Memfungsikan Ajaran Islam

islam

ilustrasi

Oleh Dr. Abdul Mannan

ISLAM diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Alam, karya Allah Ta’ala, adalah bukti kongkrit bahwa Dia yang menguasai semua makhluk.

Manusia yang beriman menyadari sepenuhnya hal ini. Kesadaran tersebut melahirkan sebuah ikrar bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah Ta’ala.

Konsekuensi dari ikrar tersebut adalah menjadikan diri sebagai pengabdi Sang Pencipta dalam bentuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Aturan mengenai hal ini termaktub semuanya dalam al-Qur`an.

Allah mengistimewakan manusia dibanding makhluk lain di alam ini. Karena keistimewaan itulah maka Allah mempercayai manusia sebagai khalifah di bumi ini. Kepercayaan itu tidak diberikan kepada malaikat, jin, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.

Manusia juga diberi tuntunan agar tidak salah menjalankan perannya sebagai khalifah. Tuntunan itu bisa berupa teladan yang diperlihatkan oleh para Nabi dan Rasul, atau berupa wahyu Allah yang dikumpulkan dalam kitab al-Qur`an.

Sayangnya, manusia ingkar terhadap tuntunan tersebut. Manusia memerankan fungsinya sebagai khalifah dengan caranya sendiri-sendiri. Manusia merasa dirinya mampu tanpa harus dibimbing oleh wahyu. Akibatnya, musibah terjadi di mana-mana. Sejak zaman Nabi Nuh hingga saat ini musibah datang silih beganti.

Apakah ada jaminan bahwa dunia akan terhindar dari musibah jika ajaran Allah  diterapkan dengan seksama? Jawabnya ya. Allah menjanjikannya dalam al-Qur`an.

Namun, sampai saat ini belum ada satu pun wilayah atau negara yang menerapkan secara total al-Qur`an dan as-Sunnah. Tak ada yang menempatkan al-Qur`an sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.

Lantas, bagaimana konsekuensi iman yang kita deklarasikan? Selevel apakah deklarasi keimanan yang kita artikulasikan?

Pertanyaan ini perlu kita jadikan sarana untuk mengevaluasi diri agar benih kebangkitan iman yang menyelinap dalam rongga dada mampu mendorong kita untuk bertanding ke gelanggang menegakkan inti pesan al-Qur`an.

Al-Qur`an Surat al-Mudatsir mengajak kepada individu Mukmin agar segera menyeru masyarakat kepada kebenaran. Surat ini mengajak orang-orang yang masih ”berselimut” di tengah problema umat agar segera bangkit menyusun strategi dakwah.

Rekrutmen kader dakwah harus terus digalakan. Cara perekrutan dan pembinaan mereka harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah Allah. Kualitas mereka juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Merekalah yang akan menjadi basis penerapan al-Qur`an sebagai konsep terbangunnya peradaban Islam.

Lebih dari itu, jiwa yang dilandasi Surat al-Mudatsir ini harus dapat mempengaruhi lingkungan di mana ia berada. Ia harus mengubah lingkungan yang tidak akrab dengan al-Qur`an menjadi lingkungan yang intim dengan al-Qur`an. Lingkungan  tersebut kemudian akan menjadi magnet bagi lingkungan yang lebih luas, termasuk negara.

Manhaj Nubuwah (Sitematika Nuzulnya Wahyu) harus bisa melahirkan generasi qur`ani. Jika tidak bisa, maka yang salah bukan manhaj-nya tetapi pelaku manhaj itu. Bisa saja telah terjadi salah urus.

Jarum jam terus berputar. Manusia menghabiskan waktu dengan beragam aktivitas. Sedang Allah senantiasa menilai manusia, seberapa produktifkah mereka mencari bekal untuk kehidupan akhirat.

Produktivitas seseorang bukan ditimbang dari hartanya yang menumpuk, melainkan sebesar apa karya manusia dalam mengimplementasikan al-Qur`an dalam kehidupannya sehari-hari.

”Ibda’  binafsik!” kata Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Awali dari dirimu. Jangan tunggu orang lain yang melaksanakan pekerjaan mulia ini terlebih dahulu. Tegakkan Islam di rumah masing-masing. Tularkan ke masyarakat sekitar. Lambat laun Islam akan mendunia. Wallahu a’lam.

____________

Dr. H. Abdul Mannan, SE, MM, penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini juga telah dimuat di majalah nasional Suara Hidayatullah edisi Juni 2010.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.