Silatnas Menggali Khazanah Kearifan Gunung Tembak

Oleh Abdurrohim Abu Hilman*

ADA SEBUAH pertanyaan menggelitik, yaitu mengapa perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah selalu diadakan di Gunung Tembak?. Jawaban yang sering kita dengar adalah karena Gunung Tembak adalah pusat sejarah, serta menjadi tempat Hidayatullah awal mula dirintis dan didirikan.

Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, dalam pidatonya yang berapi-api pernah mengatakan bahwa Hidayatullah Gunung Tembak adalah pusat gerakan Hidayatullah, sebagaimana Syanggit di Benua Afrika, kota Qum di Iran, dan Nidzamuddin di Benua India (Markas besar Jamaah Tabligh).

Karenanya Hidayatullah Gunung Tembak punya kekhasan tersendiri, dan berbeda dengan cabang Hidayatullah di tempat lain. Tidak berlebihan kalau dikatakan Hidayatullah Gunung Tembak memiliki pandangan dunianya (worldview) sendiri.

Yang mengundang decak kagum adalah bahwa areal seluas 120 hektar itu telah menjelma menjadi perkampungan Muslim yang juga menjadi pusat alat peraga dakwah Hidayatullah (center of excellence). Dalam berbagai sisinya, perkampungan ini berusaha mentahbiskan diri sebagai komunitas yang menjunjung tinggi sistem kehidupan ala Rasulullah SAW di kota Madinah dengan jargon, alamiah, ilmiah dan Islamiah.

Secara kasat mata warga yang tinggal di dalamnya juga menampilkan performa kultur kehidupan Islami seperti batasan interaksi antar lawan jenis dengan standar hijab yang ketat, shalat berjamaah, dan saling sapa dengan mengucapkan salam.

Lingkungan ini juga berusaha memproteksi komunitas dari instrumen yang bisa menimbulkan polusi moral seperti televisi, maka wajar anak-anak yang tinggal di lingkungan ini benar-benar menikmati situasi alamiahnya, seperti berenang di danau, memanjat pohon, dan lain-lain.

Bagi yang pernah merasakan nyantri di Gunung Tembak era tahun 80-an hingga menjelang millinium baru tahun 2000-an, bisa dipastikan masih mengalami celupan (shibgah) pengkaderan dalam situasi alamiah yang khas. Pada masa ini santri masih identik cangkul dan arit, bahkan menjadi ”senjata wajib” yang harus dimiliki para santri ketika mendaftar. Suatu pola yang jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya yang identik dengan pena, kitab kuning, dan Kiai Khos.

Belum lagi kolam TC (training centre) yang sangat melegenda di hati para santri, karena harus nyemplung di sana selama 40 hari sebagai wahana pengikisan ego (thaga dalam bahasa Allahuyarham Abdullah Said). Kolam ini bukan kolam biasa, karena juga berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir sampah perut para santri.

Situasi alamiah yang khas ternyata menjadi “sekolah alam” untuk menempa kemandirian, lifeskill, dan kecakapan yang tidak biasa, seperti kemampuan bertukang, berkebun, bahkan pandai memasak. Situasi yang sulit dicari, di era komersialisasi pendidikan seperti sekarang ini.

Suasana kebersamaan, dan perasaan senasib sepenanggungan juga memenuhi ruang hati para santri kala itu, di samping intensitas pembelajaran di lapangan yang cukup padat, menu dapur umum yang lauk pauknya minimalis, para santri punya kegiatan khusus yang unik, yaitu bergubuk ria.

Menjadi santri gubuk adalah suatu kebanggan tersendiri kala itu. Gubuk yang didesain secara sederhana, tidak hanya menjadi spot menyenangkan para santri untuk melepas lelah, tapi juga menjadi titik kumpul yang indah. Biasanya di sana ada sumur galian buat MCK, lapangan kecil untuk main futsal dan sepak takraw, serta dihiasi deratan bedengan singkong, jagung, ubi jalar (kandora), gambas yang menggugah selera.

Kehadiran gubuk dengan segala tanaman para santri penghuni gubuk yang terdaftar, menjadi oase bagi “kampung tengah para santri” kala itu. Pada situasi bergubuk inilah, “singkong bakar” menjadi menu terfavorit, dan menjadi kudapan wajib sehari-hari “santri gubuk.”

Tidak jarang hasil perkebunan itu menjadi komoditas ekonomi yang penting, untuk memenuhi kebutuhan harian santri, dan di situ ada tempaan kemandirian. “Sekolah Gubuk” telah menciptakan karakteristik penting bagi santri Hidayatullah ketika ditugaskan merintis cabang.

