Lahirnya Peradaban Islam Berawal dari Dakwah Fardhiyah

peradaban islamHidayatullah.or.id – Lahirnya peradaban Islam berawal dari dakwah fardhiyah. Sebagaimana Rasulullah mengutus para sahabat berdakwah secara fardhiyyah ke beberapa daerah atau negara.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, saat memberikan taushiah di hadapan jamaah Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini (25/2/2017).

Dakwah fardiyah adalah ajakan atau seruan kejalan Allah Subhanahu Wata’ala yang dilakukan seorang dai (pendakwah) kepada orang lain secara individual, dengan tujuan memindahkan mad’u (yang diseru) pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah Ta’ala.

“Salah satu diantaranya Mushab bin Umair yang diutus ke Yastrib untuk berdakwah di sana. Sehingga berhasil mengajak beberapa penduduk Yastrib masuk Islam dan merekalah yang menjadi kaum Anshor yang menerima hijrah Rasulullah,” katanya.

Beliau mendorong segenap kader agar menderapkan langkah lebih massif. Maka, lanjutnya, sosialisasi kebijakan Dewan Pengurus Pusat terkait Kartu Anggota, infak organisasi dan dakwah fardhiyyah adalah bagian dari konsolidasi organisasi.

“Sehingga jamaah Hidayatullah tidak boleh lepas dari komando. Harus dalam halaqah. Karena untuk menghadapi kondisi fitnah akhir zaman kita harus kuatkan keimanan dan komando kepemimpinan,” imbuhnya.

Maka itu, terangnya, para kader yang diberi amanah sebagai murabbi, ketua, muallim atau kepemimpinan di halaqah harus mengkondisikan anggota halaqah, mendekatinya lagi, dan kasih sayang ditingkatkan untuk meningkatkan keimanan anggotanya.

“Harus ada tekad terkait peningkatan spritual,” tegasnya.

Waspada Komunisme

Pada kesempatan tersebut beliau juga mengingatkan bahaya komunisme yang telah dilarang oleh negara sebagaimana termaktub dalam UU 27/1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan keamanan negara.

Dalam UU 27/1999 tersebut pada pasal 107, disebutkan bahwa upaya dengan lisan, tulisan maupun media apa pun menyebarkan atau mengembangkan ajaran Marxisme, Komunisme, Leninisme dalam segala bentuk dan wujudnya dipidana dengan pidana paling lama 20 tahun penjara.

“Informasi pergerakan komunis di Indonesia bukan isu. Yang ngomong bukan orang kecil tapi para jenderal, tokoh tokoh, penyair negeri ini untuk banyak menyampaikan bahaya komunis. Bahkan mereka mengatakan, ‘yang berkata komunis isu maka harus dicurigai dia bagian dari komunis,” imbuh beliau.

Maka beliau sarankan untuk membuat Front Anti Komunis bersama komponen umat Islam yang lain.

Namun, ia mengingatkan, kita tidak perlu takut dengan ancaman komunis, tapi harus ada persiapan untuk melawan dengan apa saja agar tidak konyol atau mati sia sia.

“Persiapan itu bagian syariah. Tak perlu takut kecelakaan atau mati, karena mati itu pasti. Mati dalam perjuangan melawan kebathilan atau memperjuangkan Islam adalah syahid atau kemulian,” ingatnya.

Beliau mengungkapkan, hidup ini bukan hanya untuk makan, tidur, tua lalu mati. Apa artinya hidup orang Islam tanpa memperjuangkan Islam sebagai agamanya.

Ditambahkannya, lahirnya tokoh tokoh besar dalam pergerakan akhir zaman bisa lahir dari gerakan tarbiyah. Maka harus ada keterlibatan dari semua pihak dalam tarbiyah dengan meningkatkan spritual, mental, intelektual dan moral.
Moral paling tinggi adalah berani. Keberanian yg dikelola dengan baik. Para pemimpin yang masih muda muda harus berani dan sedikit nekat untuk membuat program yang revolosioner dan progressif,” tukasnya.

Dia mengingatkan agar kader siapa saja dan di institusi manapun coba mengajak orang untuk shalat atau mengaji. Kalau tidak mau, didoakan agar mendapat hidayah, selamat dunia akhirat.

“Sebagaimana Rasulullah mendoakan tokoh tokoh Makkah Madinah. Diantaranya dua Umar yang berhasil masuk Islam. Perlu berdakwah dan mendoakan tokoh tokoh untuk menguatkan dakwah Islam,” katanya.

Dia menjelaskan, komando spritual dengan pekikan takbir yang bisa menggetarkan musuh sekaligus memberikan spirit orang beriman. Gelora Sukarno di Jakarta dan gelora Bung Tomo di Surabaya dengan takbirnya berhasil mengusir penjajah.

“Sehingga program dakwah fardhiyyah itu ringan, enteng sekali. Sederhana tapi dampak atau dibelakangnya ada kekuatan yang besar utk keimanan dan dakwah Islam. Tanpa atau mandeknya dakwah menjadikan berhentinya peradaban sebagaimana kerajaan atau peradaban Islam yang tinggal hanya museum, tempat wisata saja,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, kita perlu perkuat gerakan ibadah nafiilah (sunnah yang dianjurkan) yang dalilnya jelas dan yang melaksanakan amalan amalan nafilah adalah waliyullah yg Allah akan membelanya.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ

“Barang siapa memusuhi salah seorang wali-Ku, sungguh Aku umumkan peperangan padanya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan suatu (ibadah) yang lebih Aku cintai daripada ibadah/amalan yang Aku wajibkan atasnya. Senantiasa hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan ibadah/amalan nafilah hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari no. 6502, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hadits di atas menerangkan bahwa ibadah-ibadah nafilah merupakan salah satu sebab memperoleh kecintaan dan pembelaan dari Allah. “Sehingga perlu ada gerakan nafilah yg termanajemen, terorganisir dan massif,” pungkasnya.
*/Abdul Ghofar Hadi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.