Sebuah Refleksi Level Cinta

cintaADALAH hal yang alamiah, manakala seseorang diliputi rasa cinta, maka pengorbanan atas nama cinta menjadi sebuah kewajaran bahkan kewajiban. Rumus cinta memang sederhana: Tiada cinta tanpa pengorbanan. Tapi daya ledaknya luar biasa.

Lalu, pengorbanan manakah yang akan mampu melahirkan cinta sejati? Dan sebaliknya, cinta seperti apakah yang mampu melahirkan pengorbanan dengan nilai tertinggi, suci nan abadi?.

Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya, Cinta dalam Pandangan Islam, menyebutkan bahwa cinta dapat dibagi menjadi 3 tingkatan. Ketiga tingkatan itu adalah cinta tingkat rendah, cinta tingkat menengah, dan cinta tingkat tinggi. Mari kita bahas.

Pertama, adalah cinta terendah yang meliputi cinta 3 “ta”, yaitu cinta terhadap harta, tahta, dan wanita (pria buat wanita) yang didasari oleh tuntutan hawa nafsu semata.

Adapun praktek cinta terendah yang masuk dalam golongan ini adalah orang yang menghalalkan segala cara dalam mendapatkannya dan menghalalkan semua hukum dalam memanfaatkannya. Contohnya, seorang pejabat yang menyelewengkan harta kekayaan negara untuk memenuhi permintaan dan mengambil hati kekasih gelapnya.

Kedua, cinta tingkat menengah yakni cinta terhadap sesama ciptaan Allah Ta’ala. Cinta kedua ini bersifat horizontal di mana seseorang mencintai sesama manusia dan rasa kasihnya terhadap alam semesta dan segala isinya. Cinta kepada kedua orangtua, saudara, keluarga, sahabat, tetangga, dan lain sebagainya.

Dalam kesehariannya, cinta ini merupakan refleksi dari kekuatan hati nurani yang kemudian dijalankan sesuai dengan landasan-landasan syariat Islam. Cinta kasih seorang ibu merupakan contoh konkret dari cinta kedua ini. Rasa itu tergambar dalam pengorbanan seorang ibu untuk menjaga, mendidik, mengasuh, dan mengasihi belahan jiwanya sejak dari masih dalam kandungan hingga si anak mampu hidup mandiri.

Dan, ketiga, cinta tingkat tertinggi. Yakni kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt berfirman :

Katakanlah; “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah 24)

Pengorbanan yang terlahir dari cinta tertinggi ini juga tidak tanggung-tanggung. Contoh ini datang dari Bapak Nabi-Nabi (Abul Anbiya), Khalil Allah, Nabiyullah Ibrahim As. Pengorbanan yang sangat fenomenal.

Saking fenomenalnya, maka Allah Ta’ala mengapresiasi pengorbanan figur Ibrahim dengan sebuah peringatan yang selalu dirayakan tiap tahun dan disambut gembira oleh seluruh umat Islam sesaentro jagad raya, Hari Raya Idul Adha.

Betapa tidak, seorang ayah yang begitu mendambakan hadirnya seorang buah hati justru diharuskan untuk ridho “menghabisi’ anaknya sendiri. Nabi Ibrahim yang sudah bepuluh tahun menikah dengan Siti Sarah tidak kunjung mendapatkan keturunan hingga usia mereka mulai menapaki masa-masa senja.

Tetapi, rencana Allah berkata lain. Ternyata, Ismail sang dambaan hati lahir dari isteri kedua, Siti Hajar. Berpuluh tahun menunggu masa-masa indah, Nabi Ibrahim justru mendapatkan perintah untuk meninggalkan anaknya di sebuah lembah Bakkah yang jangankan susah, tanda-tanda kehidupan pun tidak ada di sana.

Dengan perasaan setengah hidup Sarah yang ditinggalkan Ibrahim mencari cara untuk menghidupkan Ismail kecil. Sehingga datang jua mukjizat berupa air zam zam, air berkah nan suci.

