

Rasulullah saw sibuk dengan tugasnya menjadi nabi, kepala negara, panglima perang, gurunya para sahabat, imam shalat berjamaah, kepala keluarga, berdakwah, melayani umat dan ibadah kepada Allah.

Sepuluh tahun mengemban amanah kenabian di periode Madinah, 65 kali ada peperangan. Betapa sibuknya beliau, tapi tetap bisa mentarbiyah sahabatnya, mengurus istri dan anaknya. Istrinya bukan hanya satu tapi sembilan.

Subhanallah, hingga menjelang wafat. Rasulullah yang difikirkan dan disebut adalah umatku …umatku.. umatku….. Abu Bakar sibuk menjadi sahabat Rasulullah saw yang paling setia.

Kemana saja menyertai dan putra putri nya juga Sholeh Sholehah, bahkan Aisyah menjadi istri nabi yang cerdas. Siti Khadijah sibuk menguruskan perihal Rasulullah dan menjadi pendokong setia dakwa h. Hartanya habis dan waktunya juga habis di jalan dakwah dan mentarbiyah keluarga nya.

Mus’ab bin Umair sibuk dengan tugasnya berdakwah di Madinah. Dua pertiga penduduk Madinah berislam lewat kesejukan dan kesantunan dakwah Islam beliau. Abu Hurairah sibuk mengumpul hadith daripada Rasulullah saw dan otaknya adalah gudang pengetahuan. Hari ini menjadi rujukan hadis nya.

‘Ibn Sina dan Al-Razi sibuk dengan hafalan Al-quran, kajian-kajian tentang ibadah dan muamalah. Hasil karya-karyanya yang masih segar dan menjadi rujukan hingga kini.

Mereka orang-orang sibuk luar biasa untuk menjayakan Islam dan muslimin. Mereka disibukkan dengan tarbiyah, taklim, ibadah, halaqah-halaqah ilmu, dakwah, perang, infaq dan membangunkan ekonomi untuk dijadikan harta dakwah. Itu semua adalah dalam rangka aktualisasi syahadatnya.

Apalagi memasuki bulan Ramadhan, bertambah kesibukan mereka. Bukan untuk pribadi dan keluarga tapi Islam dan muslimin. Orang-orang kafir juga sibuk dengan program-program anti Islam.

Bagaimana memadamkan api Islam lewat propaganda, konspirasi dan strategi mereka.Mereka berkorban juga untuk keyakinannya yang salah. Luar biasa juga usahanya untuk menguasai dunia dalam segala bidang kehidupan.

Dan sementara ini, mereka berhasil. Itu harus kita akui, Karena mereka lebih serius dan sibuk. Orang Islam yang belum sadar syahadatnya juga sibuk. Sibuk ker ja mencari materi semata dari pagi hingga pagi lagi. Sibuk nonton musik yg suka musik, Sibuk menonton movie-movie yang hobby film.Sibuk berjam-jam bisa bertahan di depan televisi untuk serial drama, olahraga.

 

Ada yang sibuk dengan gadget nya, gamenya atau chatting dengan teman teman nya. Padahal PR nya banyak sekali bagi orang yang telah bersyahadat itu. Para pemilik syahadat harus sibuk dan mengelola waktu dan  terus memberi peringatan kepada orang-orang yang menjadi amanahnya.

Sebagaimana pernah tersampaikan sebelumnya. Bahwa orang bersyahadat tidak mungkin menjadi pengangguran atau kurang pekerjaan. Karena banyaknya pekerjaan yang menuntut mereka terkait syahadatnya. Mestinya tidak ada waktu kosong, tersia-siakan. Seharusnya merasa kurang waktu 24 jam sehari, kurang umur yang diberikan.

Apalagi menanyakan liburan, istirahat, kompensasi, insentif, THR atau apalah bahasanya? Kok bisa berfikir pendek, padahal amanah bidang pendidikan belum berhasil bagi guru atau dosen.

Pendidikan belum menghasilkan insan insan yang Kamil ibadahnya, komitmennya, keilmuannya, moral dan mental’nya. Itu semua perlu terus difikirkan dan dimujahadahkan. Bagi dai, mubaligh juga tentang dakwah yang belum merata, masih pasif menunggu jadwal.

Bagi ekonom, PR tentang kesejahteraan umat Islam yang belum berdaya. Politikus muslim juga seharusnya tidak bisa tidur untuk menenangkan kebijakan kepentingan Islam. Jangan juga hanya sibuk perasaannya saja atau merasa sibuk. Tapi tidak berkarya, hanya dalam angan-angan saja. Atau sibuk menilai kerja orang tapi dirinya tidak bekerja.

Terkadang kita yang jabatan juga belum seberapa, anak buah juga masih terbatas, istri baru satu, anak baru beberapa. Tapi sibuknya sepertinya sudah luar biasa. Sehingga merasa tidak sempat atau tidak optimal mengurus agama ini.

Tidak sempat membaca Al Qur’an, halaqah tak ada waktu, shalat Sunnah rawatib juga tercecer. Itulah kesibukan orang modern hari ini.

Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik lagi. Semoga Ramadhan bisa sibuk dan disibukkan dengan ibadah dan maslahah umat. Semoga kita bisa meraih Muttaqin dalam Ramadhan ini.. Amin ya rabbal Alamin.

ABBUL GHOFAR HADI

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.