Blokir bak Iklan gratis, Tak Ada Guna Bicara ISIS

Jelang Silatnas Hidayatullah 4Hidayatullah.or.id — Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebetulnya telah lama bermitra. Karena itu, pemblokiran situs hidayatullah.com atas permintaan BNPT beberapa waktu lalu sempat membuat kaget. Beginilah keseharian ponpes setelah kejadian itu.

=====

PINTU gerbang Ponpes Hidayatullah di Jalan Mulawarman RT 25 Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, hanya dibuka separuh. Jalan utama sebesar 20 meter menjadi pembuka yang menghubungkan ke seluruh sudut ponpes. Total luas 120 hektare, dengan jumlah santri seribu orang lebih.

Di samping kiri jalan utama berjejer ruka dan sebuah mini market. Di sisi kana, masjid utama sedang direhab. Ola tumpukan batu bata di dinding masjid dua lantai tersebut masih terlihat. Belum diplester ketika Kaltim Post bertandang Senin (13/4) tadi. Suasana ponpes cukup sepi. Seluruh santri dan ustadz berkumpul di dalam masjid utama.

Sudah menjadi agenda wajib, setelah shalat Zuhur berjamaah, dilanjutkan halaqoh membuat lingkaran atau kelompok belajar yang kegiatannya diisi membaca dan menghapal al-Qur’an. Tidak lama, hanya setengah jam. Tapi rutin setiap selesai sholat lima waktu.

Pesantren yang didirikan Ustadz Abdullah Said pada 1973 itu kembali “naik daun” setelah pemblokiran kontroversial terhadap 19 website Islam. Situs-situs Islam itu tak bisa diakses sejak akhir Maret hingga beberapa kembali dibuka pada 8 April lalu.

Termasuk hidayatullah.com, bersama beberapa situs dakwah lain, seperti panjimas.com, muslimdaily.com, kiblat.net, atau dakwahmedia.net. mereka dianggap menyebarkan ide radikalisme dengan membenarkan metode kekerasan mengatasnamakan agama.

Padahal hidayatullah.com merupakan situs resmi lembaga pendidikan dan dakwah yang memiliki 250 ponpes di seluruh Indonesia ini. Materinya jauh sekali dari yang dituduhkan.

Kaltim Post menunggu di kantor Yayasan Ponpes Hidayatullah, sekitar 20 meter dari masjid utama. Ketua Bidang I Yayasan, Abdul Ghofar, menuruni anak tangga masjid utama, lalu menghampiri harian ini. Ia mengenakan celana kain hitam, baju muslim putih dan peci putih.
Perawakannya kurus dengan tinggi sedang. Kumisnya tipis dan rambut tumbuh merata di dagu. Dengan ramah ia membuka percakapan dengan salam.

“Keseharian ponpes, ya, seperti ini. Setelah shalat Shubuh, halaqoh, kemudian sarapan, dilanjutkan pendidikan formal. Baik jenjang MI, MTs, MA, maupun perguruan tinggi. Istirahat shalat Zuhur, lanjut halaqoh, dan istirahat siang. Setelah shalat Ashar, halaqoh, kemudian kegiatan olah raga sampai Maghrib. Setelah shalat Maghrib dilanjutkan taklim. Disambung shalat Isya, witir, belajar kelompok, lalu istirahat,” terang Ghafar.

Tak ada yang berubah meskipun pemblokiran situs hidayatullah.com. Kabar mengenai pemblokiran telah sampai ke kantor pusat di Gunung Tembak, melalui rekan-rekan di Jakarta yang membidangi media.

Kabar tersebut juga disampaikan kepada santri dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam ceramahsetiap malam Sabtu. “Tanggapan mereka, ya, biasa saja. Tidak kaget, tidak panik. Karena memang di sini tidak ada apa-apa,” ujar Ghafar.

