Awalnya Transaksional Menjadi Figur Ideologis Transendental

Manusia Transaksional Menuju Figur Ideologis TransendentalADA SEBUAH kisah yang menarik dan unik di dalam Al Qur’an. Kisah yang melukiskan betapa hebatnya energi kekuatan immaterial yang diserap dari telaga keimanan kepada Allah Ta’ala.

Orang beriman adalah orang yang sukses nan jaya. Sukses dalam arti yang luas, sukses secara utuh dan seimbang. Dan, pemiliknya (shohibul Iman) dapat mempertahankan di puncak kejayaannya.

Namun merintis jalan kesuksesan itu sulit. Dan, lebih sulit lagi mempertahankannya sampai di puncak keberhasilan. Orang yang beriman tidak mungkin dapat terkalahkan di dunia dan akhirat, karena bersandar kepadai Zat Yang Maha Kuat.

Orang beriman akan diberi kekuasaan, rizki, kehidupan yang baik, dilindungi oleh-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya, di muka bumi ini.

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al Mukminun (23) : 1).

Keimanan mengubur sedalam-dalamnya energi-energi negatif. Dan membangunnya dengan energi positif. Orang beriman tidak merasa bersedih hati, tidak merasa lemah, tidak berjiwa kerdil.

Orang beriman menghadapi segala sesuatu disikapinya dengan kalkulasi (perhitungan) keimanan-Nya. Menghitungnya dengan matematika Ilahi. Ia sudah kembali kepada Allah ketika masih hidup di dunia. Tidak ada peristiwa kecil dan besar, timbul dan tenggelam, pasang-surut, tanpa sepengetahuan-Nya.

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٣٩
Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (berada di posisi atas), jika kamu benar-benar beriman (QS. Ali Imran (3) : 139).

Dari Pragmatis
Sungguh sebuah kisah yang menarik, kisah nyata yang diungkap oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, bagaimana orang-orang yang pada awalnya bekerja, hidup, yang diburu adalah harta, kedudukan, pragmatis, tetapi ketika iman masuk di dalam lubuk hatinya, maka semuanya menjadi kecil, hal yang sederhana.

Bagi orangh-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala ini apa yang dimilikinya menjadi tidak berarti, tidak bermakna, tanpa ditemani oleh keimanan yang sudah dicicipinya.

Dimulai dari kisah perjuangan dakwah Musa kepada Fir’aun. Dengan spirit Laa ilaha illallah. Dengan spirit ini pula, Ibrahim menumbangkan imperium yang dibangun Namrud selama 400 tahun.

Setelah membakar Khalilullah (kekasih Allah) Ibrahim selama 50 hari, ia menahan sakit selama 400 tahun pula. Karena tidak dapat mengeluarkan tentara-tentara Allah berupa kutu, nyamuk, kecoak, yang masuk melalui lubang hidung, mulut, telinga, dan melekat di dalam otaknya, ketika tidak tahan menderita sakit selama empat abad, akhirnya ia memukul kepalanya sendiri dengan besi, dan meninggal.

Sejak saat itu, kehebatan Namrud tinggal puing-puingnya saja. Namrud hanya merupakan kejayaan masa yang silam.  Spirit kalimat thayyibah itu pula yang dijadikan landasan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk meruntuhkan struktur masyarakat jahiliyah sampai ke akar-akarnya.

Lalu ada pula Musa, anak angkat Firaun. Yang ingin dididik agar mewarisi kekayaan dan kerajaannya, ternyata berakhir dengan jalan cerita berbeda. Itulah keunikan kehidupan ini. Apa yang diimpikan orang tidak selalu terwujud dalam kenyataan.

Sekalipun ia mewujudkan obsesinya dengan dukungan symbol atau atribut kemegahan harta dan kemewahan kekuasaan. Terbukti secara empiris, kehidupan ini berada dalam genggaman Allah Ta’ala. Ia memutar roda kehidupan ini sesuai dengan iradah-Nya tanpa pernah berhenti. Dan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya.

Disamping itu, ada kisah lain yang lebih menakjubkan. Tentang kisah penasihat raja Fir’aun (sekelompok tukang sihir). Ketika Firaun dan disupport para tukang sihir untuk berkonfrontasi (adu kekuatan) dengan Musa Alaihissalam. Dan Musa membawa tongkat yang berasal dari Allah Ta’ala.

Tetapi, para pembesar kerajaan dan para tukang sihir memandang tongkat Musa secara lahiriyah. Ia ingin menandingi Musa dengan mendatangkan para tukang sihir. Para tukang sihir berkumpul di lapangan terbuka, dan membuat tali-temali berubah menjadi ular-ular kecil yang akan mematuk siapa, dan apa saja yang berada di hadapannya.

Dan inilah yang dicari sebelum tukang sihir beriman. Dan demikianlah yang dicari pada umumnya manusia. Yang diharapkan tukang sihir sebelum menunjukkan kebolehannya adalah persoalan-persoalan materi, persoalan perut dan dibawah perut. Ia secara transparan mengajukan permohonannya kepada Fir’aun sebelum konfrontasi dimulai.

أَئِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ٤١

Apakah sesungguhnya kami akan mendapatkan upah, jika kami yang menang (QS. Asy Syu’ara (26) : 41). Jika aku yang menjadi pemenang, wani piro? (berani memberi bonus berapa ). Kira-kira begitu dialog imajinatifnya dalam komunikasi kita di sini.

Tentu yang dimaksud oleh tukang sihir itu adalah kemudahan akses kekuasaan dan kekayaan dari Firaun. Dan itulah yang dicari para tukang sihir, paranormal, dukun, yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala.

Meraka berani mengelabui dan menyulap pandangan manusia dengan ilmu sihirnya, yang penting dapat uang. Ujung-Ujungnya Dhuwit (UUD). Sebelum pertandingan dilanjutkan, transaksi keuangan harus jelas terlebih dahulu. Ono rego ono rupo. Kedua, minta kejelasan posisi di jajaran kerajaan Firaun.

قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ إِذٗا لَّمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ٤٢

Ya, pasti. Dan sungguh jika kalian menang, maka tidak sekedar uang, tidak sekedar harta, tapi kalian benar-benar termasuk orang-orang yang dekat kepadaku (QS. Asy Syuara (26): 42).

Yakni, menjadi orang-orang istimewa di lingkungan istana Firaun. Ia akan memperoleh jabatan tinggi di dalamnya. Sebagai imbalan reputasi dan prestasinya dalam mengalahkan Musa as. Terjadilah apa yang terjadi. Nabi Musa berkata kepada tukang-tukang sihir itu. Sebelumnya diawali dengan ucapan tukang sihir.

قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ٤٣

Wahai Musa, kami yang duluan atau kami yang duluan (QS. As Syuara (26) : 43).

Nabi Musa menjawab, Silakan kamu duluan, dan keluarkanlah apa saja yang kamu miliki?.
فَأَلۡقَوۡاْ حِبَالَهُمۡ وَعِصِيَّهُمۡ وَقَالُواْ بِعِزَّةِ فِرۡعَوۡنَ إِنَّا لَنَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ٤٤

Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, Demi kekuasaan Fir’aun sesungguhnya kami yang akan menang (QS. Asy Syuara (26): 44).

Tali temali itu dilihat manusia secara lahiriyah menjadi ular-ular yang banyak sekali menjilat-jilat, dan sekan-akan siap memangsa siapa pun dan apa pun di hadapannya. Dan Musa sedikit gentar menghadapi ular-ular jadian itu. Wahyu turun kepada Musa agar melemparkan tongkatnya.

فَأَلۡقَىٰ مُوسَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ٤٥

Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan (QS. Asy Syuara (26): 45).

Tongkat Nabi Musa menjadi ular raksasa yang menelan habis ular-ular kecil yang dibikin oleh para tukang sihir Firaun. Setelah itu, apa yang terjadi. Ada sebuah fenomena yang muncul di luar dugaan Musa Alaihissalam.

Tukang-tukang sihir itu sekonyong-konyong sujud, seraya mengatakan:
فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ٤٦
Sesungguhnya kami menyatakan diri beriman kepada Rabb semesta alam (QS. Asy Syuara (26): 46).

Figur Ideologis
Ketika keimanan masuk di dalam jantung tukang sihir, ada keajaiban pada realitas kehidupannya. Lahir perubahan cara pandang, perasaan, sikap serta perilakunya selalu dalam takaran ideologis dan kesadaran transendental.

Iman bukan sesuatu yang jumud (beku). Iman bukan sekedar angan-angan. Sikap yang menonjol ketika sudah merasakan manisnya, getaran iman di dada, adalah langsung sujud.

Jadi, keimanan melahirkan ketaatan. Logikanya, kepercayaan itu perlu dibuktikan. Dengan sikap taat. Kekhusyuan di dalam hati, berefek pada kekhusyuan di pisik.

Tukang-tukang sihir itu langsung sujud secara spontan tanpa ada rasa takut dan gentar. Keimanan yang tidak melahirkan amal shalih sama jeleknya dengan amal yang tidak dilandasi oleh iman.

قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٧ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٤٨
Kami beriman kepada Rabb alam semesta. Tuhan yang disembah oleh Nabi Musa dan Nabi Harun (QS. Asy Syuara (26): 47-48).

Kebenaran telah dilihat nyata dengan mata hati dan mata kepala oleh tukang sihir. Bayangkan, apa kira-kira yang dilakukan oleh raja Firaun terhadap tukang-tukang sihir yang dikerahkannya di lapangan, justru sujud, masuk Islam, beriman kepada Allah Ta’ala. Mempercayai Musa dan menjadi pengikut setianya.

Firaun memang termasuk tipologi manusia yang melampaui batas. Sudah sering, kebenaran diperlihatkan oleh Musa di hadapannya, tetapi dia hanya bisa beriman di mulut.

