Telah Wafatnya Ustadz Usman Asy’ari dan Jejak Keteladanan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah kembali kehilangan kader terbaiknya. Adalah Ustadz Usman Asy’ari, sosok dai yang penuh dedikasi, telah meninggalkan kita semua pada tanggal 12 Februari 2021 di RS Pertamina, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jum’at sore.

Jiwa raganya berpulang ke kekharibaan Ilahi Rabb yang Maha Pengasih. Namun, tidak dengan jejak perjalanannya yang menjadi warisan bagi anak dan generasi setelahnya.

Hal itu seperti dikemukakan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust H Abdurrahman Muhammad, ketika menyampaikan sepatah kata mengenang pria murah senyum yang wafat di usia 68 tahun tersebut.

“Saya mengenal beliau dengan keramahan dan kebaikannya. Beliau pejuang dakwah yang tak kenal lelah dan ahli ibadah,” katanya di Masjid Ar Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Sabtu shubuh (13/2/2021).

Ia menyebut almarhum Usman Asy’ari telah mencontohkan apa yang telah menjadi nilai luhur daripada gerakan Hidayatullah selama ini, yaitu meneruskan warisan kebaikan dengan menduplikasi kebaikan demi kebaikan sebagaimana telah ditelandankan oleh Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan orang-orang shaleh.

“Intinya Hidayatullah ini adalah menduplikasi kebaikan dan mengekspansi kebaikan tersebut dimanapun berada, itulah yang dilakukan Ustadz Usman Asy’ari. Kesalehannya ditunjukkan dengan konsistensi ibadahnya. Inilah yang perlu kita miliki dan kita bawa kepada Tuhan,” kata Ust Abdurrahman.

Beliau menjelaskan, dua hal penting tersebut, menduplikasi kebaikan dan mengekspansinya, harus terus dilakukan dan dikuatkan selalu. Kedua spirit itulah yang selama ini menjadi nilai Hidayatullah hingga dapat berkhidmat secara luas untuk umat.

“Menduplikasi adalah mencontoh kesalehan orang orang shaleh. Kita harus mencontoh pengorbanan beliau. Kita mencontoh kebaikan dan memberikan contoh contoh kebaikan, melakukan ekspansi. Begitulah Hidayatullah,” tukasnya seraya menekankan keutamaan daripada gerakan keteladanan ini.

Beliau mengenang Ustadz Usman Asy’ari sebagai figur teguh yang tekun memenuhi panggilan dakwah. Bahkan tak ketinggalan suadara-saudaranya juga turut diajaknya bergabung ke Hidayatullah sebagai wadah perjuangan dalam beramal shaleh.

“Sesuatu yang sangat membahagiakan adalah ketika menyaksikan anak anak kita melaksanakan ibadah, ramah, tekun dan bergaul dengan sesamanya dengan baik. Kalau orang yang terdekat dengan kita kelihatan kesalehannya, itulah yang membahagiakan kita. Merekalah yang akan mendoakan kita,” imbuhnya.

Beliau juga menyatakan rasa duka atas wafatnya pejuang dakwah serta ayah dari 8 anak dan 25 cucu itu. Ia berpesan, semoga figur almarhum bisa menjadi contoh kebaikan. “Beberapa hari terakhir ini saya rasa sakit-sakit juga. Tapi selama kaki masih berjalan, tetap bergerak,” pungkasnya.

Teladan

Selain sebagai dai, almarhum Usman Asy’ari juga adalah potret ayah teladan, setidaknya demikianlah dirasakan oleh anak-anaknya. Salah satunnya, Muzakkir Usman S.S. M.Ed, yang mengaku mendapat berkah luar biasa memiliki sosok ayah penyayang yang menjadi teladan bagi mereka.

“Beliau sosok ayah yang sangat berkesan. Kalau diingat ingat, tidak pernah beliau memukul atau menjewer anak anaknya,” kata Muzakkir dalam sambutan takziyah sebelum pemakaman mewakili keluarga di Masjid Ar Riyadh.

Bagi Muzakkir, sang ayah tidak saja meninggalkan keluhuran pekerti mengenai peran kepengasuhan yang mengesankan, melainkan juga mewariskan spiriti dakwah yang sangat membekas baginya.

Bukan saja kepada anak-anaknya. Saudara saudara kandung almarhum juga punya kesan mendalam pada figur almarhum selama kebersamaan mereka di Kampung Baru Ujung, desa tempat mereka tumbuh hingga kemudian pindah ke Gunung Tembak.

“Almarhum yang banyak mengenalkan saya dan pada saudara-saudara saya Islam yang akhirnya juga bergabung di Hidayatullah,” kata Baharuddin, adik kedua almarhum dari 4 bersaudara.

Debut dakwah Usman Asya’ari dimulai sejak muda, tepatnya usai menuntaskan studi di Pendidikan Guru Agama (PGA) Balikpapan. PGA kala itu adalah tujuan favorit melanjutkan studi setamat SMP karena dianggap menjanjikan kepastian jaminan masa depan dan bentang jembatan untuk berkarir menjadi pegawai negeri.

