Ramadhan Madrasah Lahirnya Mukmin Multi Kompetensi

mengaji al quran di hidayatullah surabayaOleh Sholih Hasyim S.Sos.I

TINGGAL menghitung hari lagi umat Islam akan kedatangan tamu agung, bulan suci Ramadhan. Ia adalah bulan yang penuh rahmat, sarat imbalan, bonus pahala berlipat ganda. Siapa pun akan tertarik dengan hadiah-hadiah Ramadhan.

Bayangkan, ibadah sunnah pada bulan-bulan biasa diganjari dengan pahala wajib pada bulan ini. Ibadah wajib dibalas tujuh puluh kali lipat.

Belum lagi berbicara tentang malam Lailatul Qadar. Beribadah pada malam ini lebih baik dari seribu bulan, alias lebih kurang 83 tahun. Adakah bonus yang lebih besar dari bonus Ramadhan?

Jadi, cukup logis jika Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasalam menyadarkan kita dalam salah satu sabdanya bahwa sekiranya umatnya mengetahui apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan, pasti mereka akan mendambakan tahun itu seluruhnya Ramadhan.

Itulah sebabnya kemudian diantara nama bulan Ramadhan adalah Syahrut Tarbiyah atau sebagai bulan pendidikan yang berfungsi secara holistik dan dipandu secara langsung oleh Allah Ta’ala.

Definisi pendidikan yang khas,  padat, dan bernas, yang  belum pernah kita temukan dalam dunia  pendidikan pada umumnya adalah batasan yang dirumuskan oleh salah seorang tokoh dunia Islam Syaikh Muhammad Qutub dalam salah karya spektakulernya “Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyyah” Nadhariyyah (teori) wa Tathbiqan (praktek) I,II.

Yakni, dalam pandangan Qutub, pendidikan khas itu adalah  “fannu shina-ati/tasykilil insan atau seni memformat manusia baik dari sisi intelektualitas, perasaan, spiritual, pisiknya, menuju batas kematangan kepribadiannya secara sinergis. Jadi, kegiatan pendidikan tidak sekedar transfer ilmu, tetapi transfer nilai sekaligus.

Ada tiga komponen fundamental yang menentukan keberhasilan sebuah pendidikan. Yaitu standar input, proses dan output. Jika salah satu unsur dari ketiganya kurang ideal, maka mustahil melahirkan output yang diharapkan pula. Dan, puasa Ramadhan memadukan ketiga dimensi tersebut secara sinergis.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah (2) : 183).

Ayat di atas tampak tergambar ketiga unsur penting (khoshois wa muqawwamat) pendidikan yang ideal itu yaitu: input (sumber daya mukmin), proses (shiyam dan qiyam  pada bulan Ramadhan), dan output (sumber daya muttaqin).

Pada tahap input yakni ketersediaan sumber daya mukmin dalam rangka memasuki madrasah Ramadhan, maka setiap muslim hendaknya memahami dan menginternalisasi keyakaninan iman dan Islam. Kita akan dibahas berikut ini.

Iman Islam

Secara etimologis, iman adalah keyakinan yang terhunjam di dalam hati (mu’taqodat). Yang disimpulkan dalam rukun Iman. Sedangkan Islam adalah menyerahkan diri secara lahir dan batin untuk diatur oleh Allah SWT dengan sam’an wa tho’atan (kami dengar dan kami taat), (al-Jawarih – anggota tubuh- ), yang diringkas dalam rukun Islam.

Iman dan Islam, percaya dan berserah diri, adalah dua kalimat yang tidak bisa dipisah-pisahkan untuk selama-lamanya. Percaya saja belum cukup, padahal tidak berserah diri. Dan menyerahkan diri tidak akan sempurna tanpa didasari oleh keyakinan.

Bukti bahwa kita percaya kepada-Nya, tentulah kita turuti perintah-Nya. Dan kita mengikuti perintah karena percaya. Kesimpulan dari keduanya, kepercayaan dan ketundukan terhadap syariat, itulah agama yang benar (dinul haq). Mengakui secara lisan sebagai seorang mukmin, tetapi tidak mengikuti perintah-Nya belumlah dikatakan mukmin.

Dan mereka berkata, kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kami taat. Kemudian itu berpalinglah satu golongan dari mereka dan mereka berpaling itu tidaklah orang yang beriman (an-Nur (24) : 47).

Perpaduan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan antara kepercayaan dan penyerahan, akidah dan ibadah, pengakuan hati dan perbuatan, itulah agama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Maka dibuatlah definisi (batasan) bahwa agama Islam adalah agama yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril termaktub dalam Al-Quran dan ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah SAW.

Islam adalah celupan Allah bagi yang berakal sehat untuk kemaslahatan kehidupan dunia dan keselamatan tempat kembalinya. Sunnah adalah perjalanan, jalan raya lurus yang akan ditempuh, yang telah didahului oleh Nabi SAW dan kita ikuti jejaknya dari belakang. Atau tradisi Rasulullah SAW.

Jika kita renungkan dengan logika yang sehat, ada orang yang mengaku percaya, tetapi enggan melakukan perintah, tidak menjalankan isi Al-Quran, atau tidak mengikuti sunnah (ittiba’ur rasul), bukanlah disebut mukmin dan muslim. Kepercayaan seharusnya mengantarkan diri untuk tidak keberatan melakukan perintah dan menjauhi larangan.

