Menjemput Lailatul Qidar dengan Protokol Ketat

Oleh: Asih Subagyo

Hari-hari ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Saatnya memenuhi Masjid dengan i’tikaf. Ini salah satu bentuk isolasi mandiri yang efektif dan produktif. Karena tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik.

Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Sebelum ikut i’tikaf, semua peserta dicek dulu kesehatannya. Jika sehat, boleh ikut. Jika tidak fit dilarang gabung. Jika memungkinkan dilakukan rapid test atau PCR test dulu. Selain itu di Masjid juga tersedia hand sanitizer, pengukur suhu instant, dan lain sebagainya.

Artinya hanya jama’ah yang sehat, yang bisa menjadi peserta i’tikaf di Masjid itu. Karena secara fikih, orang yang sedang beri’tikaf dilarang keluar meninggalkan Masjid, kecuali kepentingan yang dibolehkan oleh syar’i. Jika sudah keluar dari Masjid, maka dilarang bergabung i’tikaf di Masjid lagi. Takmir Masjid dan DKM harus tegas. Tidak ada kompromi.

Bagaimana dengan kepentingan ta’jil, ifthar ataupun sahur? Takmir bisa bekerjasama dengan jama’ah sekitar Masjid untuk menyediakan (memasak) untuk kepentingan peserta. Jika tidak bisa, maka dapat bekerjasama dengan warung makan terdekat. Tentu tetap dengan protokol yg ketat. Sehingga peserta i’tikaf terpenuhi asupan gizinya, selain tetap mengkonsumsi madu, kurma, dan lain sebagainya. Dan ini jadi bagian dari pemberdayaan juga.

In Shaa Allah dengan cara ini, semua peserta i’tikaf akan aman dari penyebaran Covid-19. Dan bisa menghidupkan Ramadhan, memakmurkan Masjid, serta menghidupkan malam-malamnya, sambil menjemput lailatul Qodar.

*Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.