Warisan Luhur, Hidayatullah Mantapkan Nikah Mubarak

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Muhammad Arasy Arhat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sebagai institusi yang memprakarsai program pernikahan massal di Indonesia bahkan boleh jadi pertama di dunia, Hidayatullah akan memantapkan program tersebut mengingat urgensinya sebagai warisan luhur pendahulu Hidayatullah.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Muhammad Arasy Arhat mengatakan pernikahan massal yang rutin diselenggarakan Hidayatullah merupakan kekayaan tersendiri yang menjadi ciri khas Hidayatullah.

“Karenannya, akan kita mantapkan terus agar tradisi ini senantiasa terawat karena memang merupakan kekayaan lembaga yang tidak ada di tempat lain,” kata Arasy belum lama ini dan dikutip Hidayatullah.or.id, Rabu (18/10/2017).

Arasy melanjutkan, kendati saat ini bermunculan kegiatan serupa namun program pernikahan massal Hidayatullah terbilang unik sebab memuat nilai-nilai khas yang berbeda yang berlandas pernikahan yang sesuai syariat Islam.

“Makanya, walaupun acaranya pernikahan massal tapi kita namakan pernikahan mubarakah. Ada nilai-nilai keberkahan yang ingin kita raih dari ikhtiar ini,” kata Arasy.

Sekedar diketahui, pernikahan massal mubarak Hidayatullah digelar kali pertama pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah.

Setelah yang pertama, tradisi pernikahan mubarak ini terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Pada tahun 1991 terdapat 47 pasang yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan H Azwar Anas.

Selanjutnya, tahun 1994, digelar pernikahan mubarak sebanyak 61 pasang yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.

Lambat laun, helatan ini terus digalakkan. Bahkan pada tahun 1997, Hidayatullah menggelar pernikahan serupa dengan peserta yang cukup prestisius yakni sebanyak 100 pasang santri yang dihadiri oleh tokoh nasional dan lokal Kalimantan Timur termasuk mantan Walikota Balikpapan Asnawir Arbain yang juga dikenal sebagai sesepuh Hidayatullah.

Prioritaskan kader

Peserta pernikahan mubarak diperuntukkan bagi kader atau santri-santri Hidayatullah yang telah memasuki usia matang. Sebagaimana gelaran serupa yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, peseta berstatus perjaka dan gadis.

Pernikahan mubarak Hidayatullah murah meriah. Jika umumnya menikah kerap harus mengeluarkan biaya mahal untuk mahar, resepsi acara, dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.

Modalnya biasanya cukup 1 atau 2 juta, itupun untuk keperluan pengurusan peserta seperti surat-surat administrasi, mahar, pagelaran resepsi acara.

Anggota Dewan Majelis Penasehat Pusat, Ustaz H Abdul Qadir Jailani, yang juga perintis Hidayatullah, mengatakan tugas memasangkan puluhan calon mempelai jelas bukanlah pekerjaan ringan.

Itulah mengapa, kata dia, tim SC yang ditunjuk merupakan orang-orang berpengalaman yang juga mayoritas kader pendahulu Hidayatullah.

“Ada penelusuran peserta dari aspek pemahaman keislaman, kehidayatullahan, pernikahan, dan kepribadian. Semua peserta harus melawati proses ini. Ada 2 tim yang menangani ini,” jelas Abdul Qadir.

Tujuan penelusuran, lanjutnya, semata-mata untuk mengetahui kesiapan dan persiapan peserta sebagai imam di rumah kelak, serta sebagai ajang seleksi peserta. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.