Pengorbanan Nabi Ibrahim tidak cukup sampai di situ. Ketika Ismail sudah menginjak masa remaja, masa-masa ketika di mana seorang anak laki-laki terlihat gagah perkasa, Nabi Ibrahim harus ikhlas kehilangan belahan jiwanya berkat mimpi yang ia dapatkan. Mimpi yang menjadi peringatan tanda perintah dari Allah Azza Wajalla atas rasul pembawa risalah-Nya.

Maka, tatkala mimpi dan perintah “gila” ini ia sampaikan kepada Ismail, apakah Ismail lantas menolaknya mentah-mentah? Tidak, justru ia jawab dengan tenang:

“Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 102).

Tatkala Nabi Ibrahim sudah benar-benar ikhlas menyembelih anaknya, pisau yang tidak mampu merobek sedikit pun kulit Ismail itu ternyata menjadi akhir ujian kepada kedua Nabi Allah tersebut. Mereka lulus dari ujian besar itu lalu Allah menganugerahkan domba besar kepada keduanya untuk dijadikan kurban.

Allahu Akbar! Sungguh mulianya pengorbanan yang tidak kenal batas cinta tersebut.

Pertanyaannya sekarang, maka benarkah kita cinta kepada Allah Ta’ala sebagaimana cinta Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam kepada-Nya? Kalau iya, lalu apakah pengorbanan yang telah kita lakukan sebagai bukti ketulusan cinta kita kepada Allah Robbul Izzati?.

Memang benar, jika pengorbanan kita tidak akan setinggi Nabi Ibrahim. Harta yang kita miliki tidak sebanding dengan harta yang telah diinfakkan Ummul Mukminin, Khadijah Binti Khuwailid, untuk bantu menghidupkan dakwah Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam.

Dan, mungkin air mata kita belum pernah mengalir sepertimana Khadijah menangis sambil berkata kepada Rasulullah:

“Suamiku, tiba-tiba saja aku teringat bahwa seluruh harta kekayaan yang kumiliki sudah habis. Tidak ada lagi yang bisa aku persembahkan sebagai infak di jalan Allah, padahal dakwahmu belum lagi selesai. Itu yang membuatkan sangat sedih …”

“Karena itu wahai suamiku, aku punya sebuah pinta untukmu. Kelak aku akan wafat dan ruh-ku kembali kepada Allah Ta’ala. Dan di dalam tanah yang akan tersisa dari jasadku hanyalah tulang-belulang belaka. Jika pada saat itu engkau membutuhkan sebuah rakit, untuk menyeberangkan dakwahmu ke negeri nun jauh di sana, maka galilah kembali kuburku, dan rangkailah sebuah rakit dari tulang-belulangku yang tersisa …”

Bahkan, mungkin kita juga belum sanggup untuk mempertaruhkan nyawa sebagaimana Ali Bin Abi Thalib pernah melakukannya di malam Rasulullah meninggalkan Mekah bersama Abu bakar As Siddiq.

Tapi, harapan itu selalu ada. Perjuangan yang sungguh-sungguh dalam mengemban amanah dakwah merupakan jalan yang tepat untuk kita menyalurkan pengorbanan yang sebesar-besarnya pula demi satu cinta, lillahi ta’ala. Menyebarluaskan ajaran agama Allah kepada seluruh umat manusia sebagai kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin.

Terus berfikir, bekerja, dan berkarya demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Menghujamkan semangat membangun peradaban Islam sebagai implementasi iman dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsih), keluarga, dan seluruh masyarakat dunia. Berat, memang, tapi sangat mulia!

Sebagai bahan muhasabah, mari kembali kita bertanya pada diri sendiri. Apakah benar kita cinta kepada Allah Ta’ala? Kalau sungguh rasa itu bisa dikatakan cinta, maka apakah sudah ada pengorbananmu yang dapat kau andalkan sebagai jawaban atas cinta itu dihadapan-Nya kelak? Hmmm… Tepuk dada, tanya selera!. []

_____________
Mazlis Mustofa 2MAZLIS BM, SE, penulis adalah Ketua PW Syabab Hidayatullah Jabodebek

 

 

 

 

 

 

 

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.