Independensi Tauhid dan Hakikat Kemerdekaan

indonesia merdekaOleh KH Sholeh Hasyim

SESUNGGUHNYA kemerdekaan sejati adalah ketika kita siap diatur oleh sesuatu yang tidak berkepentingan kecuali untuk kebaikan pendakian mutu diri kita yang bermuara pada tauhidisme.

Kita beri peluang seluas-luasnya agar kedaulatan Allah tegak (tamkin) dalam diri, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. Seorang mukmin melakukan dan tidak melakukan sesuatu kecuali berada dalam orbit keinginan dan restu Allah Ta’ala.

Orang yang bertauhid memahami apa maunya Allah. Dengan membaca Al Quran, sama dengan berdialog langsung dengan-Nya. Kebebasan berpikir yang terbatas kita tundukkan dibawah cakrawala kalimat-Nya yang tidak terbatas.

Kemudian, karena sifat Rahman dan Rahim-Nya, maka ketergantungan kita kepada-Nya tidak merampas kemerdekaan kita. Jadi kita mentauhidkan Allah, karena kita menyayangi diri kita sendiri, sedangkan Dialah yang menjadikan diri kita makhluk yang terbaik.

Demikian pula, secara individu setiap manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka. Namun, dalam mempertahankan kehidupannya (gharizatul baqa), manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa bergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya.

Akan tetapi, setiap ibu telah dikaruniai Allah suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian rupa, sehingga setingkat hanya dibawah sifat Rahman (kasih sayang) Allah.

Oleh karena kasih sayang ibu yang ditujukan kepada anaknya ini demikian murninya dan tanpa pamrih sedikitpun, maka nilai kemerdekaan si anak tidak tercemar lagi ternoda oleh ketergantungannya kepada kasih sayang ibu pada tahap awal kehidupannya.

Kasih sayang ibu ini ditopang pula oleh kasih sayang ayah yang tingkat kesempurnaannya setingkat dibawah kasih sayang ibu. Dengan landasan kasih sayang yang ikhlas sesama anggota keluarga ini, seorang anak-anak mulai menjalani kehidupannya dengan merdeka di tengah-tengah pergaulan sesama manusia.

Oleh karena itu pula, durhaka kepada ibu merupakan dosa yang besar sesudah syirik. Dan tidak akan diampuni oleh Allah selama ibu sendiri tidak memaafkannya.

اثناَنِ يعَجِلهما الله في الدنيا البَْغيُ وَ عُقُوقُ الوالِدَينِ

ِRasulullah Saw bersabda: Ada dua dosa yang disegerakan di dunia ini yaitu al-Baghyu dan durhaka kepada orang tua (HR. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani).

Wahai anakku tersayang, janganlah engkau menyekutukan Allah, Sesungguhnya syirik adalah kezaliman (dosa) yang amat besar (QS. Luqman (31) : 13 ).

Dimensi Kemerdekaan

Semua Rasul diutus ke dunia untuk mengajarkan dan menegakkan independensi tauhid. Dengan karakter tauhid, seseorang memiliki kedudukan sama di hadapan manusia lain.

Karena itu, kita tidak boleh merendahkan orang lain karena dia sudah diangkat oleh Allah menjadi khalifah. Karena seseorang tidak dinilai dari posisi dan pendapatannya, tetapi dari peran yang dilakukan dan kontribusi yang diberikan serta peran-peran sosialnya (al ‘ibratu bid dauri wal ‘athaai laa bil manashibi wal wazhaaifi).

Kemuliaan seseorang tidak dinilai dari keturunan, suku, warna kulit, harta, kekuasaan, dan asesoris lahiriyah lainnya, tetapi dari bobot iman, amal shalih, dan ketakwaannya.

Ada seseorang itu hanya berprofesi sebagai tukang sayur, tukang bubur, tukang gali sumur, tukang gali kubur, tukang cukur, tukang lulur dan urut, sebuah profesi yang dilihat kebanyakan manusia dengan sebelah mata, tetapi jika memiliki mental suka memberi, dan yakin dengan memberi itu pasti memperoleh, maka dia adalah manusia yang terhormat.

Daripada seorang Gubernur, tapi tidak memiliki peran dan kontribusi sosial, bahkan melakukan KKN. Dia duduk di kursi hanya untuk berebut posisi, komisi, dan ambisi, serta intres pribadi. Idealnya kedudukan yang tinggi berbanding lurus dengan peran strategis yang dilakukan dan kontribusi yang diberikan.

Kualitas pemimpin tidak dinilai dari banyaknya statemen (katsratur riwayah), tetapi ditimbang dari kualitas pelayanannya dan keterampilan mendengar dari rakyat yang di bawah kepemimpinannya (katsratur ri’ayah wal istima’). Pemimpin sebuah bangsa adalah yang terampil melayani mereka (sayyidul qaumi khadimuhum), meminjam istilah Umar bin Khathab.

