Standar Nilai Seorang Kader

shalat berjamaah dengan pakaian putih putihOleh Ustadz Sholeh Hasyim

SUATU ketika, datang kepada Rasulullah SAW seorang laki-laki yang buta kedua matanya. Sejak lahir, dia ditakdirkan tidak dapat melihat.

Tapi, sungguh lelaki itu sekalipun buta mata kepalanya, tetapi tidak buta hatinya, sehingga ia datang kepada Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, sebagaimana yang anda ketahui aku ini seorang yang cacat fisik (buta). Jarak antara rumahku dan masjid cukup jauh. Antara rumahku dan masjid ada lembah berair. Dan pula masih ada binatang-binatang buas yang berkeliaran jika malam telah tiba”.

“Tidak ada yang menuntunku pergi ke masjid. Aku tidak memiliki pembantu. Aku tidak punya anak yang dapat menuntunku menuju masjid. Ya Rasulullah! Apakah boleh aku shalat di rumah,” kata laki-laki buta itu.

Dalam riwayat lain, dia menyebutkan: Ya Rasulullah! izinkan aku shalat di rumah. Aku mohon dispensasi untuk tidak shalat berjamaah di masjid.

Secara manusiawi, melihat laki-laki yang buta, rumahnya jauh dari masjid, transportasi tidak mulus, masih ada lembah berair, dan banyak binatang buas yang berkeliaran, tentu perasaan iba akan muncul. Tanpa berpikir panjang, Rasulullah SAW secara refleks menjawab, Boleh. Silahkan kamu shalat di rumah. Tidak harus ke masjid.

Tetapi, setelah laki-laki itu meninggalkan Rasulullah SAW beberapa‑ langkah, beliau segera sadar bahwa jawaban yang diberikan kepada laki-laki buta tadi adalah bersumber dari akal pikiran yang terbatas. Bukan bersumber dari wahyu Allah SWT. Maka, beliau segera memanggil kembali. Ta’al (kemarilah).

Pemuda itu, karena tidak buta hatinya, ketika dipanggil kembali oleh Rasulullah SAW, ia menyambutnya dengan antusiasme. Sekalipun wajahnya tidak melihat wajah Nabi, tapi hatinya, jiwanya, merasakan bahwa ia sedang berada di hadapan manusia yang paling mulia.

Dia mengatakan, apa lagi ya Rasulullah!. Rasulullah SAW kemudian bertanya, apakah engkau mendengar adzan!. Laki-laki dia menjawab dengan jujur. Ya, wahai Rasulullah. Aku mendengarkannya dengan jelas sekali.

Subhanallah! Itulah karakteristik lelaki yang memiliki spirit keimanan yang prima. Keimanannya membuat risau, gelisah, cemas, kalut, gunda gulana, merasa bersalah, ketika ada panggilan Allahu Akbar, tetapi tidak dapat memenuhinya.

Maka, pemuda itu bertanya kepada Rasulullah bukan sekedar untuk mencari keringanan hukum, tetapi untuk memastikan meyakinkan hatinya apa yang dituntunkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk dirinya. Dia berkata, ya aku mendengar suara adzan itu.

Nabi kemudian menjawab, Kalau demikian, penuhi panggilan shalat itu. (lihat hadits HR Abu Daud no. 565 dan HR Muslim no. 1044).

Nurani Terpaut Ilahi

Kebutaan yang tidak bisa diobati adalah buta hati. Tidak ada seorang ahli pun yang dapat menyembuhkan penyakit ruhani itu. Tiada ada kebutaan yang lebih berbahaya melebihi dari buta hati.

Jika pendengaran, penglihatan, dan hati mengalami disfungsi maka posisi manusia turun derajatnya, melebihi binatang ternak. Instrumen yang menghubungkan dirinya dengan-Nya tidak diberdayakan dengan sebaik-baiknya. Wal ‘iyadzu billah.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai (QS. Al-Araf (7) : 179).

Kisah sahabat yang kita angkat di atas adalah shahih. Yang diriwayatkan oleh Imam besar dalam bidang hadits, Imam Muslim dan Abu Daud. Dia bukan dongeng fiktif, pengantar tidur. Tetapi, kisah nyata.

Para ahli hadits mengatakan pemuda yang buta itu bernama Abdullah ibnu Ummi Maktum. Sejak ia mendengar jawaban dari Rasulullah SAW, Fa ajib (penuhilah panggilan itu). Dia tidak pernah terlambat shalat berjamaah, sekalipun ia cacat secara fisik.

