Hidayatullah dan Reformulasi Pendidikan Islam

Prof Dr Imam Suprayogo

Prof Dr Imam Suprayogo

PADA hari Rabu, tanggal 25 Juni 2014, saya diundang oleh Hidayatullah dalam forum dialog dengan Pimpinan, kepala Sekolah, dan para guru di Depok. Beberapa tokoh lain yang diundang dalam dialog itu, antara lain Prof. BJ Habibie, Prof. Arief Rachman Hakim, Abraham Samad, dan lain-lain.

Pimpinan dialog melontarkan beberapa hal yang dianggap perlu untuk dibicarakan pada acara itu, antara lain tetang bagaimana melahirkan pemimpin Islam di masa depan, lembaga pendidikan semacam apa yang mampu melahirkan kualitas manusia yang ideal.

Dan termasuk juga ingin melihat apa yang kurang tepat dari pendidikan yang dikembangkan selama ini hingga tidak mampu secara maksimal melahirkan pemimpin yang handal.

Selaku salah orang yang diundang untuk memberi masukan, saya menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang seharusnya dilihat dan bahkan selanjutnya direformulasi terkait dengan pendidikan Islam yang selama ini dikembangkan.

Pendidikan Islam selama ini masih mengedepankan pada kuantitas, simbol, dan asesoris daripada substansi pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam seharusnya mengedepankan mutu atau kualitas. Islam sebenarnya identik dengan kualitas. Mengikuti tuntutan Islam, artinya adalah menjalani hidup dengan mengedepankan kualitas.

Kualitas hidup yang dimaksudkan tersebut dapat dilihat dari sumber ajaran Islam itu sendiri, yaitu al Qur’an dan hadits Nabi, yang kemudian seharusnya dijadikan pembiasaan sehari-hari.

Al Qur’an dan hadits Nabi adalah merupakan tuntunan hidup, yang jika dijalankan dengan sepenuhnya akan mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, kedamaian, baik di dunia maupun di akherat.

Islam membimbing agar umat manusia mencintai ilmu pengetahuan, meraih kehidupan yang berkualitas, menegakkan keadilan, selalu menjalin komunikasi dengan Tuhan (utamanya lewat kegiatan ritual) dan sekaligus juga dengan manusia (silaturrahim), serta selalu bekerja secara profesional atau beramal shaleh.

Beramal shaleh atau bekerja secara profesional, dalam Islam dipandang sedemikian penting, hingga secara tegas disampaikan oleh Nabi, bahwa segala urusan yang diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Saya juga menyampaikan contoh sederhana lainnya, misalnya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai seorang muslim, sejak bangun pagi, membiasakan untuk bersuci dengan berwudhu, datang ke masjid memenuhi panggilan adzan, shalat subuh berjama’ah bersama orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar masjid, membaca atau mengucapkan bacaan yang indah dan mulia.

Melalui kegiatan rutin pada setiap hari itu, umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari sudah dibiasakan bersuci, menjalin hubungan dengan Tuhan lewat kegiatan shalat subuh, dan bahkan kegiatan itu dilakukan secara berjama’ah atau selalu dibangun kebersamaan.

Demikian pula, sejak pagi bangun tidur itu, sebagai seorang muslim dibiasakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat indah, seperti takbir, tahmid, dan tasbih. Kata-kata Allahu akbar, yakni Allah Maha Besar, Maha Suci, dan Segala puji bagi Allah, selalu diucapkan sejak bangun di waktu subuh hingga tidur kembali.

Hal itu belum termasuk surat al Fatihah yang selalu dibaca berulang-ulang, surat-surat pendek di dalam al Qur’an, dan lain-lain. Semua itu, manakala direnungkan secara mendalam, adalah sebuah sarana, media, pembiasaan, dan bahkan pembudayaan perilaku terpuji yang akan menghasilkan pribadi manusia berkualitas.

Selain itu, saya menyampaikan bahwa Islam tidak cukup hanya dipahami dari aspek ritualnya. Selama ini, yang tampak bahwa seolah-olah, Islam hanya sebatas agama yang hanya berisi tuntunan berdzikir, shalat, puasa, zakat, dan haji.

Demikian pula, bahwa keilmuan Islam sering sebatas dipahami hanya meliputi syari’ah, ushuluddin, dakwah, tarbiyah dan adab. Selain itu, kurang dianggap sebagai bagian dari perintah al Qur’an untuk mempelajarinya. Apalagi menyangkut teknologi, Islam dianggap tidak terkait dengan persoalan itu.
Akibatnya, umat Islam menjadi kalah bersaing dengan umat lainnya. Islam dianggap hanya hal terkait dengan tempat ibadah, semisal masjid dan kegiatan ritual. Pemahaman yang demikian itu, sudah pada saatnya untuk direnungkan kembali, termasuk tatkala berkeinginan meningkatkan kualitas pendidikan Islam.

Umat Islam, menurut hemat saya, tidak boleh tidak, harus mengusai sains dan teknologi. Sebagai penyandang sebutan yang indah, yaitu ulul albaab, umat Islam selain harus selalu ingat Allah, maka juga harus merenungkan penciptaan langit dan bumi.

Perintah itu semestinya diimplementasikan dalam mengkaji berbagai jenis ilmu pengetahuan, yaitu ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah, bahasa dan sastra dan lain-lain.

Sebenarnya Allah bisa dikenal lewat jalan memahami ciptaan-Nya. Sebagai ciri ulul albaab lainnya adalah selalu meyakini bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia. Kalimat itu menjadi lebih jelas tatkala dimaknai bahwa, ciptaaan Allah berupa apa saja menjadi tidak sia-sia, atau bahkan fungsinya menjadi sangat jelas manakala telah diolah melalui teknologi.

Oleh karena itu, seorang menjadi tepat disebut sebagai ulul albaab manakala yang bersangkutan selalu mengingat Allah, memikirkan ciptaan-Nya, dan berhasil mengambil manfaat seluas-luasnya dengan mengembangkan teknologi.

Berangkat dari padangan tersebut, saya memberikan masukan bahwa untuk membangun manusia unggul di masa depan, maka harus segera melakukan langkah-langkah strategis dan mendasar, misalnya mereformulasi konsep pendidikan Islam, menata manajemen dan leadershipnya, membangun jaringan yang luas, memanfaatkan berbagai peluang yang ada, dan lain-lain.

Konsep pendidikan Islam harus dirumuskan atas dasar al Qur’an dan hadits nabi maupun tuntutan zaman sekarang dan mendatang. Ayat-ayat quwliyah dan kawniyah harus dikaji secara bersama-sama. Selain itu, kebersamaan dan kesatuan umat Islam harus diperkokoh agar semua potensi yang ada berhasil dimanfaatkan seluas-luasnya dan tidak ada yang sia-sia. Wallahu a’lam.

_____________
Prof. Dr. Imam Suprayogo, penulis adalah guru besar dan mantan Rektor UIN Maliki Malang. Tulisan ini juga dimuat di laman pribadi beliau di www.imamsuprayogo.com

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.