Ajakan dari Mentawai, Mengisi Tahun Baru dengan Muhasabah

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) – Sebentar lagi masyarakat dunia akan memasuki tahun baru 2019 masehi. Pergantian tahun baru masehi kerap diisi dengan berbagai kegiatan. Namun tak sedikit yang mengarah kepada hal negatif seperti perayaan malam tahun baru yang seringkali mubazir dengan menelan anggaran yang tak sedikit.

Berangkat dari realita yang cukup memprihatinkan tersebut, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai, Ust Muhammad Mahrus Salam, mengajak masyarakat agar bersama mengisi tahun baru dengan muhasabah.

Muhasabah dimaknai sebagai upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan untuk suatu resolusi positif di masa mendatang baik kehidupan dunia maupun akhirat. Muhasabah secara etimologis berarti melakukan perhitungan atau introspeksi diri.

“Tak lama lagi tahun 2018 akan berakhir dan tahunpun akan berganti. Oleh karenanya untuk menjauhkan diri dari kesia-sian maka cukuplah dengan berdiam diri di rumah atau di masjid sambil bermuhasabah, dzikir atau kegiatan yang bermanfaat lainnya,” pesan Ust Mahrus saat menjadi penceramah di Polres Mentawai, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Acara yang juga dihadiri oleh Kapolres Mentawai, AKBP Hendri Yahya ini juga turut dibersamai oleh santri-santriwati dari Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai. Mahrus dalam taushiahnya mengingatkan pentingnya muhasabah untuk bagaimana membentengi umat melalui tarbiyah dan dakwah.

Senada dengan itu, anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah Sholeh Hasyim dalam keterangannya diterima redaksi mengatakan bahwa setiap tugas dakwah harus dimaknai sebagai gerakan promosi, ekspansi (pengembangan medan dakwah), dan reaktualisasi, serta media untuk terus berinstrospeksi diri (muhasabah) untuk menata ulang dan mengalihkan peran kita pada bidang yang berbeda.

“Jangan dimaknai di luar kerangka di atas. Jika kita memiliki gambaran mental yang negatif, kita kehilangan kreatifitas atau inovasi untuk berkarya. Pada hakikatnya, setiap tugas yang dipikul di pundak kita adalah ikhtiar untuk melakukan penataan ulang dan mematangkan struktur kepribadian kita,” kata Sholeh.

Dalam relung waktu itulah Allah menurunkan titah-Nya untuk berpacu dan berlomba dalam medan kehidupan (as-sibaq), karena, kata Sholeh, hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui menuju terminal akhir.

Tidak ada satupun peserta kehidupan ini mendapat bocoran kapan dan dimana ia harus berhenti. Kapan dan dimana ia mengakhiri kehidupan ini. Inilah bagian dari tarbiyah Allah agar kita memiliki persiapan/perencanaan sejak awal. Sebab tempat pemberhentian pertama adalah masa akhir beramal (ajal).

“SK ajal kita sejatinya adalah akhir masa karya kita. Tidak ada istilah masa pensiun dalam perjuangan. Maka, imperalis yang menjajah sebuah negeri, ia mengkondisikan pemudanya menganggur, tidak ada aktualisasi dan potensialisasi diri,” ujarnya.

Sholeh punya istilah menarik dalam fonem Jawa. Ketika fisik kita masih kuat, terang dia, tugas kita adalah terus berjuang dalam arti khusus yakni berjihad di jalan Allah (silat). Ketika tidak bisa lagi berjihad, kita beralih ke peran berikutnya yaitu sebagai murabbi (silo), sebagai pemberdayaan potensi ijtihad. Ketika kita tidak memiliki cadangan kekuatan untuk silat dan silo, kita melakukan peran berikutnya, yakni menjadi ahlul mihrab, ahlur ruku, ahlus sujud (silem).

“Menguatkan potensi mujahadah dan riyadhah. Jadi, pemberdayaan fisik, akal, dan ruhani harus berjalan secara simultan dan stimulan,” ujarnya.

Itulah sebabnya, lanjutnya, antara al mubtadi (senior) dan al muqtadi (yunior) merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Dalam lintasan sejarah Islam, pungkas Sholeh, perjuangan akan mencapai kemenangan selalu ditemukan rahasianya, diantaranya perpaduan dua potensi antara kearifan senior (al mubtadi) dan semangat yunior (al muqtadi). (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.