Tetapi, ruhaninya sehat wal ‘afiat. Ia mempersepsikan bahwa panggilan adzan bukan seruan muadzin. Muadzin hanya tukang memanggil. Penyambung lidah, komunikator, dan dutanya Allah SWT. Sesungguhnya pemilik panggilan itu adalah Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu [*], ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya [**] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (QS. Al Anfal (8) : 24).

[*] Menyeru kamu berjuang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. Juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk Jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. [**] Allah-lah yang menguasai hati manusia.

Dalam ayat di atas Allah menyeru kepada orang yang beriman. Tetapi kalau hati tidak ada iman, ia tidak akan memenuhi seruan itu. Orang yang tidak beriman bersedia dipanggil jika menguntungkan secara material.

Orang yang tidak beriman hanya mau memenuhi panggilan yang mendatangkan harta, tahta dan wanita. Segala sesuatu diukur dari sisi asesoris lahiriyah saja. Dan untuk memenuhi kepentingan perut ke bawah (syahwatul bathn wa syahwatul farj), itulah yang dikejar.

Panggilan Allah adalah seruan yang menghidupkan hati, pikiran, jiwa dan raga. Panggilan untuk meraih kebahagiaan hakiki. Panggilan yang menghidupan, bukan sekedar hidup. Allah SWT tidak pernah memanggil manusia kecuali untuk tujuan yang mulia itu.

Semua yang diperintahkan-Nya disebut ma’ruf (sesuatu yang cocok dengan hati). Dan semua yang dilarang-Nya dikategorikan dengan munkar (sesuatu yang diingkari hati). Ketaatan dan kedurhakaan kita sedikitpun tidak mengurangi eksistensi-Nya. Jika Dia memerintahkan sesuatu, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya.

Sejarah membuktikan, berbagai kesengsaraan, malapetaka, kehinaan, kelemahan, kerumitan kehidupan, terjadi susul-menyusul, kemaksiatan yang menggurita, diakibatkan oleh tangan jahil manusia. Dosa tidak memenuhi ajakan-Nya. Bahkan, melalaikan panggilan Allah SWT. Akhirnya kehidupannya menyimpang dari jalan yang lurus.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar Rum (30) : 41).

Ketika manusia tidak memenuhi panggilan-Nya akan buta hatinya, tidak sekedar buta matanya. Ketika buta hati, maka buta pula jalan kehidupannya.

Fakta empiris membuktikan, bahwa batu dan aspal, sepatu dan sandal, selimut dan bantal, katak dan kadal, semua di telan, tidak peduli apakah bersumber dari yang haram atau halal.

Berbagai kerusakan di medan kehidupan, selalu diawali dari kerusakan hati dan kekacauan pikiran. Penyakit sosial yang dilakukan bangsa Jahiliyah klasik dimulai dari kerusakan cara memandang Allah SWT, dirinya dan lingkungan sosialnya.

Orang beriman tidak seperti kaum materialis. Figur beriman suka memberi. Ia yakin dengan memberi, sesungguhnya memperoleh. Dengan memberi, mendapatkan. Bukan kehilangan, sebagaimana yang dipandang oleh kaum materialisme.

Orang beriman tidak bermental mengambil. Orang beriman meyakini bahwa di balik kehidupan ini ada Allah Yang Maha Memberi, Mengatur dan Mengendalikan tanpa pernah tidur dan mengantuk.

Dan, ketika memanggil hamba-Nya, maka untuk meraih rahmat dan maghfirah serta barakah-Nya. Bukan untuk mencelakakannya. Nabiyullah Muhammad SAW berpesan: Hiduplah sesuka hatimu, tapi kalian akan meninggal, cintailah sesuatu sesuka hatimu, tapi kalian akan berpisah dengannya, dan beramallah sesuka hatimu, tapi sadarilah engkau akan dibalas secara setimpal (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).

Panggilan adzan dipahami secara mendalam, dan diyakini sepenuh hati, oleh sahabat Abdullah ibnu Ummi Maktum. Sekalipun dia buta, perjalanan jauh dan kurang aman, tetapi hatinya tidak buta. Ia tidak pernah absen shalat berjamaah di masjid.

Bahkan, sejarah mencatat, Abdullah ibnu Ummi Maktum adalah muadzin kedua setelah Bilal bin Rabah al Habsyi. Seorang muadzin, tentu tidak pernah terlambat hadir di masjid. Jika terlambat, alangkah kacaunya para jamaah shalat. Dan lagi keunikannya beliau muadzin untuk shalat shubuh. Seorang buta, menuju masjid saat itu -tidak ada penerangan listrik-, dapat dibayangkan betapa gelapnya.

