Meng-Hidayatullah-kan Alam Semesta dengan Dakwah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Merupakan amanat bagi segenap umat Islam khususnya kader Hidayatullah untuk menebarkan cahaya Islam agar nikmat dan indahnya hidayah Allah dapat dirasakan oleh segenap umat manusia di alam semesta.

Demikian benang merah taushiah disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH DR Abdul Mannan, MM, saat menjadi narasumber dalam acara Silaturrahim Wilayah Hidayatullah Jabodebek di Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu dan dtulis pada Kamis, (19/7/2018)

“Berdakwah dalam rangka membawa pesan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Semua kita ajak agar mendapatkan Hidayah Allah, Hidayatullah. Masuk dalam shaf yang mendapatkan Hidayatullah,” katanya.

Beliau menjelaskan, misi lahirnya Hidayatullah untuk menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam sehingga dengan demikian nama “Hidayatullah” dilandasi atas spirit menerbarkan cahaya/hidayah Islam tersebut.

Menebarkan cahaya Islam sarat dengan tantangan. Ia mengungkapkan, masa perintisan dakwah yang dilakukan Hidayatullah dijalani dengan tidak ringan. Dikirim berdakwah tanpa duit dan tempat tujuan yang belum jelas. Jangankan mobil, sepeda motor pun tak ada. Meskipun demikian, di masa itu, semangat dakwah selalu membara.

Sehingga, beliau menasihatkan, hendaknya kader-kader muda Hidayatullah harus terus menjaga ritme tradisi tersebut. Dan seiring dengan itu, kader Hidayatullah perlu membekali diri dengan kecakapan dan keilmuan yang memadai.

“Kalau sudah mapan seperti sekarang ini, sudah ada honor bulanan, silaturrahim yang dilakukan harus membawa ideologi. Membawa konsep. Siap adu gagasan,” ujarnya.

Dengan setengah berseloroh, beliau mengatakan jangan sampai mengaku dari Hidayatullah tapi tidak berhidayatullah. Ia mengingatkan warga Hidayatullah harus berhidayatullah tidak saja spiritualnya tapi setiap aspek kehidupannya, diantaranya dengan menghidupkan dakwah Islamiyah kapan dan dimanapun.

Beliau pula mengingatkan pentingnya membangun militansi pengabdian setiap kader dalam dakwah di segala aspek kehidupan. Tugas dakwah dalam bidang pendidikan misalnya, jangan sampai pendidik hanya berorientasi materi/gaji (kompensasi) semata.

Hidayatullah sebagai gerakan sistemtik, lanjutnya, tidak cukup sekadar dijalani paruh waktu atau sisa waktu yang ada, tetapi menurutnya perlu komitmen menjalaninya secara fulltime.

Karena itu, ia mengingatkan, kader Hidayatullah mesti selalu berupaya menjaga spiritual sehingga ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Beliau menyebut kekuatan dimensi ini dengan istilah “spiritual hiperaktif”.

Ia mengatakan, spiritual hiperaktif akan mengundang pertolongan Allah SWT bahkan terhadap hal-hal yang mungkin dianggap mustahil.

“Dengan kedipan, keluar duitnya. Bisa. Asalkan spiritualnya sudah hiperaktif. Kalau spiritual belum hiperaktif, ndak bisa. Lalat saja ndak gerak, apalagi orang,” selorohnya dengan gaya khas beliau yang disambut tawa hadirin. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.