Ada sebagian orang yang berpandangan, asal hatiku sudah percaya dan budi pekertiku dengan sesama sudah baik, beribadat dan beramal tidak diperlukan. Memahami pernyataan tadi bertambah jelas bahwa iman dan islam belum muncul di relung hati yang paling dalam. Sebab, islam tidak semata-mata kepercayaan dan pengakuan di mulut.

Menjadi orang Kristen, Yahudi, Majusi pun adalah hati yang baik. Tetapi agama itu memiliki caranya sendiri (syariat). Kalau mengaku berhati baik, tetapi keberatan mengerjakan perintah agama, tandanya hati yang dimilikinya tidak baik.

Ada pula yang mengatakan, beribadat kepada Allah SWT bukanlah shalat dan puasa saja. Yang penting menolong sesama manusia, berjuang menegakkan cita-cita Islam. Sudah cukup menjadi seorang muslim. Alangkah ganjilnya pandangan itu!

Itu menggambarkan bahwa ia hanya mengenal Islam di kulitnya saja. Anda hendak berjuang, menegakkan cita-cita Islam, dalam masyarakat, dalam negara, ekonomi, politik, dan sosial kebudayaan, tetapi melalaikan shalat. Hal itu menunjukkan rumah Islam yang akan kita bangun berdiri di atas pondasi yang rapuh. Rumah baru akan berdiri tegak dimulai dari sendinya.

Rasulullah SAW bersabda:

Shalat itu adalah tiang agama. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia merobohkan agama”

Jika kita mengaku beriman kepada Allah SWT, tentu kita mencintai-Nya, kita rela berkorban menuruti kehendak-Nya. Kecintaan yang tidak melahirkan pengorbanan, namanya cinta palsu. Beriman, yang tidak dibarengi dengan cinta dan kesiapan berkorban, berarti iman palsu, islam palsu. Seperti ungkapan ahli sastra Arab berikut:

Engkau mendurhakai perintah Allah padahal secara lahiriyah menyatakan cinta. Di dalam alam ini mustahil, di alam ini pun ganjil. Kalau cinta nan tulus, niscaya perintah-Nya engkau taati. Sebab orang yang cinta kepada yang dicintainya selalu patuh dan tunduk kepadanya.

Tidak ada dikotomi antara Iman dan Islam. Kaitan antara Iman dan Islam adalah hubungan diantara budi dan perangai. Dalam peraturan budi, suatu budi yang tinggi hendaklah dilatih secara terus-menerus (riyadhah, mujahadah) supaya menjadi karakter dan kebiasaan. Seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, percaya kepada para Rasul Allah, niscaya mendorongnya melakukan perbuatan yang diridhai oleh-Nya.

Karakteristik Orang Beriman

Berikut dijelaskan ciri-ciri khusus orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman [sempurna imannya] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [sifat-sifat yang memuliakan-Nya] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia (QS. Al Anfal (8) : 2-3).

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat itu dengan : Tidak ada sedikit pun keringanan  kepada Allah di dalam hati orang munafik ketika mengerjakan berbagai kewajiban. Secara lahiriyah khusyu’, hatinya ingkar kepada Allah SWT. Mereka tidak beriman sedikit pun terhadap ayat-ayat Allah, tidak bertawakal kepada-Nya, tidak mendirikan shalat pada saat tidak diketahui orang lain, tidak menunaikan zakat atas harta yang dimilikinya.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya [mencari pujian manusia] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali [sekali-kali shalat ketika di hadapan manusia]. [QS. An Nisa (4) : 142].

Sedangkan orang beriman jika disebut nama Allah, hatinya gemetar. Yakni kaget dan takut lalu mereka mendirikan aneka kewajiban dari Allah SWT. Menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tanpa pamrih, tanpa pura-pura. Hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Inilah sifat mukmin sejati.

Kemudian, jika dibacakan ayat-ayat Allah keimanan mereka mengalami grafik kenaikan. Semakin meyakini dan membenarkan ayat-ayat-Nya. Al Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini dan ayat yang lain yang sejenis sebagai dalil (hujjah) yang menunjukkan bertambahnya dan kelebihannya di dalam hati.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Fath (48) : 4).

Dan kepada Allah SWT orang-orang beriman bertawakal. Mereka tidak mengharapkan selain Dia, tidak menuju kecuali kepada Dia, tidak berlindung kecuali kepada sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, dan tidak mencintai kecuali kepada-Nya.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi (QS. Al Mukminun (23) : 1-10).

Energi Iman

Hanya orang beriman yang menjadi sasaran taklif (beban) berpuasa Ramadhan. Karena hanya orang beriman yang tergerak hatinya, memiliki responsibilitas dalam menyambut seruan-Nya.

Sedangkan orang munafiq memandang panggilan-Nya seperti suara sayup-sayup nun jauh disana. Keyakinan orang beriman dibuktikan dengan anggota tubuh. Ia taat kepada Allah SWT secara lahir dan batin. Tanpa sedikitpun ada rasa keberatan.

Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya untuk bergerak  memberi, menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam taman kehidupan, atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan di permukaan bumi.

Iman adalah gelora yang mengalirkan inspirasi kepada akal pikiran, maka lahirlah bashirah (mata hati). Sebuah pandangan yang dilandasi oleh kesempurnaan ilmu dan keutuhan keyakinan.

Iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, maka lahirlah taqwa. Sikap mental tawadhu (rendah hati), wara’ (membatasi konsumsi dari yang halal), qona’ah (puas dengan karunia Allah), yaqin (kepercayaan yang penuh atas kehidupan abadi).

Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, maka lahirlah harakah. Sebuah gerakan yang terpimpin untuk memenangkan kebenaran atas kebatilan, keadilan atas kezaliman, kekauatan jiwa atas kelemahan. Iman menentramkan perasaan, mempertajam emosi, menguatkan tekat dan menggerakkan raga.

Iman mengubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat, dekat dan akrab. Yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin menjadi ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa menjadi adil.

Dengan iman yang ulama menjadi takwa, yang kuat menjadi penyayang, yang pintar menjadi rendah hati, yang bodoh menjadi pembelajar, yang memiliki kedudukan tinggi bisa dijadikan tempat bernanung bagi yang rendah. Ibadah mereka menjadi sumber kekuatan dan kemudahan, kesenian menjadi sumber inspirasi dan spirit kehidupan.

Syekh Muhammad Al Ghazali berkata dalam bukunya Khuluqul Muslim, beliau menulis: Apabila iman telah menyatu jiwa, hanya Allah yang paling berkuasa, segala yang maujud ini hanya makhluq belaka (mumkinul wujud). Keyakinan yang kuat dan tumbuh berkembang dengan subur, laksana mata air yang tidak pernah kering sumbernya, yang memberikan dorongan kepada pemiliknya semangat pengabdian, ibadat secara terus-menerus, mampu memikul tanggngjawab dan menanggulangi kesulitan dan bahaya yang dihadapinya. Pengabdian itu dilakukan tak mengenal lelah sampai menemui ajal tanpa ada rasa takut dan cemas.

Orang mukmin yang sejati mempunyai harga diri, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang hina. Apabila ia terpaksa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas, perbuatannya itu ia sembunyikan dan tidak dipertontonkan di hadapan orang banyak. Ia masih memiliki rasa malu jika aibnya diketahui dan ditiru orang banyak.

Seorang mukmin berani menegakkan kebenaran sekalipun rasanya pahit. Untuk memenuhi perintah Allah, tidak untuk memperoleh maksud duniawi yang rendah dan untuk tujuan jangka pendek dan kenikmatan sesaat (mata’uddunya). Ia jika ia membiarkan kebatilan mendominasi kehidupan, maka imannya terjangkiti virus kelemahan. Seorang mukmin teguh pendirianya, bagaikan batu karang di tengah lautan. Tegar dari amukan badai dan hempasan gelombang serta pasang surut lautan.

Wahai pemuda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat sebagai berikut : “Peliharalah (perintah) Allah, maka Allah akan memelihara engkau, dan peliharalah (larangan) Allah, niscaya engkau dapati Allah dihadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan Allah. Ketahuilah olehmu, sekiranya ummat manusia sepakat hendak memberi manfaat kepadamu, niscaya tak akan sanpai sesuatu juapun daripadanya melainkan apa yang telah ditetapkan Allah lebih dahulu. Demikian juga sekiranya mereka itu sepakat pula hendak membahayakan kamu, tak akan sampai bahaya itu melainkan menurut apa yang telah ditetapkan Allah terlebih dahulu. Terangkan kalam, dan keringlah kertas (HR. Turmudzi).

Kilas Balik

Kata Nabi Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, komunitas mereka laksana taman yang menghiasi kehidupan. Di huni oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya. Para umara yang mengelola kekuasaanya dengan keadilan. Para pebisnis yang berniaga dengan kejujuran.

Masyarakat bawah di zamannya rajin beribadah. Dan para kaum profesional yang bekerja dengan taat aturan. Iman yang mengubah manusia fatalis, konsumtif, menjadi sosok yang produktif, kreatif, inovatif dan dinamis.

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[teguh kepercayaannya kepada kebenaran nubuwwah], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. An Nisa (4) : 69).

Dengan iman yang terpatri di dalam hati nurani, Bilal bin Rabah mampu bertahan di bawah tekanan batu karang raksasa dengan terik matahari padang pasir yang membakar tubuh hitam kelamnya. Ia sukses membunuh majikannya dalam peristiwa perang Badar. Ia yang semula seorang budak bisa berubah menjadi manusia besar.

Abu Bakar yang lembut, selalu meneteskan air mata setiapkali menjadi imam shalat, menjadi sangat keras dan tegar melebihi ketegasan Umar bin Khathab ketika memerangi kaum murtaddin (keluar dari islam dan menolak syariat zakat). Umar bin Khathab yang terhormat, dengan sukarela membawa gandum ke rumah seorang perempuan miskin di kegelapan malam.

Khalid bin Al Walid, si pedang terhunus, menyukai malam-malam dingin dalam jihad fii sabilillah daripada seorang cantik di malam pengantin. Ali bin Abi Thalib bersedia memakai selimut Rasulullah saw dan tidur di kasur beliau ketika dikepung para algojo menjelang hijrah, atau menghadiri pengadilan saat beliau menjadi khalifah untuk diperkarakan dengan seorang warganya yang Yahudi tulen.

Utsman bin Affan dengan senang hati membeli sumur “Raumah” milik Yahudi dengan harga dua kali lipat untuk mengatasi krisis air yang menimpa kaum muslimin Madinah. Ia menginfakkan seluruh hartanya pada medan peperangan yang dikenal sulit (jaisyul usrah), perang Tabuk.

