Liberalisme dan Kecemasannya

http://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-image33889799MERUYAKNYA perkembangan teknologi informasi khususnya internet tidak saja membawa angin segar bagi pelaku industri kreatif digital.

Momentum ini rupanya dimanfaatkan pula oleh kelompok-kelompok liberal dan pro-kebebasan, yang dalam hal ini kalangan liberal Islam.

Di Indonesia sendiri, jika kita coba kilas balik, sejak awal mencuatnya sebagai entitas resmi di tahun 2001 di Jakarta, sebetulnya aliran ini telah lama mati karena tak mendapat sambutan cukup dari khalayak.

Namun, seiring dengan terbukanya kran kebebasan berpendapat yang ditopang dengan gaung demokratisasi, mereka kemudian mencoba bangkit dari ketidakberdayaan itu.

Sejak awal perlangkahannya, kelompok yang kerap mengusung ide kesetaraan dan pluralisme agama ini lebih banyak memanfaatkan saluran internet untuk mentransmisikan buah pikiran mereka seperti melalui mailing list (milis) dan website.

Kelompok ini sebenarnya sempat mendapat ruang ekspresi di media cetak dan radio dimana kedua saluran itu memiliki jaringan nasional.

Namun lantaran gagasan-gagasan yang diutarakan dianggap tak cukup memadai memikat pembaca selain karena memang jauh dari konsepsi fundamental Islam yang selama ini diyakini umumnya masyarakat kita, akhirnya mereka benar-benar mati suri.

Saat ini, portal IslamLib.com dan yang terbaru MadinaOnline.id, agaknya menjadi semacam reinkarnasi dari batu nisan ketidaberdayaan mereka beberapa tahun terakhir. Hari-hari ini tanda-tanda keberadaannya tersebut mulai tampak lagi.

Selain kedua laman di atas sebenarnya masih ada beberapa laman lainnya yang menjadi representasi ide-ide kebebasan dan liberal Islam. Tetapi kita cukup menyebut kedua laman di atas karena hanya kedua situs ini saja yang kelihatannya cukup intens mentransmisikan konten.

Kecemasan

Seperti telah diketahui, umumnya narasi yang ditransimisikan oleh laman-laman yang mengklaim diri sebagai pembawa ide-ide kebebasan selalu menuturkan kecemasan dan kecurigaan, jika tidak ingin menyebutnya sebagai bentuk ketakutan tanpa dasar.

Menariknya, kekhawatiran mereka tersebut kemudian dikontsruksi dengan akrobat intelektual yang sebetulnya sama sekali tidak menghadirkan sesuatu yang baru dan dibutuhkan manusia modern abad ini, seringkali justru tampak kebingungan dalam telaahannya.

Seturut dengan itu, mereka dalam naskah-naskahnya seringkali menepikan teks-teks status quo bahkan berusaha mendekonstruksinya seraya mati-matian memuja akal yang jelas sangat terbatas kemampuannya.

Memang, nampak sekali ada kelainan (anomali) yang sangat akut yang menjangkiti teman-teman liberal Islam ini. Mereka mengasong ide-ide kebebasan dan kesalingpengertian tapi di waktu yang sama enggan berdamai dengan gagasan yang oleh kelompok ini dilabeli sebagai ide-ide puritan atau konsevatif.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya yang melatari kawan-kawan itu menggugat hal-hal yang sejatinya sudah baku atau dalam jumhur ulama sudah qath’I (pasti)? Alasannya, pertama-tama tentu adalah dalih kebebasan melakukan interpretasi yang bersandar pada logika semata, bukan pada teks teks seperti Qur’an dan hadits.

Bagi mereka, sebuah hukum yang dipercaya sebagai kebenaran di masa lalu bisa saja dipertimbangkan kembali sesuai konteks keadaan. Sesuatu yang tampak baik dan logis di masa lalu di tempat tertentu bisa saja menjadi tampak merugikan dan tidak masuk akal di masa kemudian dan di tempat berbeda.

