Ada Simpul Erat Persaudaraan Islam dalam Bersin

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 80

Hidayatullah.or.id – Ada satu perkara dalam Islam yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam, termasuk para zionis dan Yahudi, yaitu ukhuwah Islamiah.

“Dan apabila ini telah terjalin, maka tak ada satu senjata produk tekhnologi kekinian, temasuk senjata pemusnah masal, mampu menghancurkannya,” kata Ketua DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Baraty (NTB) ustadz Syaifuddin Nawawi di sela kunjungannya ke Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, baru baru ini.

Tersebab itu, kata dia, musuh-musuh Islam senantiasa berupa mencari celah-celah untuk merenggangkan hubungan ukhuwah Islamiyah ini.

Di lain sisi, Islam sangat menekankan agar umat Islam senantiasa menjalin ukhuwah Islamiah. Iming-iming pahala nan besar diberikan, agar ada daya tarik untuk menjaganya.

Mengingat pentingnya perkara satu ini, hatta Islam menuntun umat ini untuk memiliki kepekaan yang luar biasa untuk menjalinnya. Sensitivitas harus dibangun.

Lalu dengan cara apa? Hal-hal yang ringan. Alias remeh temeh. Salah satunya, kata Ustadz Syaifuddin, adalah bersin.

“Apa istimewanya bersin? Setiap orang mengalaminya. Sehari bisa berkali-kali. Jadi, secara kasat tidak ada spesialnya. Hatta, minim sekali kajian ilmiah yang mengupas,” tukasnya.

Tapi bagaimana pun juga, bersin adalah satu nikmat dari Allah. Bayangkan, bagaimana tidak nyamannya, bila mengalami keinginan bersin, tapi tak kadung jadi.

“Hidung terasa gatal. Kenyamanan terganggu. Ada rasa ketidakpuasan di sana. Dipaksa-paksa juga tidak bisa,” bayangnya.

Namun, ketika mampu mengeluarkan bersin, meskipun hanya sekedir berbunyi, “hachi..!,” kecil saja suaranya (apalagi samapai keras), rasa nyamannya luar biasa. Nikmat sekali. Sekujur tubuh terasa lega, terutama hidung.

Di situlah terletak nikmat Allah yang diberikan di balik bersin. Untuk itu, si pembersin harus bersyukur kepada-Nya, karena telah diberi kenikmatan; bisa bersin. Tuntunannya, Ia kudu mengucapkan tahmid; “Al-Hamdulillah (segala puji milik Allah), ” ucapnya.

Nah, teman yang mendengar, kudulah ikut merasakan kebahagiaan, mendapati berita (via suara bersin dan ucapan tahmid) sahabat memperoleh nikmat dari Allah.

Karenanya, mendoakan kebaikan, menjadi sebaik-baik ungkapan. Maka berucaplah; “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).”

Memperoleh doa kebaikan macam ini, maka tak ada pilihan lain bagi seorang mukmin nan baik hatinya, kecuali membalas kebaikan itu dengan kebaikan serupa (bahkan kalau bisa lebih baik).

Maka, kudu membalas doa itu dengan memunajatkan seuntai doa; “Yahdikumullah (semoga Allah memberi engkau hidayah.”

“Inilah kemudian yang dimaksud dengan, menghidupkan kepekaan dalam berukhuwah. Terhadap bersin saja, kaum muslimin dituntun sedemikian rupa peduli atas kebahagiaan saudara. Maka, apa lagi urusan yang lebih besar,” katanya.

Luar biasanya lagi, tuntunan ini diwajibkan sesama mukmin atas mukmin yang lain, maukah yang dikenal, atau pun tidak.

Artinya, iman menjadi barometernya. Selama ia beriman, maka ia adalah saudara, tak peduli dari bangsa manapun berasal. Maka ukhuwah, harus dirajut.

“Kalaulah harus digambarkan dalam layar lebar, maka ukhuwah islamiah itu, kisahnya akan jauh lebih indah, dari kisah cinta antar manusia yang dibuat oleh para sutrada manapun juga,” demikian simpul Ustadz Syaifuddin.*/ Khairul Hibri

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.