Pada zaman dahulu ada suatu kaum yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar (60 hasta). Satu hasta = 75 cm.  75 X 60 = 4500 cm = 45 m. Mereka memiliki keterampilan yang tidak tertandingi oleh banga manapun, memahat pegunungan menjadi aparteman mewah. Merekalah kaum Tsamud.

Tetapi, sayangnya, mereka tidak mampu mengelola karunia tubuh dan ketrampilan yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan mereka mengingkari-Nya. Besok di akhirat timbangannya lebih ringan dari sayap seekor nyamuk (janahu ba’udhah).

Rasulullah Saw bersabda dari Abu Hurairah :

انه ليأتي الرجل العظيم السمين يوم القيامة لا يزن عند الله جناح بعوضة وقال اقرءوا الأية : ….. فلا نقيم يوم القيامة وزنا

Sungguh, akan datang seorang laki-laki yang gagah dan gemuk pada hari kiamat yang berat timbangannya tidak seberat sayap nyamuk. Rasulullah Saw bersabda : Bacalah ayat berikut ini:

Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka,  dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian (timbangan)  bagi (amalan) mereka pada hari kiamat (QS. Al Kahfi (18) : 105).

Mengapa dakwah menuju tauhidullah selama 13 di bumi Makkah, hanya beberapa gelintir orang saja yang merespon, itupun dari kalangan kaum du’afa (lemah) dan mustadh’afin (tertindas)?.

Sederhannya, karena mereka tidak memiliki status quo.  Karena kemerdekaan obyek dakwah telah terkontaminasi oleh struktur (kekuasaan) dan kultur (lingkungan sosial) yang didominasi oleh dhannul jahiliyah (persangkaan jahiliyah), tabarrujul jahiliyah (perilaku jahiliyah), hamiyyatul jahiliyah (fanatisme jahiliyah), dakwal jahiliyah (seruan jahilyah).

Pada akhirnya umumnya masyarakat Makkah ketika itu terpenjara oleh kebodohan dan kegelapan. Efeknya, lahirlah pikiran yang jumud, ucapan tanpa arah, dan perilaku yang menyimpang.

Fenomena jahiliyah klasik berawal dari pikiran yang rusak karena kecanduan 200 macam bentuk minum-minuman keras. Akibatnya kemaksiatan dan penyakit moral (patologi sosial) demikian akut dan menggurita menjangkiti bangsa Arab saat itu.

Tauhid berusaha mengembalikan manusia kepada jati dirinya sebagai manusia. Ajaran keimanan, mencerdaskan otaknya, memperluas cakrawalanya, menghidupkan hati nuraninya, mempertajam emosi dan perasaanya, dan menggerakkanf fisiknya, secara bersamaan.

Dengan tauhid manusia menjadi utuh kembali semua unsur-unsurnya. Baik unsur akal (aqliyah), ruhani (ruhiyah), dan keterampilan fisik, jasadiyah (life skill). Tauhid, mampu memberdayakan potensi ijtihad, mujahadah, dan jihad, secara stimulan dan simultan.

Kebebasan, Bukan Kebablasan

Ketika manusia hilang kemerdekaanya, sejak saat itu kemanusiaanya telah terampas. Jadi, bobot kehidupan dan kematian seseorang sebanding dengan mutu kemerdekaanya. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk hidup, berarti membebaskannya dari keadaan yang membelenggunya.

Sebaliknya, ketika kita merampas kemerdekaan orang lain, berarti kita menjajah dan menindasnya. Maka, Islam anti penjajahan. Penjajahan fisik sungguh berbahaya. Dan lebih berbahaya lagi adalah penjajahan mental.

Oleh karena itu ada ungkapan Arab :

لا شيئ أثمن من الحرية

Tiada ada sesuatu yang lebih berharga melebihi kemerdekaan.

Seseorang  dikategorikan mati, sekalipun masih bernafas, berjalan-jalan, makan dan minum, melakukan profesi tertentu,  jika tidak merdeka. Seseorang yang mati secara fisik, karena ingin memperjuangkan kemerdekaan, sesungguhnya dia masih hidup di tengah-tengah kita. Karena, umur manusia itu ada dua. Umur jasmani dan umur ruhani.

Ahli sastra Mesir Syauqi mengatakan :

احفظ لنفسك قبل موتها ذكرها فان ا الذكر للا نسان عمر ثا ني

Jagalah dirimu sebelum wafatmu dengan membangun citra yang baik, sesungguhnya citra yang baik itu bagi manusia adalah umur yang kedua.

Para sahabat dahulu ketika diberi kesempatan memimpin, yang tertindas dikembalikan hak-haknya. Dan yang menindas, karena pengaruh kekuasaan, keturunan dan hartanya, diambil secara paksa, dan dikembalikan kepada yang berhak.

Setiap manusia yang lahir diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih (ikhtiar), berkehendak (iradah), berkeinginan (masyiah) untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu. Bebas untuk mencatat daftar kebutuhan dan deretan keinginan. Orang yang cerdas selektif dalam memenuhi kengininannya. Apakah keinginannya itu sesuai dengan kebutuhannya?.