Sejarah islam sepanjang lima belas abad ini mencatat, kaum muslimin meraih kemenangan-kemenangan dalam berbagai peperangan, mewujudkan kemakmuran dan keadilan, mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dalam peradaban. Ketika iman mewarnai seluruh aspek kepribadian setiap individu muslim. Memperkuat stamina ruhaniyah, mencerdaskan akal dan menggerakkan pisik mereka.

Tetapi sejarah juga menorehkan luka. Pasukan Tartar membantai 80.000 orang kaum muslimin di Baghdad, pasukan Salib menguasai Al Quds selama satu abad kurang sepuluh tahun, surga Andalus (Spanyol) hilang dari genggaman kaum muslimin dan direbut kembali kaum Salib, Khilafah Utsmaniyah di Turki dihancurkan gerakan Zionisme Internasional.

Pertanyaannya, apakah penyebab kehancuran itu semua ?. Karena krisis iman (azmatul iman). Saat dimana iman hanya sebagai slogan, dan tidak merasuk di dalam jiwa dan pikiran, tidak memberi vitalitas dan dinamika dalam kehidupan, lalu tenggelam dalam lumpur syahwat. Gila tahta, harta dan wanita. Terjangkiti virus syubhat (salah paham terhadap kebenaran) dan ghoflah (lalai dari misi kehidupan).

Karena itulah penguasa dan para umara menjadi zhalim dan diktator (thughyan), orang kaya menjadi pelit, orang miskin menjadi pengkhianat, orang bodoh menjadi tidak tahu diri (sombong), dan tentara mereka tidak memiliki nyali. Dan kalangan bawah kurang asah, asuh dan asih serta kurang ajar.

Nabi saw melukiskan kondisi komunitas yang tegak tidak dilandasi oleh iman akan diisi oleh ulama yang dengki, umara yang zhalim, para kaum awam beribadah karena riya’, pengusaha yang berkhianat dan kaum professional yang tidak patuh hukum.

Sehingga kehidupan mereka seperti berdiam di hutan (al ghabah). Hukum yang diberlakukan laksana huku rimba. Tumpul untuk kalangan elit dan tajam umtuk level grassroot. Sehingga melukai rasa keadilan. Hukum bisa ditarik kesana kemari sesuai dengan selera zaman.

Madrasah Ramadhan

Dari segi etimologis makna ‘Ramadhan’ adalah terik panas yang membakar. Karena pada umumnya tibanya bulan ke sembilan bulan Qamariyah ini pada musim panas.

Makna tersebut mengandung pelajaran berharga, bahwa lewat puasa Ramadhan menjadi hangus terbakar dosa-dosa dan kelemahan serta sisi gelap diri kita. Sedangkan sisi terang diri kita mengemuka.

Disamping itu puasa adalah junnah (perisai). Yang bisa memagari pelakunya dari tekanan internal diri, tarikan eksternal, media untuk melawan ketergesa-gesaan, menikmati penderitaan, menghalau tantangan dan berbagai kesulitan, menunda kenikmatan sesaat menuju kepuasan batin, menguatkan azam, mensucikan maksud, dan mengangkat martabat.

Dengan perisai tersebut, semoga Allah SWT melindungi kita dari berbagai madharat, memagari kita dari maksiat, dan menjaga kita dari gangguan yang bersumber dari mukmin yang dengki, tipu daya orang kafir, munafiq yang membenci, hawa nafsu yang menggelincirkan dan syetan yang menyesatkan.

Insya Allah dengan mengendalikan nafsu lewat pelaksanaan ibadah puasa selama sehari penuh, kita menjadi manusia baru. Sikap mental yang memiliki kemiripan dengan ulat yang serakah, dan tidak memiliki rasa malu, dengan berpuasa Ramadhan menjadi manusia yang bermental seperti kupu-kupu. Penampilannya menyejukkan dalam pergaulan dengan sekelilingnya. Sungguh puasa Ramadhan merupakan training untuk memformat diri menjadi manusia baru.

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin itu laksana lebah. Apabila ia makan, ia makan barang yang baik. Dipilihnya makanan yang halal. Dipilihnya bungan yang indah dan harum tempat untuk hinggap. Dan apabila ia mengeluarkan sesuatu dari badannya, yang dikeluarkannya berupa barang yang baik, madu manis dan segar, bisa menjadi obat bagi manusia. Dan apbila ia hinggap, sekalipun di sebuah  ranting yang lapuk, maka sedikitpun tidak rusak”  (al Hadits).

Output Sumber Daya Muttaqin

Bertakwa adalah menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Takut bermaksiat kepada Allah Swt melebihi ketakutannya menghadapi musuh. Karena kemenangan yang diperoleh kaum muslimin karena dosa-dosa yang dilakukan oleh musuh.

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan tunduk (muslim)” (QS. Ali Imran (3) : 102).

Jika kita juga senang melakukan dosa sebagaimana mereka, maka kita akan kalah. Karena, dilihat dari ikhtiar lahiriyan, mereka jauh lebih unggul dan matang.

Takwa adalah sebaik-baik bekal yang sangat diperlukan individu dan jamaah kaum muslimin. Sesungguhnya perjuangan untuk iqamatud din (menegakkan syariat) tidak akan memperoleh pertolongan Allah Ta’aala tanpa taqwa.

