Hijrah dan Tradisi Menulis

MOMENTUM Muharram, bagi umat Islam sangat lekat dengan peristiwa Hijrah. Muharram adalah bulan pertama sedang peristiwa hijrah menjadi patokan tahun pertama menurut penanggalan umat Islam.
.
Sebagai peristiswa besar dalam sejarah Islam, hijrah kerap dijadikan landasan pacu atau titik loncat bagi satu perubahan yang diinginkan. Meski untuk diketahui, Nabi hijrah ke Madinah terjadi pada akhir bulan Shafar, bukan di bulan Muharram.
.
Dikisahkan, saat itu, dakwah kaum Muslimin di kota Makkah, tempat pertama turunnya wahyu, nyaris seperti stagnan alias tIdak mulus berkembang.
.
Intimidasi yang tiada henti dari pembesar masyarakat Makkah, kian diperparah dengan resistensi penduduk kota tersebut dalam menerima risalah Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam terindah selalu tercurah bagi sosok manusia paling mulia di dunia.
.
Parahnya, ancaman itu bukan lagi sekadar teror psikis tapi sudah sampai menyebabkan fisik para sahabat ikut terluka hingga meregang nyawa.
.
Hingga akhirnya turunlah titah dari langit yang mengizinkan umat Islm hijrah ke kota Madinah. Memulai hidup baru di sana. Meski resikonya, tak satupun harta yang bisa dibawa kecuali pakaian yang melekat pada badan generasi manusia terbaik itu.
.
Singkat kata, mari belajar menulis dari kisah hijrah di atas. Pelajaran pertama, setiap orang, apalagi yang mengaku masih pemula, biasanya dihantui dengan “block writers”.
.
Jika itu terjadi, maka langkah pertama, silakan hijrah ala penulis. Hijrah kemana? Ya kemana saja yang disukai atau setidaknya beralih ke pekerjaan lain sementara waktu dulu. Durasinya tentu saja bersifat relatif, sebab intinya hijrah itu untuk menemukan momen dan semangat baru dalam menulis.
.
Pelajaran kedua, biasanya penulis diperhadapkan kepada rutinitas harian yang kian menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Apa? menulis setiap hari? Ini saja (pekerjaan) tidak pernah kelar, apalagi disuruh menulis.
.
Nah, demikian itu tanpa sadar seringkali terucap, secara lisan ataupun terbetik dalam hati. Untuk penyakit yang sejenis ini juga bisa diterapi dengan hijrah ala penulis.
.
Tidak perlu kemana-mana, cukup kamu ada dimana-mana. Maksudnya, silakan bergabung dengan komunitas penulis yang saat ini begitu banyak berserak (PENA, misalnya). Jadikan mereka sebagai kawan yang seiring sejalan, segendang sepenarian bersama mereka.
.
Sekurangnya, pilih sahabat untuk dijadikan sebagai mentor, tutor atau minimalnya sebagai auto reminder untuk menjaga ghirah menulis tersebut.
.
Layaknya Nabi yang mengangkat sahabat karibnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam menemani perjalanannya berjalan kaki ke kota Madinah. Mereka berdua saling menguatkan hingga akhirnya tiba di Madinah, negeri penuh barakah.
.
Pelajaran ketiga, hijrah ala penulis berarti kerjakan dulu. Menulis saja. Apapun itu tulislah dulu. Sebab hal yang paling memberatkan bagi penulis adalah mengawali tulisan.
.
Ada orang kadang mengaku punya ide atau gagasan hebat. Tapi apa hasilnya kalau yang dibilang hebat itu cuma tersimpan di angan-angan saja.
.
Layaknya para sahabat Nabi yang memilih realitas dakwah dan berislam meski hanya bermodal yang melekat di badan saja.
.
Sebagaimana ketika menulis mungkin yang dihasilkan apa adanya saja. Bahkan dianggap tidak layak, bagi sebagian orang lain. Tulisan dicibir itu biasa. Bedanya, kamu sudah menulis sedang dia masih asyik jadi pengamat saja.
.
Dengan obsesi yang membuncah dalam jiwa. Dengan niat dakwah bil qalam yang kuat, niscaya itu sudah cukup untuk menjemput kemenangan. Kelak ia bukan cuma disebut penulis tapi juga akan dikenang sebagai pejuang. Sebab menulis adalah memperjuangkan idealitas menuju alam realitas.

________
*)MASYKUR ABU JAULAH, penulis adalah dosen dan pegiat literasi. Sehari-hari mengabdi di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.