Sejarah pula mencatat, sekalipun rumahnya jauh dari masjid, ada lembah berair, ada binatang buas, tapi karena dia dengan ridha, sam’an wa tho’atan dalam memenuhi panggilan Allah SWT, dia tidak pernah terperosok ke dalam lembah kehinaan.

Dia tidak pernah jatuh pada kesalahan fatal, yang menjadikannya sulit bangkit kembali. Sekalipun dia buta, tidak pernah digigit binatang buas. Sekalipun tidak melihat, ia tidak pernah salah arah dan salah jalan. Sekalipun dia buta, tidak kurang asah, asih dan asuh, dari tarbiyah Rasulullah SAW.

Ternyata, bashirah (mata hati) lebih tajam dari mata kepala. Insya Allah, siapa pun dia, jika menyambut panggilan-Nya tidak bangkrut perniagaannya. Insya Allah tidak berarti kebunnya tidak berbuah ekonominya kembang kempis. Justru yang terjadi, kehidupannya penuh barakah (bertambah kebaikannya).

Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka : ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS. Nuh (71) : 10-12).

Inilah kisah nyata. Buta mata ternyata tidak tersesat. Tidak terperosok ke dalam lembah kehinaan. Ketika iman, keyakinan kepada-Nya menuntun dan memandunya. Sebaliknya, betapa banyak belakangan ini manusia dapat melihat tetapi kehidupannya demikian sengsara. Merugi. Bangkrut.

Kecelakaan hidup selalu dijumpainya. Ia tahu itu narkoba, tetapi ia minum. Ia melihat harta itu haram, tapi ia korupsi. Ia tahu istri orang, tapi ia nodai. Ia tahu dia mitranya, tetapi dipandang rivalnya. Memang, mata kepalanya melihat, tetapi hatinya buta. Hatinya gelap.

Terpaut Masjid

Dari masjid ini, rumah Allah ini, dari sinilah sumber kebahagiaan dan kemuliaan itu. Jika kita selalu mendatangi rumah-Nya. Indikator bahwa ada tanda-tanda cinta di dalam dari kita kepada-Nya.

Masjid menjadi rahim lahirnya generasi umat yang mumpuni. Pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid menyemai keberuntungan dan menjadi mesin kader yang siap tandang ke gelanggang meneladankan sekaligus menjadi juru bicara Islam.

Jika kita selalu hadir di rumah yang mulia ini selama 5 waktu shalat secara berjamaah, Ia akan menuntun kita ke jalan yang lurus. Jalan yang dilalui para Nabi, shiddiqun, syuhada dan shalihin.

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. An Nisa (4) : 69).

Shiddiiqiin dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7:

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Tiada yang paling membahagiakan dalam kehidupan ini melebihi dari menyambut seruan Allah SWT. Panggilan yang menyejukkan dan menenteramkan jiwa. Panggilan yang menghilangkan kekalutan hati.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku (QS. Al Fajr (89) : 27-30).

Orang yang ruhaninya sehat, selalu bergegas-gegas menyambut panggilan Allah, sekalipun fisiknya kurus, kere, kurimen, kudisan, tapi di akhirat kelak, timbangannya berat. Seperti sahabat Ibnu Masud, kakinya yang kecil lebih berat dari Gunung Uhud.

Sebalinya, ada orang yang semasa hidupnya berbadan kekar, tetapi banyak melakukan dosa, seringkali melalaikan kewajibannya, timbangannya di akhirat kelak lebih ringan dari sayap nyamuk. Bobot 100 kg di dunia, di akhirat tidak sampai 1 ons. Inilah yang mengajarkan kita bahwa kualitas seseorang di nilai dari sisi ruhaninya.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw bersabda: Sungguh, akan datang seorang laki-laki gagah dan gemuk pada hari kiamat yang berat timbangannya tidak seberat sayap nyamuk. Bacalah ayat: Maka Kami tidak menegakkan timbangan buat mereka pada hari kiamat (QS. Al Kahfi (18) : 105)

Alangkah bahagianya jika panggilan tersebut ditujukan kepada kita. Kita termasuk hamba yang dicintai dan diridhai-Nya. Dan, semoga kelak kita akan masuk surga-Nya bersama Rasulullah SAW. Insya Allah.

___________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.