Khazanah Kearifan dalam kehidupan keseharian para santri Gunung Tembak juga tercermin dalam diksi dan kosakata yang unik. Selain gubuk, singkong bakar, para santri punya istilah brijing untuk hunting buah-buahan di perkebunan buah pesantren; waro’ untuk yang jago makan, wali untuk yang rajin ibadah dan sholatnya lama; tuti bagi santri tukang tidur. Masih banyak istilah lain, dan menjadi diksi yang hanya muncul dalam kamus santri Gunung Tembak.

Di sisi lain, diksi tersebut menggambarkan suasana khas Gunung Tembak yang selalu dirindukan para alumni yang telah berkiprah di cabang-cabang Hidayatullah, dan Silatnas menjadi ajang romantisma dan repertoar untuk menghikmati masa-masa pengkaderan ala Gunung Tembak.

Allahuyarham Ust. Abdullah Said juga telah mewariskan khazanah kearifan tersendiri untuk para santri. Dalam ceramah-ceramah beliau yang sangat bertenaga, beliau mengidentifikasi santri yang mengalami inkonsistensi antara ucapan dan laku perbuatan dengan istilah “Kaburomaktan”; menyebut santri yang sombong dan angkuh dengan sebutan “Kada’bi”; dan sebutan bagi santri tidak tahan dengan istilah “goncang.” Yang juga selalu dikenang dari beliau oleh para santri kala itu adalah diksi “Fantasiruu” seusai melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Hal lain yang sangat berkesan dari Gunung Tembak, adalah mimbar masjid yang sangat sakral. Berbanding terbalik dengan pesantren lain yang menjadikan makam (maqbaroh) Kiai khosnya atau pendiri pondok sebagai area yang sakral.

Mimbar masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak sangat melegenda, karena telah menjadi ajang latihan para santri untuk berpidato atau berceramah. Para santri yang tampil berusaha menampilkan performansi terbaiknya, karena disaksikan oleh seluruh asatidzah, guru, santri, dan warga masyarakat sekitar.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa mimbar legendaris tersebut, turut serta dalam mencetak kader dai Hidayatullah yang telah tersebar di seluruh Nusantara, dan menjadi dai kondang serta menjadi public speaker yang berpengaruh di tempat tugasnya.

Pengalaman unik lain ketika menjadi santri Gunung Tembak, adalah ketika di bulan Ramadhan mendapatkan tugas untuk menjemput dana zakat, infak, shadaqah dan wakaf simpatisan Hidayatullah atau warga kota Balikpapan secara umum.

Pengalaman sebagai mujahid ramadhan ini secara tidak langsung telah menjadi ajang latihan mental para santri dan langsung mempraktikkan kemampuan lobi, negosiasi, dan melakukan persuasi kepada masyarakat umum untuk menumbuhkan kesadaran filantropis.

Di sisi lain tugas ini dipandang sebagai tugas mulia, karena di jaman Rasulullah SAW menjadi amil zakat adalah tugas yang diemban oleh para Sahabat Rasulullah.

Tidak jarang kemampuan yang lahir dari “madrasah mujahid ramadhan” ini menjadi modal penting ketika para santri Hidayatullah ditugaskan untuk merintis cabang di daerah lain.

Ala Kulli Haal, Silatnas di Gunung Tembak tidak hanya berfungsi untuk menggali kembali khazanah kearifan Gunung Tembak, tapi juga menjadi ajang temu kangen para santri yang pernah mencicipi situasi pengkaderannya yang khas.

Silatnas merupakan ajang silaturrahim yang tidak hanya dihadiri oleh santri yang pernah belajar di Madrasah Ibtidaiyah (PDI), Tsanawiyah, Aliyah, dan KMM (Kulliyatul Mubalighin wal Muballighat), atau yang pernah diistilahkan dengan Kerja Mati-Matian. Tapi juga akan dihadiri oleh santri yang pernah lari karena mengalami ”kegoncangan diri,” atau bahkan menjadi ajang reuni para alumni pernikahan mubarakah, karena pernah mencicipi situasi pembekalan dan akhirnya bertemu jodoh di tempat ini.

Walhasil, Gunung Tembak yang punya kharisma memikat, juga akan membuat warga Hidayatullah di daerah lain di bumi Indonesia dan belum pernah melihat langsung Gunung Tembak akan sangat berhasrat untuk mendatangi tempat yang sangat menyejarah ini. Selamat Bersilatnas! Wallahu A’lamu Bishawwab

______
ABDURROHIM ABU HILMAN, penulis adalah Kepala Lembaga Penjaminan Mutu STIS Hidayatullah Balikpapan

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.