Berlakunya MEA Tuntut Dakwah Islam Harus Lebih Dinamis

Shofwan Al Banna ChairuzzadHidayatullah.or.id – Berlakunya pasar integrasi ekonomi negara-negara ASEAN atau MEA tidak saja mendesaknya kesiapan sumber daya manusia yang berkualifikasi, namun juga menuntut kegiatan dakwah Islam yang lebih dinamis dengan terobosan-terobosan kekinian.

Demikian kesimpulan yang berkembang dalam acara diskusi peluang dan tantangan dakwah Islam pasca MEA yang digelar Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di Jakarta, belum laman ini dan ditulis Hidayatullah.or.id, Senin (8/2).

Sekretaris Eksekutif Pusat Studi ASEAN Universitas Indonesia (UI), Shofwan Al Banna Chairuzzad, yang menjadi narasumber diskusi ini, mengatakan ormas Islam perlu untuk turut menjadi bagian lokus otoritas pemantau negara.

Apalagi, menurutnya, Indonesia dengan beragam keelokannya tak ayal selalu menjadi pusat perhatian siapapun.

“(Namun) kita perlu mulai berfikir, Jakarta memang penting diperhatikan dengan basis sosialnya. Tapi daerah juga perlu dilakukan. Agar bagaimana aktifitas ekonomi dan dakwah saling bertautan. Kemaksiatan saja bisa berevolusi dengan teknologi, masa dakwah tidak bisa,” kata Shofwan Al Banna.

Kata Shofwan, secara demogrfik, umat Islam ASEAN merupakan elemen demografis terbesar dari seluruh umat Islam dunia. Menurutnya, komposisi demografi umat Islam ini yang lebih muda dibandingkan umat agama lain. Karena itu, menurutnya, tantangan umat Islam di ASEAN adalan percepatan kualitas sumberdaya insani.

Secara geografik, kawasan ASEAN, khsusunya Indonesia, masa kini jauh lebih penting dibandingkan sebelumnya karena memiliki 3 alur laut yang vital bagi perdagangan dan pergerakan sumber daya alam dunia.

Namun, bukan berarti tidak ada tantangannya terutama ancaman geopolitik kawasan. Bukan tidak mungkin, menurut Shofwan, konfrontasi antar kekuatan-kekuatan besar dunia akan terkonsentrasi di kawasan ASEAN, khususnya berusaha mempengaruhi pusat pusat kekuasan.

Karenanya, kata Shofwan, umat mesti turut berkonsentrasi memperkuat pengaruh dakwah di daerah daerah. Dengan jumlah penduduk Muslim berusia produktif di berbagai profesi di ASEAN khususnya di Indonesia berpotensi mempengaruhi masyarakat ASEAN dan Asia Timur menjadi lebih Islami dengan penyebarluasan tenaga kerja dengan misi dakwah.

“Dakwah juga harus memanfaatkan tren kekinian dan penguasannya, apalagi penyebarluasan inovasi teknologi di kawasan ASEAN akan semakin cepat,” tukasnya. (ybh/hio)