Betapa banyak orang yang beramal, berjuang, berkorban, tetapi amal mereka dikembalikan (tidak diterima) karena dorongan dari dalam tidak dari takwa. Takwa adalah syarat untuk sukses di dunia dan tercapainya sasaran yang dituju. Mari kita dengarkan ucapan Musa as kepada kaumnya yang dikisahkan dalam Al-Quran.

Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini milik Allah, Dia mewariskannya kepada orang yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-A’raf (7) : 128).

Ibnu Katsir berkata : Barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan mengamalkan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, akan terbimbing untuk mengetahui kebenaran dan kebatilan. Itu merupakan kunci pembuka kemenangan, keselamatan, dan jalan keluar baginya dalam menghadapi urusan-urusan dunia, kunci kebahagiaan pada hari kiamat, dan sebab dihapusakannya segala dosa-dosanya.

Takwa adalah solusi untuk mengatasi setiap kelemahan, ketertinggalan, dan kehinaan yang sedang mendera ummat Islam. Ia adalah satu faktor yang apabila kita pegang teguh, pangkal datangnya pertolongan dan taufik akan dimudahkan bagi kita dan segala faktor yang menyebabkan kekalahan dan kehinaan akan dijauhkan.

Takwa menuntun kita untuk komitmen dengan kebenaran, kebajikan, kesucian, dan menjadikan kita mencintai, menuruti, memperjuangkan, dan melaksanakannya semata-mata mencari ridho Allah Ta’aala. Ia memelihara kita dari penyimpangan dan yang menjamin kemenangan bagi kita atas musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih hebat serta harta, jumlah, dan perlengkapan yang melebihi kita.

Takwa Lahirkan Multiple Intelligences

Untuk memperbaiki dan  mendongkrak mutu ketakwaan kita, alangkah baiknya kita berhenti sejenak untuk mencermati arahan Allah Ta’aala tentang ciri yang menonjol pada struktur kepribadian orang yang bertakwa pada ayat berikut ini.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran (3) : 133-135).

Bertolak dari ayat di atas, setidak-tidaknya orang yang bertakwa itu memiliki ciri yang menonjol yakni tumbuhnya multi kecerdasan (multiple intelligences). Pertama, memiliki kecerdasan finansial. Kedua, memiliki kecerdasan emosional. Ketiga, cerdas sosial. Keempat, memiliki kecerdasan spiritual. Kelima, memiliki kecerdasan intelektual.

Kecerdasan Finansial

Orang bertakwa yang memiliki kecerdasan finansial itu tidak sekedar pandai mencari uang, atau sekedar terampil membuka gembok-gembok rizki. Tetapi, gemar pula berinfak untuk membersihkan dan melipat gandakan harta itu sendiri. Jadi kaya itu berkaitan dengan sikap mental.

Rasulullah SAW telah memberikan definisi yang jelas tentang orang yang mempunyai kecerdasan finansial.

Yang disebut al-ghina (orang yang cerdas finansial) itu bukanlah mereka yang sekedar memiliki harta yang banyak, tetapi al-ghina itu mereka yang kaya jiwa (HR. Bukhari).

Bukan disebut cerdas finansial orang yang memiliki harta yang banyak tetapi serakah dan kikir. Apa gunanya memiliki banyak kekayaan tetapi tidak dibelanjakan. Sebagaimana air yang tidak dialirkan, harta yang ditumpuk akan menjadi sarang penyakit. Seharusnya berapa pun yang diinfakkan tidak masalah jika fii sabilillah. Pantang dibelanjakan satu rupiah pun untuk maksiat.

Harta bagi orang yang terjangkiti virus ruhani kikir adalah segala-galanya. Semakin banyak yang ia terima, ia semakin rakus. Bagaikan meminum air laut, semakin banyak meminumnya semakin haus.  Ia mengira harta itu mengekalkan kehidupannya. Ia memandang harta sebagai hak milik, bukan hak pakai atau hak guna (titipan dari Allah SWT). Bahkan, pada akhirnya harta dijadikan tandingan tuhan.

Akan datang sesudahmu kaum yang memakan kemewahan dunia dengan segala ragamnya, yang mengendarai kendaraan yang bagus dengan segala ragamnya dan menikahi wanita-wanita cantik dengan segala ragamnya, memakai pakaian yang seindah-indahnya dengan segala ragamnya. Mereka mempunyai perut yang tidak kenyang dengan yang sedikit, dan nafsu yang tidak puas dengan yang banyak. Mereka menudukkan diri kepada dunia, pagi dan sore harinya mengejar dunia. Mereka menjadikan dunia sebagai tuhan dan pengatur mereka. Mereka mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka adalah sejelek-jeleknya umatku (HR. Thabrani dalam Al-Kabir).

Bila dunia sudah dibesarkan, maka bukan saja Allah SWT   – yang tampak kecil – menjadi kecil, melainkan kebenaran yang tampak jelas pun menjadi tidak kelihatan. Bukan buta mata kita, tetapi hati kita yang buta. Kita menjadi acuh tak acuh kepada penderitaan orang lain.

Tidak termasuk cerdas finansial orang yang kaya raya tetapi serakah. Sekalipun kaya secara lahiriyah tetapi jiwanya miskin. Sekalipun kaya, tapi masih menginginkan harta orang lain dengan menghalalkan segala cara. Sekalipun hartanya banyak, tetapi tidak cukup.