Ketika umumnya lulusan PGA kala itu menjadi prioritas utama diterima di bursa kerja dengan berbagai tunjangannya, Usman malah memilih turun ke gelanggang membersamai Abdullah Said muda dan para dai senior lainnya. Memenuhi tugas dakwah dari dusun ke dusun.

Kebersamaan itu kian menginjeksi semangatnya untuk hidup di jalan dakwah. Intensitas dakwahnya pun semakin tinggi, bahkan siap setiap saat memenuhi panggilan tugas hingga ke daerah-daerah yang sukar dijangkau.

Usman Asy’ari lahir dan besar di Balikpapan. Awal dia mengenal Hidayatullah karena sering berinteraksi dan mengikuti ceramah ceramah Abdullah Said. Ketika itu, ia terkesima dengan pidato Said, yang, menurutnya, begitu menyentak hatinya.

“Beliau selalu mengajak kita ke Hidayatullah untuk berjuang, ini yang menarik bagi saya. Artinya, ada wadah, ada sarana, yang betul betul kita dapat melakukannya yang namanya berjuang itu,” kata almarhum dalam salah satu lansiran siniar di kanal YouTube LPPH Gunung Tembak.

Almarhum Usman Asy’ari mengaku, dirinya sering mendengarkan banyak ceramah menarik dari banyak ulama dam muballigh. Namun, dalam ceramah itu ajakan berjuang tidak ia temukan, “Nah, di Hidayatullah itu saya dapatkan,” imbuhnya.

Hingga usia 68 tahun, gairah dakwah Usman tetap menggebu-gebu. Tidak pernah pula menolak tugas mengisi taklim jika diminta. Saban Jum’at pun ia selalu mendapatkan jadwal menjadi khatib, termasuk di bulan Ramadhan yang biasanya volume permintaan kian meningkat.

Salah satu kawasan titik dakwah yang menjadi binaan rutin Usman adalah bilangan Gunung Bubukan, yang kala itu masih berupa belukar yang sukar ditembus dengan kendaraan. Ia juga kerap ditugaskan melakukan pembinaan masyarakat majelis taklim rutin di daerah Kariangau yang sekarang terminal peti kemas.

Dengan menggunakan sepeda motor dan ditemani anak laki-lainya yang bernama Muttaqin, Usman Asy’ari kerapkali berjibaku dengan beratnya medan jalan yang dilalui. Rintangannya memang tak mudah, jalanannya masih setapak dan kian menantang bila usai diguyur hujan.

Muttaqin sendiri, dalam buku Mencetak Kader, adalah anak warga pertama yang lahir di kampus perintisan Hidayatullah Gunung Tembak yang masa itu masih berupa rerimbunan semak belukar dan bangunan pondokan ala kadarnya.

Selain itu, Usman Asy’ari juga diketahui memiliki kegemaran dalam menulis. Ia malahan sempat mengoleksi banyak ceramah Abdullah Said yang ditranskrip dalam bentuk catatan tulisan tangan. Namun nahas, tumpukan catatan yang tersimpan rapi tersebut hilang tanpa bekas kala ia mengalami suatu musibah kebakaran.

Kesenangan literatif Usman tersebut ditandai dengan kebiasannya mempelajari sejarah melalui banyak buku bacaan yang dilahapnya. Tak heran, ia menjadi salah satu kader yang sering diajak berdiskusi oleh para perintis. Bahkan, terkadang dalam sehari penuh fokus berdiskusi mengkaji problematika umat dipandu langsung oleh Ust Abdullah Said.

“Kegemaran beliau adalah dakwah dan tambahan nama belakang beliau, Asy’ari, itu sebenarnya karena terinspirasi nama ulama yang beliau ikuti sejarahnya,” kata Muzakkir.

Dalam banyak ceramah yang dibawakan Usman Asy’ari, tak jauh jauh dari topik iman dan tauhid. Ceramahnya banyak memuat ajakan kepada perbaikan diri (muhasabah) dan seruan penyucian jiwa (tazkiyatun nufs). Pembahasan dibawakan dengan bahasa yang lugas, ringan, disajikan secara padat, mengggugah dan selalu menyentil sisi terdalam dari kemanusiaan.

Disamping itu, seperti banyak diutarakan oleh orang yang mengenalnya terutama karib terdekatnya, Ustadz Usman Asy’ari enggan betul membebani orang lain. Sebaliknya, ia memiliki kepedulian yang tinggi, bahkan dalam kondisi sakit.

Sekitar 2 pekan lebih ia dirawat di rumah sakit karena sejumlah sakit komplikasi. Di tengah berbaring lemah, ia masih sempat menanyakan kabar dakwah dan keadaan sahabat-sahabatnya.

Muzakkir mendampingi penuh sang ayah semasa rawat jalan dan selama dalam penanganan medis di rumah sakit. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan ia melayani segala kebutuhan dan keperluannya di masa berat tersebut. Ia pun menyaksikan detik detik terakhir kepulangan dai yang selau riang ini menuju pangkuan Ilahi untuk selamanya.

“Mohon maaf jika ada salah kata, salah sikap, dan jika ada kewajiban beliau yang tersisa yang tidak kami ketahui, mohon disampaikan kepada kami agar perjalanan beliau semakin indah,” kata Muzakkir menutup sambutannya mewakili keluarga besar.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi. (ybh/hio)