Mencari Tempat Shalat di Kota Roma

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

ROMA (Hidayatullah.or.id) – Tugas perjalanan dua peneliti Lembaga Studi Pengembangan dan Peradaban (LSIPP) yang juga anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang tengah mempersiapkan penulisan buku “The Dome of The World” sarat dengan cerita menarik.

Kunjungan yang dilakukan Suharsono dan Naspi Arsyad itu merupakan rangkaian riset lapangan dalam rangka melengkapi buku yang akan diterbitkan oleh DPP Hidayatullah tersebut dengan menyusuri beragam situs sejarah di daratan Eropa Barat termasuk Italia.

Kamis lalu rombongan ini telah tiba di Kota Roma. Mereka kemudian melakukan napak tilas dengan mengunjungi situs sejarah di kawasan tersebut termasuk ke Vatikan yang didampingi tour guide.

Berada di tempat asing dengan populasi muslim yang minim tentu bukan perkara mudah, terlebih urusan ibadah. Apatah lagi bila berada di negara dengan sentimen keagamaan terhadap muslim yang tidak terlalu positif seperti di Roma, Italia.

Hal inilah yang sempat dirasakan Suharsono dan Naspi saat ‘first sight’, saat kunjungan pertama ke markas kesebelasan AS Roma ini.

“Mencoba mencari masjid untuk melaksanakan shalat ashar, ternyata memerlukan ‘seni mencari’ yang cukup berliku. Apatah lagi Roma bukan daerah yang akrab bagi kami,” kata Naspi dalam keterangannya diterima media ini, Sabtu (19/08/2017).

Bertanya dan bertanya adalah modal umum bagi semua traveller agar tak sesat di jalan. Begitupun rombongan ini, saat waktu ashar mulai menipis meski telah melakukan pencarian dalam waktu yang cukup lama.

“Hingga akhirnya kami bertemu dengan pedagang Muslim, yang sedang ‘bertugas’ di daerah wisata Trevi fountain dan mengarahkan kami ke suatu jalan yang -tentu saja- asing bagi kami,” kisah Naspi.

Tapi, karena shalat adalah syariat paling prinsip bagi umat Islam, maka ‘the show must go on’, kalau perlu naik taksi menuju jalan yang disebutkan.

“Ternyata pencarian kami tidak bersifat otomatis. Berada di jalan Victoria Emmanuel, lokasi di mana Masjid yang dituju berada, tak langsung menghadirkan kami di rumah Allah,” imbuhnya.

Saat turun dari taksi bersama sopir yang kesulitan mengeja kata ‘masjid’, pencarian tak juga berakhir. Hingga akhirnya keduanya terdampar di sebuah mini market dengan wajah Asia yang cukup familiar.

“From Bangladesh?” todong Naspi.
“Yes” jawabnya ramah.

Menuturkan secara singkat tujuannya, sang Bangladesh dengan senang hati menawarkan mini marketnya untuk keduanya menunaikan shalat.

“Thank you very Much, brother” ucap Naspi sambil menggenggam erat tangannya. “Semoga Allah memberkahi usaha dan bantuanmu” tambahnya membatin..

Warung Halal di Kota Pisa

Menyusuri Kota Pisa bagaikan pusaran besar air yang mengitari satu sumber utamanya yang di bilangan Toscana, Italia Tengah ini, dikenal dengan Menara Miring Pisa.

Menara dengan tinggi 55 Meter dengan 7 lantai yang terlihat miring seakan menjadi ruh pariwisata kota yang berpenduduk sekitar 90 ribu jiwa ini.

Tak heran bila para wisatawan mengerucutkan pandangan hanya ke arah menara miring ini yang dikawal dengan 2 ‘adiknya’, gedung Baptistery dan The cathedral.

Namun, dari semua pemandangan yang mengapit sang tokoh utama, sebuah ‘warung’ dengan judul yang biasa saja mampu menarik perhatian penulis, “Halal Food and Kebab”.

Menarik karena berada di kota dengan wisatawan yang umumnya tidak terlalu mencari makanan halal karena mereka tak berniat untuk berlama-lama di Pisa, menghindari biaya tinggal yang mahal.

“Pemilik restoran ini adalah saudara saya dan dia memiliki perspektif bisnis yang cenderung berbeda” terang manager restoran, Muhammad Abdullah Muslim.

Pria Bangladesh ini mengakui bahwa membuka bisnis kuliner dengan label agama bukanlah pilihan populer di Pisa.

“Banyak wisatawan yang mencibir hingga menghindari restoran ini karena pemiliknya pasti seorang muslim,” tambahnya.

Tapi, cemoohan itu tak menyurutkan semangat Muhammad Abdullah karena selalu saja ada konsumen yang memasuki restorannya, walau bukan seorang muslim.

“Pilihan kami memang beda, tapi perbedaan kami karena agama dan kami tak takut berbeda karena sebab agama” pungkasnya tegas.*

_______
(Laporan Naspi Arsyad kepada Hidayatullah.or.id, langsung dari rangkaian perjalanan tugas riset lapangan dalam rangka penulisan buku “The Dome of The World” ke Eropa)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.