Dengan harta yang cukup kita dapat memelihara harga diri kita dari meminta-minta, dan kita bisa menolong orang lain. Dengan harta yang cukup kita dapat makan dan minum yang halal dan thayib, bisa bersedekah dan bisa beribadah haji. Kita bisa makan kenyang (mangan wareg), tidur pulas (turu anteng), menutup aurat (sandang rapet), tempat tinggal yang mapan (papan mapan), hidup tenang (urip kepenak).

Rasulullah SAW bersabda: Wahai Amru alangkah bagusnya harta yang baik di tangan orang yang shalih (HR. Ahmad).

Arahan Rasulullah SAW diatas mengingatkan kaum muslimin untuk cerdas secara finansial, yakni mereka dapat menguasai harta  berbanding lurus dengan ketrampilan dalam membelanjakannya sebaik-baiknya untuk meninggikan kalimat Allah Ta’aala.

Harta dimanfaatkan untuk membantu orang-orang yang memerlukannya. Harta yang cukup memadai untuk mengurai kerumitan sosial dan harta yang cukup untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Kecerdasan Emosional

Ciri kedua orang yang bertakwa adalah “wal kaadziminal ghaidza” (orang-orang yang dapat menahan diri ketika marah). Kalau boleh mengambil istilah sekarang dikenal dengan kecerdasan emosional. Jika ia marah, maka dipusatkan pada kedipan mata. Anggota tubuh yang lain tidak diizinkan untuk bergerak. Kemudian berwudhu dan shalat dua rokaat. Jadi kekuatan mental tidak diukur pada kekuatan pisik, tetapi dapat mengendalikan marah.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, orang hanya mengenal satu jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual atau dikenal dengan IQ. Pada saat itu, keberhasilan dan keberuntungan orang diukur oleh seberapa tinggi IQ nya. Semakin tinggi IQ yang dimilikinya kemungkinan berhasilnya sangat besar. Itulah sebabnya semua lembaga pendidikan, instansi pemerintah, lembaga bisnis, melakukan tes IQ dalam rekruitmen siswa, pegawai dan karyawan.

Dengan perguliran dan pergiliran masa dan setelah melalui serangkaian  penelitian menunjukkan bahwa IQ bukan segala-galanya. Bahkan IQ merujuk penelitian tersebut hanya menyumbang 15% saja tingkat keberhasilan seseorang. Yang mengejutkan justru EQ (Emotional Quotient) lah yang menjadi faktor penentu, sekitar 60% sampai 85% penentu kesuksesan.

Ternyata faktor kesabaran, keuletan, kegigihan, disiplin, dan tidak mudah emosi merupakan kunci keberhasilan manusia dalam membangun kesuksesan hidup. Betapa banyak orang yang pintar, yang nilai akademisnya di atas rata-rata, tapi kehidupannya gagal. Keberadaanya tidak memberikan manfaat kepada orang lain.

Empat  belas yang silam Al-Quran dan As Sunnah telah mengenalkan sosok-sosok yang  memiliki kecerdasan emosional yang mapan sepertti Nabi Yusuf Alaihissalaam, Rasulullah SAW dan para rasul ulul ‘azmi lainnya.

Adapun diantara sahabat yang memiliki kecerdasan itu adalah Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah pertempuran, Ali bin Abi Thalib terlibat duel dengan salah satu jawara kaum musyrik. Ia berhasil menjatuhkan lawannya. Ketika ia akan membunuhnya, sang musuh meludahi Ali dan mengenai seluruh wajahnya. Atas peristiwa itu Ali mengurungkan niatnya dan berlalu meninggalkannya (tidak jadi membunuh lawannya yang sudah tidak berdaya itu).

Orang musyrik itu memandang aneh sikap Ali. Ia bertanya, Hendak kemanakah engkau wahai ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) ? Ali menjawab, Mulanya aku berperang karena Allah, namun ketika engkau melakukan apa yang engkau lakukan terhadap diriku (meludahiku), aku sangat khawatir membunuhmu hanya didorong oleh hawa nafsu (sebagai balas dendam dan pelampiasan kemarahanku). Jadi, aku sekarang membebaskanmu karena ingin meraih ridha Allah SWT.

Orang itu pun berkata, Seharusnya kelakuanku lebih memancing dan menyulut kemarahanmu hingga engkau segera membunuhku. Jika, agama yang kalian anut sangat mengajarkan toleransi (tasamuh), maka sudah pastilah agama yang lurus dan benar. Dengan demikian, aku menyatakan diri untuk masuk Islam.

Dari sekelumit kisah di atas kita bisa mengambil ibrah (pelajaran di balik sebuah peristiwa) dan ‘ubur (jembatan menuju sukses). Yaitu me-manage (mengelola) emosi. Inilah musuh kita yang berat kita lawan, kerena abstrak (tidak tampak). Kita melawan dan memusuhi diri kita sendiri.

Dalam posisi apa pun kita sangat memerlukan kecerdasan emosional ini.  Sebagai suami kita harus pandai memimpin istri dan anak-anak. Keberadaannya menjadi sumber kebahagiaan dan ketenteraman keluarga.