Masyarakat Indonesia, lanjut dia, juga sudah lama mengenal Hidayatullah. termasuk para wali santri, donator, mapun jamaah.
“Kalau memang kami radikal, berharap perubahan cepat dengan cara keras dan mengatasnamakan agama, sudah 40 tahun yang lalu pakai senjata. Tapi, sampai sekarang ‘kan begini-begini saja, karena pendekatan kami pesantren. Memberikan pemahaman Islam dengan waktu dan proses yang lama” katanya.

Dia tersenyum saat disinggung soal Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS). Ghafar menegaskan, Hidayatullah sama sekali tidak memihak organisasi militant tersebut. Menurut dia, tak ada untungnya membicarakan ISIS, karena selalu timbul fitnah. Hidayatullah tidak mengenal ISIS, begitu pula sebaliknya. Pemahaman terhadap jihad dalam Islam antara keduanya, jauh berbeda.

Karena itu, sama sekali tidak relevan isu Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dikatakan ikut menyumbang ISIS. Ghafar menjelaskan, dana yang dihimpun BMH jelas peruntukannya. Di antaranya, untuk santunan anak yatim, beasiswa pendidikan, beasiswa sekolah pemimpin, infak, wakaf, dan dakwah. Seorang donator biasanya sudah memilah peruntukan sedekahnya melalui BMH. Misalnya, 50 persen untuk infak, 50 persen lagi untuk beasiswa.

Pemblokiran hidayatullah.com juga tak berpengaruhnegatif terhadap jumlah donator. Bahkan, ada beberapa donator yang justru bersimpati. Itu tak lepas dari hubungan baik yang terjalin antara pihak ponpes dan mereka. Para donator sering dilibatkan dalam kegiatan parenting dan sosial lain. Juga sering diundang langsung untuk melihat keseharian pesantren.

Pemblokiran tak mengurangi pula minat masyarakat mendaftar di Ponpes Hidayatullah. “Di Malang dan Jakarta, bahkan pendaftaran sudah ditutup karena kuota penuh. Sementara itu, di Balikpapan masih buka dari April sampai Juni. Khusus perguruan tinggi sampai September,” imbuh Ghafar.

Setelah website dibuka kembali, Hidayatullah tak berniat menuntut balik BNPT. Bahkan, bukti bahwa keduanya bermitra, ditunjukkan dalam sosialisasi penanggulangan teroris di Karang Bugis antara BNPT dengan pemuda Hidayatullah, Sabtu lalu (11/4).

Ketika harian ini bertamu, Ketua Yayasan Zainuddin Musaddad sedang berada di Jogjakarta. Namun, sehari sebelumnya, melalui sambungan telepon, ia mengatakan pemblokiran situs malah menjadi “iklan gatis”. Sebab membuat masyarakat semakin ingin tahu mengenai Hidayatullah.

“Menurut saya, pemblokiran ini sebagai langkah ceroboh. Tapi kami husnudzon saja. Dampak positifnya, makin banyak ‘kan pengunjung situs karena penasaran,”kata Zainuddin.

Terpisah, Kepala BMH Balikpapan, Nur Robbani mengatakan, penggalangan dana umat masih berjalan sesuai program yang mereka gulirkan.

“Memang ada target per bulan sesuai rapat kerja daerah. Tapi hasilnya ,ya, tergantung. Karena kami ‘kan lembaga amil zakat Nasional,” jelasnya.

Sejatinya, laporan keuangan BMH juga telah diaudit kantor akuntan publik. “Satu sen pun dipertanggungjawabkan. Kami juga tidak mengenal apa itu ISIS. Dan BMH tidak ada sangkut pautnya dengan itu,” tutur Nur Robbani.

Di Balikpapan, tugas memenuhi kebutuhan orang tidak mampu, social, dan dakwah saja masih butuh perhatian. “Jadi, kami lebih mementingkan kebutuhan Balikpapan dan enggan menjangkau hal-hal yang seperti dituduhkan,” tandasnya.

_______________
Tulisan ini dikutip dari Harian Umum Kaltim Post edisi Rabu, 15 April 2015.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.