Kenapa Beramah-tamah dengan Netanyahu dan ‘Israel’ Itu Sebuah Tindakan yang Salah?

wartawan indonesia dengan pm israel netanyahu2(Risalah dari Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah)

  1. Karena Netanyahu adalah pemimpin sebuah organisasi teroris dan penjajah  yang melakukan pembunuhan, penghancuran, dan perampasan tanah sejak Mei 1948. Organisasi teroris dan penjajah itu bernama ‘Israel’. ‘Israel’ bukan sekadar pelaku state terrorism, karena ‘Israel’ adalah teror itu sendiri sejak sebelum diumumkan keberadaannya secara internasional. Palestina yang menjadi tempat hidup damai antara kaum Muslimin, Kristen, dan Yahudi sejak dibebaskan Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187, menjadi kacau sejak penjajah Inggris masuk pada tahun 1917, dan semakin kacau sejak Inggris menyerahkan Palestina kepada gerakan zionis internasional, untuk kemudian diumumkan secara sepihak di atasnya berdiri negara palsu bernama ‘Israel’ pada 14 Mei 1948. Organisasi-organisasi teroris Yahudi bernama Irgun, Stern dan Haganah melakukan pembunuhan, pengusiran, perampasan dan pengusiran besar-besaran atas warga Palestina, yang secara internasional didukung oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Prancis pada saat itu. Apa yang dilakukan ‘Israel’ sejak itu sama dengan yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia selama 350 tahun. Bahkan lebih kejam dan sistematis.
  2. Karena Netanyahu bertanggung jawab atas banyak kejahatan terorisme, baik pada periode pertamanya jadi gembong ‘Israel’ (1996-1999) maupun pada periode keduanya (2009-sekarang). Kejahatan terorisme berskala luas yang menjadi tanggung jawabnya terjadi baik di kawasan Palestina yang terjajah, di kota Jerusalem atau Al-Quds, di Tepi Barat, dan terutama di Gaza. Diantaranya ialah serangan terorisme besar-besaran yang dilancarkan selama 8 hari ke Jalur Gaza pada bulan November 2012 dan selama 51 hari dari Juli sampai September 2014, yang membunuh lebih dari 3 ribu orang warga termasuk ratusan anak-anak di bawah usia 15 tahun serta membuat cacat seumur hidup dan luka-luka, serta guncangan jiwa lebih banyak lagi warga Gaza.
  3. Karena Netanyahu pendukung utama semua usaha jahat, baik yang dilakukan oleh parlemen, pemerintah, aparat bersenjata, maupun oleh para permukim ilegal Yahudi ‘Israel’, dalam rangka menghancurkan Masjidil Aqsha secara sistematis. Dimulai sejak Juni 1967 dengan pengepungan Masjidil Aqsha, penggalian terowongan-terowongan di bawah pondasi Masjidil Aqsha, pengusiran sistematis warga Palestina dari sekitar Masjidil Aqsha, penghancuran rumah-rumah dan perampasan tanah-tanah, teror terus-menerus terutama di Jerusalem atau Al-Quds Timur. Sampai dibolehkannya rombongan-rombongan permukim ilegal Yahudi masuk ke Masjidil Aqsha dan melakukan ritual Yahudi di dalam masjid. Penangkapan dan penyiksaan  pemuda-pemuda jama’ah Masjidil Aqsha. Sekarang sebuah rancangan undang-undang sedang dibahas diKnesset parlemen ‘Israel’ untuk membagi komplek Masjidil Aqsha yang luasnya 14,4 hektar menjadi dua: separuh untuk Muslim, separuh untuk Yahudi.
  4. Karena Pengadilan Nasional Spanyol melalui keputusan yang dikeluarkan oleh Hakim Jose de la Mata (12 November 2015) telah memerintahkan seluruh otoritas hukum dan keamanan Spanyol untuk memasukkan nama Benyamin Netanyahu dan enam penjahat ‘Israel’ lainnya ke dalam database nasional kepolisian Spanyol, untuk ditahan apabila sewaktu-waktu memasuki wilayah negeri itu. Keputusan Pengadilan Nasional Spanyol itu berkaitan dengan kejahatan ‘Israel’ berupa serangan bersenjata di perairan internasional atas kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara (31 Mei 2010) yang sedang dalam proses investigasi olehInternational Criminal Court (ICC) di The Hague. Dalam serangan itu telah dibunuh 10 orang relawan kemanusiaan dan cedera lebih dari 50 orang, serta ribuan ton bantuan kemanusiaan dan perlengkapan relawan dirampas. Tindakan hukum terhadap kejahatan Netanyahu dan ‘Israel’ terhadap Mavi Marmara dan kapal kemanusiaan lain itu juga sedang diproses di pengadilan Afrika Selatan dan Turki.
  5. Karena beramah tamah dengan gembong teroris Netanyahu sama dengan mencela sikap yang telah dipegang Indonesia sejak merdekanya yang mengutuk semua bentuk penjajahan dan bertekad menghapusnya. Kunjungan dan ramah tamah dengan Netanyahu dan ‘Israel’ melegitimasi penjajahan dan teror itu dengan memperlakukan organisasi teror dan gembong terorisme sebagai negara dan negarawan yang pantas dimuliakan. Apalagi pada saat yang sama dengan mengabaikan warga Palestina yang merupakan korban  teror dan penjajahan yang sudah berlangsung selama 68 tahun, yang sedang berjuang melakukan perlawanan terhadap terorisme dan penjajahan ‘Israel’ sebagaimana pernah dilakukan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda.
  6. فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ  وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

“Maka janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah dan Utusan Allah). Mereka menginginkan engkau bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak pula. Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa, yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya.” (Kalimat Allah dalam Al-Quran surah Al-Qalam ayat 8-13)

 

Jakarta, 20 Jumadil Akhir 1437 / 29 Maret 2016

Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah

 

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.