Sudah seringkali dihadirkan ayat-ayat kauniyah, dengan terjadinya bencana alam, bencana sosial, hama wereng, Musa juga mengajak kembali kepada Allah. Dan Fir’aun menyatakan sanggup untuk bertaubat.

Setelah bencana dihilangkan, dia mengingkari janjinya sendiri. Seakan-akan peringatan nabi Allah itu tidak bermanfaat. Diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, sama saja. Melihat anak buahnya sujud kepada Musa, tidak menjadikannya sebagai pelajaran (ibrah), tetapi ia semakin murka. Dan mengancam kepada tukang-tukang sihir.

قَالَ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ
Jadi, kalian beriman kepada Musa sebelum aku beri izin kepada kalian (QS. Asy Syuara (26): 48).

Jadi, seakan-akan ia memposisikan dirinya Tuhan. Untuk beriman kepada Allah, tukang-tukang sihir itu harus memperoleh izin dari Firaun.

إِنَّهُۥ لَكَبِيرُكُمُ ٱلَّذِي عَلَّمَكُمُ ٱلسِّحۡرَ فَلَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَۚ
Sungguh, ia itu (Musa) yang telah mengajarimu ilmu sihir. Sungguh, kamu akan tahu akibat perbuatanmu itu (QS. Asy Syuara (26) : 48).

Apa akibat dan resiko yang akan kalian tanggung wahai tukang-tukang sihir?.

لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ أَجۡمَعِينَ ٤٩
Sungguh, benar-benar akan aku potong tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian secara silang dan kamu sekalian akan aku salib (ditancapkan dan dipaku di pohon-pohon kurma) (QS. Asy Syuara (26): 49).

Inilah peristiwa yang sangat menakjubkan. Manusia, yang tadinya mengharap dunia, memburu hadiah, mengejar jabatan, tetapi ketika iman masuk di dalam hatinya, bukan hadiah yang diperoleh tetapi ancaman dan intimidasi. Bukan ujian kesenangan. Tetapi ujian penderitaan dan kesulitan. Apakah sikap para tukang-tukang sihir menghadapi ancaman itu ?.

Mereka serempak menjawab, Wahai Firaun, tidak ada masalah. Kecil itu. Sekalipun kamu akan membunuh dan menyalibku. Lakukanlah, tidak ada masalah.

قَالُواْ لَا ضَيۡرَۖ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ٥٠
Mereka berkata, tidak masalah. Sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali (QS. Asy Syarah (26): 50).

إِنَّا نَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَٰيَٰنَآ أَن كُنَّآ أَوَّلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٥١
Sesungguhnya kami sudah sangat berharap Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami, dan kami betul-betul berharap menjadi orang-orang awal beriman (QS. Asy Syuara (26): 51).

Itulah keajaiban keimanan. Ketika keimanan sudah masuk di dalam diri seseorang, ia memperoleh kekayaan ruhiyah yang luar biasa. Dunia dan seisinya menjadi kecil. Jabatan dan kekayaan dipandang sebagai sesuatu yang sepele.

Keimanan yang teguh membalik secara drastis kondisi pemiliknya. Ketika keimanan masuk, apa yang dimilikinya semakin berharga, dan bermakna. Keimanan adalah sumber kemuliaan, sumber kejayaan, sumber kekuatan, sumber kebahagiaan.

Itulah tipologi mukmin sejati. Sekalipun mereka, awalnya gila harta, gila tahta, gila wanita, berselimut dengan dosa dan maksiat, ketika iman fungsional, Allah Ta’aala mengampuninya dan menghapus masa lalunya.

Mantan tukang sihir, mantan penjahat, mantan perampok, menjadi manusia-manusia dengan kesadaran barunya, manusia-manusia yang mulia. Dan dengan kesadaran dan struktur jasmani dan ruhani yang baru dan fresh, ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Sebaliknya, orang yang paling buruk di dunia ini adalah mantan ustadz, mantan santri, dan mantan orang baik, mantan orang yang berpegang teguh dengan wahyu. Seperti Qarun, Haman, keduanya menjual imannya untuk kepentingan dan kepingan dunia. Ia menggadaikan dan menukar keimanannya dengan harga yang murah.

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥
Wahai Muhammad, bacakanlah kepada kaum kafir Quraisy kisah seorang kaum Nabi Musa yang telah Kami karuniai pengetahuan agama yang benar, tetapi ternyata dia mengabaikannya. Maka setan memperdayainya terus-menerus. Karena itu dia termasuk golongan yang sesat. (QS. Al Araf (7): 175).

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ٢٢
Wahai Muhammad, siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengingkari peringatan Al Quran yang disampaikan kepada mereka?. Allah berfirman, Sungguh Kami akan menuntut tanggung jawab orang-orang yang berbuat dosa di dunia (QS. As Sajdah (32): 22).

___________
USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.