Kita dituntut untuk sabar, mau mendengar keluhan, empati terhadap orang lain, menghargai, memberi apresiasi, mau meminta maaf dan mudah memaafkan. Karena tidak mudah memaafkan sama dengan mengumpulkan kejelekan. Mau memberi maaf identik dengan mengumpulkan poin kemenangan. Serta tidak pelit untuk mengucapkan terima kasih atas keberhasilan orang lain.

Kecerdasan Sosial

Ciri ketiga orang yang bertakwa adalah memiliki kecerdasan sosial, ”wal ‘afina ‘anin-nas” (mudah memaafkan orang lain). Tidak mudah hidup bermasyarakat. Ada seribu satu masalah yang menyertai kehidupan bersama.

Karena manusia bukanlah kumpulan malaikat. Disamping memiliki kelebihan juga mempunyai banyak kelemahan. Di dalamnya tidak jarang terjadi fitnah, beredar gosip, gunjingan, ghibah, namimah dan adu domba.

Orang yang memiliki kecerdasan sosial tidak lari dari keadaan ini dan memilih hidup menyendiri (‘uzlah). Menjauhi keramaian. Justru dinamika yang terjadi di pandang sebagai romantika yang memperindah panorama kehidupan.

Orang yang memiliki kecerdasan sosial dapat menampung segala karakter manusia. Ia berjiwa permadani. Tidak berjiwa kerdil. Ia menyadari bahwa karakter kehidupan manusia di dunia adalah fluktuatif, mengalami pasang surut.

Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin yang bergaul dan sabar atas terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Senjata utama agar sukses bergaul adalah salamatush shadr (dada selamat dari jengkel kepada yang lain), dan al Itsar (mendahulukan orang lain melebihi dari dirinya), serta mudah memaafkan. Dengan memaafkan hati menjadi tenang, dan ibadah menjadi khusyu’.

Sebaliknya, orang yang sulit memaafkan orang lain, dadanya menjadi sempit, hatinya dipenuhi rasa dendam, dan pikirannya diliputi keinginan untuk  membalas. Ada sesal, marah, dendam, kecewa, dan sakit hati, menggumpal menjadi penyakit jiwa yang tidak ada obatnya. Jika ini dibiarkan maka energi positif pada diri manusia akan habis.

Memaafkan merupakan cara yang paling manjur untuk membebaskan manusia dari berbagai penyakit kejiwaan. Orang yang mudah memaafkan mentalnya sehat, pikirannya positif, hatinya lapang. Tentu, akan terbuka pula karunia dan rizki dari Allah Ta’aala.

Mari kita membuka pintu maaf seluas-luasnya untuk anak, istri, tetangga, teman sekantor, kerabat dekat dan kerabat jauh, mitra dan rival kita, seraya kita doakan agar kebaikan, keberuntungan, kesuksesan, kemuliaan, menyertai kehidupan mereka.

Kecerdasan Spiritual

Terakhir, orang bertakwa memiliki kecerdasan spiritual,  wa idza fa’alu fahisyatan aw zhalamu anfusahum dzakarullah, fastaghfaru li dzunubihim. Yakni, apabila berbuat kesalahan atau menganiaya diri sendiri. Mereka segera mengingat Allah SWT dan mohon ampun.

Tidak ada dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus dan tidak ada dosa yang disusul langsung dengan mohon ampun kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan (laa shaghirota ma’a ishrar wa laa kabirata ma’a istighfar). Konsekwensinya setelah itu akan naik garifik keimanannya. Karena ia sudah sadar dan minta dihapus kesalahannya. Suatu yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah sadar.

Betapa banyak manusia hari ini yang tidak memiliki kesadaran yang baik. Pemimpin tidak menyadari bahwa dirinya memikul amanah. Rakyat tidak menyadari bahwa dirinya harus taat pada pemimpin. Suami tidak sadar tugas dan tanggungjawabnya. Istri yang tidak sadar posisinya. Guru yang tidak sadar akan kedudukannya. Dan murid yang tidak sadar akan fungsinya.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual selalu merasa dimonitor oleh Allah SWT. Orang bertakwa memahami  bahwa dalam lintasan perasaan dan kesadaran yang paling dalam bahwa dirinya meyakini secara utuh bahwa Allah SWT selalu menyertai detik-detik kehidupannya (ma’iyyatullah), mengawasi (muraqabatullah), memparhatikannya (ihsan), dan selalu memberikan karunia kepadanya (ihsanullah).

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku, dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (QS. Asy Sy’ara (26) : 78-81).

Kecerdasan Intelektual

 Orang yang ‘alim dan bertakwa, maka cerdas lisan dan pikirannya serta hatinya. Sedangkan orang ‘alim yang tidak bertakwa, hanya cerdas  otaknya, lisannya, tetapi hatinya gelap dan sempit serta terjangkiti penyakit ruhani, serakah, sombong dan dengki.

Ketiganya adalah induk perbuatan dosa manusia sepanjang sejarah. Akan terhalang untuk memperoleh hidayah dan taufiq dari-Nya. Sedangkan orang yang bodoh, tetapi bertakwa maka otaknya sekalipun tidak cerdas, lisannya juga kurang lancar, tetapi hatinya cerdas dan steril dari penyakit ruhani.

Dengan hati yang bersih, sesungguhnya akan terbuka pikirannya. Insya Allah. Maka akan terbuka pula pintu-pintu ilmu dan karunia dari-Nya.