Ada tiga level kemerdekaan yang merupakan karunia yang paling mahal. Tidak bisa ditukar dengan apapun. Kemerdekaan beragama (hurriyyatut tadayyun), kebebasan berpikir (hurriyyatul fikriyah), kebebasan berpendapat (hurriyyatul qaul). Hanya saja semua nikmat kemerdekaan itu akan dimintai pertanggungjawaban (QS. At Takatsur ayat 5).

Oleh karena itu, kemerdekan dan kebebasan yang diakui oleh Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Berbeda dengan orang Barat yang terkenal dengan pameo mereka: Berbuatlah sebebas-bebasnya asalkan kebebasanmu tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Itulah pola hidup masyarakat yang liberal dan hedonis. Mustahil, kebebasan kita tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain. Dalam Islam masyhur ungkapan berikut:

Apa yang dapat kalian korbankan untuk memberi kebebasan orang lain. Sebuah kebebasan yang terikat dengan nilai-nilai moralitas. Bukan kebebasan tanpa ada batas-batasnya. Budaya barat mengajarkan bagaimana kita mengambil. Dalam budaya Islam, diajarkan sikap mental memberi.”

Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, ada tiga komponen fundamental yang menjadi indikator khusus sebuah  kemerdekaan yang bertanggungjawab, adil, dan beradab (bermoral).

Pertama, al- Haqq laisa al-Fusuq (kebenaran yang sesuai dengan hati nurani, bukan kejahatan yang keluar dari ketaatan). Seseorang diberi kebebasan untuk memilih agama, karena kebenaran dan penyimpangan itu sudah jelas.  Kebebasan untuk berpikir ilmiah. Kebebasan untuk berpendapat. Karena, ketiganya merupakan hak. Merupakan cerminan dari jati diri manusia.

Manusia itu senang kepada kebaikan yang dikenali hati (al Ma’ruf). Senang kepada kejujuran, kelembutan, keadilan. Dan manusia itu benci kepada kebaikan yang diingkari hati (al Munkar). Benci kepada kebohongan, kesadisan, dan kezaliman.

Sebaliknya, atas nama kemerdekaan, seseorang tidak diperbolehkan untuk berbuat kolusi, korupsi, nepotisme. Seseorang tidak dihalalkan main perempuan, makan riba, mencuri, membunuh, minum-minuman keras, karena semua itu adalah perbuatan keji. Dan barangsiapa yang rusak moralnya sama dengan menyiksa dirinya sendiri (man saa-a khuluquhu ‘adzdzaba nafsahu), meminjam istilah Ali bin Abi Thalib.

Kedua, laa dhororo wa laa dhiror. Tidak menimbulkan bahaya. Dalam islam membahayakan diri dan orang lain dilarang. Islam diturunkan untuk memelihara enam kebutuhan primer. Menjaga akal (hifzul ‘aql), memelihara keturunan  (hifzun nasl), menjaga harta  (hifzul maal), menjaga agama  (hifzud din), menjaga jiwa (hifzun nafs), serta menjaga kehormatan (hifzul ‘ardh).

Ketiga, Al Iltizam bil adab wal ‘urf. Memiliki keterikatan yang kuat dengan adab dan tradisi yang baik. Mengedepankan adab dan kepatutan. Inilah yang menyempurnakan kriteria sebelumnya agar kemerdekaan itu bernilai dan berbobot.

Seseorang boleh memilih jalan mana saja yang ia sukai. Tetapi, ia harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas  untuk menjaga ketertiban bersama. Ketika ada lampu merah, berhenti. Ada lampu hijau, meneruskan perjalanan. Pejalan kaki berada di sebelah kiri jalan.

Jadi, untuk menciptakan masyarakat yang tertib, masing-masing individu harus mampu mengelola hawa nafsunya dan taat aturan. Bukan memberi peluang yang sebebas-bebasnya untuk melakukan apa saja yang diinginkan.

Jangan sampai terjadi, memilih demokrasi, tetapi menimbulkan anarki. Memilih kebebasan tetapi kebablasan. Berani berbuat, tetapi tidak berani bertanggungjawab. Selalu menuntut hak, tetapi tidak melaksanakan kewajiban. Ingin dipahami tetapi senang menyalahpahami. Ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar. Berbeda pendapat, tetapi hanya didorong oleh perbedaan pendapatan.

Sejatinya berbeda pendapatan tidak menjadi masalah, yang penting tidak berbeda pendapat.  Jangan dibalik, berbeda pendapat tidak masalah, yang penting tidak berbeda pendapatan.

Hari-hari ini bangsa kita tercinta sedang dalam euforia 70 tahun Indonesia merdeka. Indonesia memang bebas dari penjajahan pisik, tetapi secara mental dan kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, keamanan, tidak dapat melepaskan ketergantungan dari pihak asing.

Pertanyaannya, benarkah kita sudah merdeka!

___________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.