Itulah diyakini oleh misalnya, Ade Armando, yang baru baru ini di laman web yang dipimpinnya menggugat kewajiban umat Islam melaksanakan ibadah haji. Dengan dalih kebebasan berpendapat, beliau tak ragu melakukan itu.

Menurut pria yang pernah dilaporkan ke polisi karena dinilai menghina Islam ini, kewajiban melaksanakan haji harus dipertimbangkan kembali. Yang lucu, Ade mendalihkan pendapatnya itu dengan sesuatu yang sebenarnya absurd karena jauh dari konteks yang bisa dipahami akal sehat.

Kecemasan serupa juga seringkali ditunjukkan oleh pendiri Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla. Lelaki yang baru-baru ini lantang menihilkan mukjizat para Nabi daripada teknologi ini pernah terlalu mengkhawatirkan tafsir monoteisme Islam, yang karenanya ia membuat pemikiran baru bahwa Kristen juga bertauhid.

Dalam artikelnya di Facebook itu, Ulil mencoba menguatkan argumennya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud mentauhidkan Allah dalam surah Al Ikhlas adalah konsepsi Tuhan punya putera biologis. Bukan putera spiritual-metafisik.

Karena itu menurut Ulil, orang Kristen adalah bertauhid, dalam versinya sendiri. Tauhid, menurut Ulil, dalam Islam pun ada perbedaan pendapat seperti tauhid versi Ibnu Taimiyah dan mazhab Asy’ariyah yang diikuti oleh NU.

Di sini Ulil tampak usil. Barangkali karena merasa terganggu dengan kiprah teolog dunia, yaitu Ahmed Deedat dan Zakir Naik, yang kita dikenal banyak mematahkan argumentasi kontra-Islam, Ulil dalam tulisannya itu lalu menyampaikan selamat tinggal buat keduanya dan good bye buat polemik teologis.

Maka, satir rasanya Ulil mengaitkan polemik teologis dengan sosok Ahmed Deedat dan Zakir Naik yang selama ini mampu menjadi pembicara perbandingan agama serta dapat diterima dimana-mana dengan gagasannya yang selalu tajam dan menukik ke pokok masalah.

Kesantunan dan logika kedua teolog ini memang diketahui sangat mengena dan terbukti mendapat simpati dari banyak pihak di dunia bahkan oleh kalangan atheis sekalipun. Hal terakhir inilah agaknya yang membuat Ulil merasa sedikit cemas.

Jika teman-teman ini adalah figur cinta damai, sejuk, dan benar sebagai muslim liberal, semestinya mereka tidak perlu menunjukkan kecurigaan dan kekhawatiran yang terlampau berlebih.

Sebab, faktanya, mereka kerapkali mencurigai sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicurigai apalagi dilihat menakutkan seperti soal ibadah haji dan parade tauhid.

Narasi kecurigaan yang ditunjukkan teman-teman liberal Islam, hemat saya, boleh jadi kemudian menjadi akumulasi kebencian terhadap pihak-pihak yang dianggap berlawanan. Kendati yang dicurigai tersebut tidak pernah benar-benar membahayakan siapapun.

Malah justru yang kita dikhawatirkan narasi kecurigaan itulah yang jangan-jangan sengaja dihadirkan untuk memantik pertikaian yang tidak perlu. Sebagian lainnya berpendapat boleh jadi narasi-narasi itu memang by order.

Saya pikir seorang Ade Armando yang paham komunikasi, seharusnya dapat menempatkan diri sebagai ahli tutur yang mampu meredam potensi konflik yang bisa saja dipicu salah satunya oleh transmisi narasi.

Daripada sibuk menaruh curiga kepada peserta Parada Tauhid, misalnya, maka sebaiknya Ade mencerna betul rangkaian acara tersebut tanpa perlu terburu-buru melekatkan umpatan kesana kemari.

