Isu Terorisme Meresahkan Dai, Usulkan Deradikalisasi Preventif

Umat Islam berihadah di masjid / IST

Umat Islam berihadah di masjid / IST

Hidayatullah.or.id — Manajer Program dan Advokasi Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) Muhammad Samani Harjo, menyatakan isu terorisme yang berkembang saat ini ikut meresahkan dai, khususnya mereka yang berada di wilayah rawan konflik.

“Peran para dai dengan penuh sukarela dalam dakwah untuk memajukan pembinaan umat sangat terganggu dengan adanya isu terorisme ini. Penampilan dan aktivitas mereka kerap dicurigai sebagai pelaku atau kaki tangan teroris,” kata Samani dalam perbincangan dengan Hidayatullah.or.id, Rabu (15/01/2014).

Ia menjelaskan, meskipun para dai bukan teroris dan sama sekali tidak berkaitan dengan aksi teror, tetap saja ada pandangan yang sebelah mata terhadap mereka.

POSDAI adalah adalah lembaga dakwah yang menaungi kiprah para dai yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Secara legal formal, Pos Dai berbadan hukum Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta dengan Akte Notaris No. 20 Tanggal 29 Maret 2012, SK Menkumham RI No. AHU – 2540.AH.01.04 Tahun 2012.

Lembaga otonom yang menaungi kiprah dai berada di bawah organisasi Kemasyarakatan (ormas) Hidayatullah ini memiliki program santunan untuk Dai, pelatihan, dan pengiriman dai secara rutin ke berbagai wilayah nusantara yang masih kekurangan tenaga dai pembangunan.

Dai sebagai penerang umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kerap dicurigai hanya karena mereka berjenggot, bercelana cingkrang, berjubah, berpeci, yang sudah menjadi penampilan sehari-hari dai, baik di kota maupun pedalaman.

Para dai juga kerap memakai nama-nama yang berasal dari bahasa Arab, seperti Muhammad, Ahmad, Abdul, dan lainnya. Nama-nama seperti itu akan menjadi masalah dalam kepengurusan dokumen, seperti visa.

Yang menyedihkan juga, kata Samani, aktivitas sehari-hari dai juga kerap diidentikkkan dengan kaitan terorisme. Padahal shalat berjamaah di mushala atau masjid adalah kewajiban setiap muslim. Termasuk mengisi pengajian, mengajarkan anak-anak membaca Alquran, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, juga dianggap oleh mereka yang Islamphobia sebagai aktifitas untuk menyuburkan terorisme.

“Stigma-stigma negatif itu terutama diantar oleh arus pemberitaan di media yang terlampau massif, tapi di waktu yang sama alpa untuk mengetengahkan verifikasi dan keberimbangan,” tegas Samani.

Padahal sejatinya, melalui doktrin ukhuwah dan tasamuh (toleransi) yang tertanam di jiwa mereka, para dai mendakwahkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan negara. Merekalah yang berdiri di garda terdepan dalam menanamkan nasionalisme dan kearifan agama.

Namun sayangnya, kata dia, hal itu terhapuskan karena adanya kecurigaan terhadap dai seperti menghembuskan stigma terorisme. Isu terorisme ini dinilai dia sangat meresahkan dan penyebarnya tidak bertanggung jawab.

Pihaknya mengimbau para dai untuk tetap konsisten dalam berdakwah. Mereka harus tetap menyebarkan rahmat Allah kepada seluruh rakyat Indonesia. Mereka diharapkan meminta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat (wasta’inu bi ash-shabri wa as-shalah).

Sementara itu, Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Sulawesi Selatan Komisaris Besar Polisi Baharudin Djafar belum lama ini menyatakan, kecurigaan-kecurigaan yang merugikan para dai adalah bagian dari cobaan.

“Allah menguji konsistensi mereka dalam berdakwah,” ujar Baharuddin saat pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ormas dakwah Wahdah Islamiyah di Makassar belum lama ini.

Baharuddin menyebutkan sejarah Rasulullah dahulu ketika mendakwahkan Islam pertama kali. Rasulullah, kata Baharudin, dilempari kotoran dan dipukuli. Sampai akhirnya, malaikat mendatangi Beliau sambil menawarkan, apakah mereka yang menzalimi itu harus dimusnahkan.

Namun, Rasulullah mengatakan, mereka belum mengetahui apa-apa. “Nanti mereka akan tobat. Kalau tidak, anak cucu dan keturunan mereka nantinya pasti akan bertobat,” jelas Baharudin menuturkan sejarah Rasulullah yang disambut takbir ribuan peserta mukernas.

Menurut Baharudin, para dai tidak perlu khawatir dengan isu seperti itu. Sebab, nanti masyarakat akan memahami dengan sendirinya mana yang teroris dan mana yang bukan.

“Polri melalui Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror hanya akan menindak mereka yang terlibat aksi teror,” ujarnya.

Upaya kontra terorisme yang digalakkan pemerintah melalui Polri perlu didukung karena semata-mata untuk menciptakan rasa aman di masyarakat. Namun Samani menilai, upaya kontra terorisme yang dilakukan seharusnya tidak serampangan dengan cara membunuh tanpa bukti-bukti riil jika terduga benar adalah teroris.

“Kontra terorisme dan deradikalisasi ini seharusnya melibatkan semua elemen masyarakat dengan mengedepankan prevensi dan komunikasi. Jangan sampe masih terduga tapi selalu tembak mati, ini menuru saya tidak menyelesaikan masalah, malah dapat menumbuhkan bibit kebencian baru,” ujar Samani mewanti-wanti seraya memungkasi perbincangan. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.