Dengan modal takwa seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Suatu ilmu yang mengantarkan pemiliknya bertambah dekat dengan Allah SWT. Inilah ilmu yang membela pemiliknya pada Mahkamah Ilahi (hujjatun lahu).

Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat akan menggugat pemiliknya di akhirat (hujjatun ‘alaihi). Jadi, ada ilmu yang menjadi wasilah kedekatan kepada Allah SWT (wasilatut taqarrub ilaihi) dan ada ilmu yang menjadi media untuk menjauhkan dirinya dari  Allah SWT (wasilatut taba’ud ‘anillah).

 Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah petunjuknya, maka tidak akan bertambah kecuali dia akan makin jauh dari Allah SWT (HR. Dailami).

Orang-orang yang paling pedih siksanya di hari Kiamat adalah orang ‘alim yang Allah tidak memberinya manfaat dengan ilmunya (HR. Thabrani).

Jadi dalam pemahaman yang merujuk referensi Islam (mafhumul Islam), iman dan ilmu adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ilmuan yang benar menurut Islam adalah ilmuan yang berhasil menyeimbangkan kehidupan di dunia dan akhirat, memadukan ilmu dan iman, teori dan praktek, doa dan ikhtiar, jasmani dan ruhani, otak dan batin, pikir dan zikir,  kecerdasan intlektual, kecerdasan finansial, kecerdasan, emosional, kecerdasan sosial, secara sinergis.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir (38) : 28).

Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Sadar akan keterbatasn dirinya dan sadar akan keluasan ilmu-Nya. Sehingga bertambah ilmu yang dimilikinya, ia semakin berisi (tawadhu’). Matang kepribadiannya.

Tawadhu artinya kaya berpenampilan sederhana, pejabat berpenampilan rakyat jelata, pandai berpenampilan bodoh. Kemudian lahir pencerahan baru dalam struktur ruhaninya bahwa yang diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini tidak sia-sia.

Logikanya, jika hamba selalu dekat dengan Allah SWT maka akan dekat pula dengan pertolongan, rahmat dan maghfirah-Nya. Sebaliknya, hamba yang jauh dari Allah SWT maka akan jauh pula dari rahmat, taufiq, hidayah, dan maghfirah-Nya. Ketika Adam taat dan berada di surga, Allah mendekat kepadanya. Ketika ia melanggar dengan makan buah khuldi, Allah SWT menjauhinya.

Sebuah penelitian medis baru-baru ini mengungkapkan adanya serangkaian perubahan dalam tubuh manusia selama ia dalam keadaan berdoa (shalat) atau meditasi. Menurut penelitian tersebut, perubahan pertama yang tampak adalah adanya integrasi pikiran sepenuhnya dengan alam semesta setelah lima puluh detik memulai doa (shalat) atau meditasi. Karena, ketika shalat seluruh indra lahir dan indra batin tunduk secara bersamaan kepada Allah SWT.

Studi yang dilakukan oleh Ramchandran, seorang peneliti Amerika, bersama-sama dengan sekelompok peneliti lainnya menunjukkan bahwa laju pernapasan dan konsumsi oksigen dalam tubuh manusia berkurang selama doa (shalat) dalam kisaran antara 20 dan 30%, di samping resistensi kulit meningkat dan darah tinggi lebih membeku.

Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa sebuah gambar yang ditangkap melalui CT scan menunjukkan adanya aktivitas kerja otak yang sangat menakjubkan selama seseorang itu berdoa (shalat). Tercatat bahwa gambar otak seseorang dalam keadaan berdoa (shalat) atau meditasi berbeda dengan gambar(otak) dalam keadaan normal. Aktivitas sel-sel saraf di otak telah berkurang dan terdapat warna mengkilap yang muncul di radiologi.

Ramchandran menegaskan bahwa hasil gambar ini merupakan bukti ilmiah mengenai apa yang yang disebut “spiritual transenden” dan kehadiran agama di dalam otak, yang membawa dampak terhadap seluruh anggota, seperti otot, mata, sendi dan keseimbangan organ-organ tubuh.

Ia juga menambahkan bahwa semua anggota tubuh mengirim sinyal ke otak selama seseorang berdo’a (shalat) atau meditasi, hal inilah yang menyebabkan aktivitas otak meningkat, sehingga otak kehilangan kontak dengan tubuh sepenuhnya hanya menjadi pikiran murni dan menarik diri dari alam dunia ke dunia lain.

Pada gilirannya, penelitian tersebut merupakan upaya yang signifikan dari para ilmuwan untuk mengungkap batas hambatan antara manusia dan rahasia otak. Penelitian ini mendapat apresiasi kepuasan dari sebuah penerbitan sains di AS. Penelitian ini penting untuk menjelaskan hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan.

Yang perlu diperhatikan bahwa hal ini benar-benar membantah hasil studi dan penelitian William James, seorang pelopor psikologi agama, sebelumnya tentang misteri agama dalam otak yang menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama adalah dua dunia yang sama sekali berbeda.

Bahkan, dengan angkuh William James mengatakan dua dimensi yang kontradiktif itu mustahil dapat dipertemukan untuk selama-lamanya. Dan, hari ini, kerancauan berfikir William James itu terbantahkan.

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hadid (57) : 14).

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian [tidak minta-minta karena ingin memelihara diri]. (QS. Adz Dzariyat (51) : 15-19).

_____________

USTADZ SHOLIH HASYIM, penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini sebagai pembina di Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

 

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.