Karena, sangatlah aneh sekali tuduhan beliau bahwa sepanjang orasi acara itu dipenuhi dengan seruan kebencian. Ahli komunikasi ini pun tak lupa menyebut sikap intoleran tokoh-tokoh Islam yang hadir dalam acara tersebut yang entah kesimpulan itu diambil dari mana.

Umat Cerdas

Patut disyukuri, umat Islam semakin dewasa seturut dengan kian bertumbuhnya pelbagai kanal-kanal komunikasi yang hari ini dapat menjangkau dan dijangkau siapa pun.

Kesadaran berislam yang berlandas pada pokok-pokok dasar agama dengan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai koridor utama, menjadikan umat ini semakin tercerahkan dengan pemahaman Islam yang luhur dan jauh dari tafsir-tafsir bias yang kerap diocehkan kelompok liberal.

Kondisi faktual ini tentu saja sangat tidak mengenakkan bagi kelompok penyeru kebebasan berfikir dan berkehendak. Kemajuan ini pulalah yang agaknya membuat ide-ide libertarian tak lagi mendapat ruang di masyarakat hari ini.

Walaupun nyata-nyata tidak perlu dicemaskan. Namun kecemasan terhadap perkembangan dan kesadaran umat Islam terhadap ajaran agamanya, tetap saja ada walaupun terlihat menggelikan. Tentu pembaca masih ingat ada LSM yang memprotes keberadaan sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) yang katanya tidak nasionalis karena suka menyanyikan lagu-lagu perjuangan Palestina.

Anda mungkin tertawa keras mengetahui ada orang yang begitu cemasnya dengan keberadaan SDIT. Tapi ini fakta, bahwa ternyata ada saja upaya kelompok tertentu yang berusaha mengkebiri kesadaran berislam masyarakat Indonesia kendati cara yang digunakan sungguh naif, lucu, dan tentu irasional.

Belakangan kemudian muncul pula isitilah Islam Nusantara dan Fikih Kebhinekaan yang digagas oleh dua ormas Islam besar tanah air. Sepintas memang tidak ada masalah toh itu hanya istilah saja. Sampai hari ini pun kedua istilah itu tetap menjadi bahan diskusi banyak kalangan, yang itu artinya gagasan tersebut debatable dan selalu menarik dibincangan, tentu tanpa kecurigaan.

Hanya saja, dengan seabregnya istilah-istilah yang seolah ingin menampakkan diri sebagai penyeru terbaik dan terdepan dalam wacana kebangsaan, yang nampak justru adalah inferioritas sikap beragama kita. Kita kelihatannya seperti tidak percaya diri dengan slogan otentik Islam itu sendiri.

Tanpa Islam Nusantara, tanpa Fikih Kebhinnekaan, sekalipun, umat Islam di Indonesia telah membuktikan diri sebagai umat toleran, pengayom, dan cinta kasih. Timbulnya “intoleransi” yang seringkali dialamatkan kepada umat Islam justru lebih banyak dipicu oleh pihak lain yang memang enggan berkompromi baik secara hukum maupun etika.

Jadi, sejatinya, kita tak butuh tafsir-tafsir rumit untuk mengejawantah keluruhan ajaran Islam. Kita hanya khawatir, jangan sampai isitilah-isitilah tersebut malah menjadi alat kelompok tertentu untuk proyek liberalisasi dan pluralisasi agama.

Akhir kata, kita kini hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Maka selalu kuatkan pertahanan. Semoga kita janganlah terperdaya. Mari terus mempelajari agama ini agar semakin cerdas tercerahkan dan kemudian meyakini serta mengamalkannya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka”. Sahabat bertanya. “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang Tuan maksudkan?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Siapa lagi?” (kalau bukan mereka). (HR. Muslim)

___________
Penulis adalah CEO Kaltim.tv dan pernah bersentuhan dengan ide pendiri Hidayatullah, Abdullah Said

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.