Akhlak dan Musibah

JIKA mencermati umumnya yang beredar di media massa, termasuk penjelasan para pakar tentang apa yang belakangan sering menimpa bangsa Indonesia, yakni musibah berupa tsunami, gempa bumi, dan erupsi, maka pada umumnya kita temukan semua itu terjadi karena gejala alam. Sama sekali bisa dipahami bahwa bencana-bencana yang terjadi tidak berhubungan dengan kehidupan manusia itu sendiri terutama secara akhlak, juga bisa dimengerti bahwa bencana itu tidak berhubungan dengan keyakinan kita kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Fenomena atau gejala sebagian dari alam yang menjadi sebab utama dari terjadinya bencana, seperti erupsi, gempa bumi, kerap kali menjadi bahasan utama sehingga kita lupa untuk bertanya bahwa siapa yang sesungguhnya menjadikan sebab utama itu bergerak sehingga menimbulkan satu bencana bagi kehidupan umat manusia. Padahal dengan pemahaman umum kita bisa mengerti bahwa makhluk berupa gunung, air laut, bahkan magma di dalam perut gunung, bukanlah ciptaan Tuhan  yang memiliki kehendak bebas seperti manusia.
Dan, ketika pemahaman ini coba disampaikan secara kritis pada teori ilmu pengetahuan maka sampai hari ini pun belum ada pemahaman yang secara empiris sekaligus teologis (integral) yang dapat menjelaskan mengapa gunung erupsi, mengapa bumi mengalami gempa, dan mengapa air laut mengikuti gelombang angin sehingga memporak-porandakan kehidupan manusia di daratan yang kita kenal dengan istilah tsunami. Dalam rangka apakah itu semua terjadi bagi kehidupan umat manusia?
Absennya kita menganalisa dan berupaya secara sungguh-sungguh untuk menemukan siapa di balik semua itu menjadikan banyak manusia hanya berpikir tentang bagaimana menghadapi bencana yang terjadi. Tanpa pernah mau memahami mengapa bencana itu terjadi. Pada akhirnya diskusi di beragam acara media masa selalu berbicara tentang sisi-sisi bagaimana manusia mampu mendeteksi secara dini kemudian menyelamatkan diri dan tidak banyak korban yang jatuh. Tetapi lupa untuk memahami mengapa musibah terjadi dan bagaimana semestinya kita hidup damai, lebih cermat lagi penuh akhlak (adab) dengan alam.
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).
Dengan kata lain musibah yang terjadi mesti juga melibatkan pandangan teologis di dalam memahami agar kesimpulan yang diputuskan pada akhirnya tidak bersifat parsial, cenderung menyalahkan satu sama lain, dan juga tidak merubah mindset, bahkan lebih jauh juga tidak menjadikan akhlak kita lebih baik. Sebab alam tidak mungkin bergerak sendiri, melainkan atas perintah atau izin Allah Ta’ala.
Pertanyaannya, apakah Tuhan tidak Maha Pengasih lagi kala musibah diizinkan menimpa kehidupan manusia? Justru karena Allah Maha Pengasih, musibah itu ditimpakan. Sebab goal dari musibah yang melanda adalah agar manusia bertaubat, kembali menata diri sebagai hamba Allah yang tunduk dan taat. Pada saat yang sama manusia mesti memahami bahwa musibah ada korelasinya dengan perilaku kehidupan manusia itu sendiri.
“Dan tidaklah suatu musibah itu terjadi, melainkan akibat perbuatan manusia itu sendiri. “ (QS. An Nisa [4] : 79). Kemudian, “Maka apa saja musibah dan bencana yang menimpa kamu itu semua merupakan perbuatan kamu sendiri, dan Allah telah memaafkan sebagian besar dari kesalahan kamu. “ (QS al Syura [26] : 30 ).
Dengan demikian musibah memiliki korelasi yang sangat kuat dengan perilaku hidup umat manusia. Sebab musibah dalam kacamata teologis ini merupakan buah dari perbuatan tangan manusia itu sendiri. Dalam bencana yang berbentuk banjir, tanah longsor, kita dapati satu kesimpulan yang jelas bahwa semua itu terjadi memang ulah tangan manusia itu sendiri, yang karena keserakahannya menggunduli hutan, yang karena ketamakan nya mengabaikan ekosistem kehidupan, sehingga lambat laun perilaku alam ini menjadi tidak tertangani karena perbuatan manusia itu sendiri.
Akan tetapi ada sebagian kelompok yang memandang bahwa jika memang musibah berkorelasi kuat dengan perilaku manusia maka mengapa negara lain atau penduduk di bumi lain tidak mendapatkan musibah, padahal mereka tidak beriman atau bahkan menentang ayat-ayat Allah.
Terhadap asumsi ini Allah telah memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya musibah juga merupakan kasih sayang Allah dan tidak diberikan melainkan kepada orang-orang yang masih Allah sayangi.
Lihatlah fakta bagaimana hampir di dalam setiap musibah yang terjadi di Indonesia apa yang menjadi tempat di mana manusia mendapatkan pertolongan Allah, seperti masjid dan musholla, selalu tidak tersentuh oleh ganasnya gelombang yang menyapu apapun yang dibangun oleh manusia.
Padahal dalam pandangan manusia amatlah sulit memahami bagaimana mungkin di dalam situasi yang sedemikian mencekam dan menghancurkan masih ada bangunan-bangunan yang tersisa bahkan utuh seperti tidak tersentuh. Semua ini tentu menjadi bahan renungan sekaligus pemikiran bagaimana semua itu bisa terjadi. Dengan kata lain musibah juga kasih sayang-Nya. Terbukti bangunan di mana Allah limpahkan berkah dan rahmat tetap berdiri tegak.
Sedangkan terhadap mereka yang sudah jelas memusuhi ayat-ayat Allah maka Allah berikan kesempatan di dunia ini untuk mereka bebas melakukan apapun tanpa hukuman secara langsung di dunia ini.
“Dan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka kami akan biarkan mereka ( istidraj ) dalam pendustaan tersebut sehingga suatu saat Kami akan beri balasan atas perbuatan mereka itu  tanpa mereka sadar atas kesalahan mereka tersebut. “ (QS. al A’raf [7] : ).
Oleh karena itu sebagai kaum muslimin penting bagi kita mengedepankan pandangan teologis di samping pandangan saintis, di dalam melihat fenomena alam termasuk musibah. Sebab di dalam Islam hal buruk pun bertabur hikmah.
Hikmah pertama adalah melakukan evaluasi secara massal mengenai perilaku atau perbuatan kita sendiri terhadap sesama bahkan terhadap alam itu sendiri. Apakah kita beradab kepada alam atau sebaliknya. Apakah kita jujur kepada alam atau sebaliknya. Apakah kita cinta kepada alam atau sebaliknya.
Hikmah kedua kita patut berharap bahwa dengan hadirnya musibah ini Allah berikan kebaikan kebaikan di masa mendatang. “Tidak ada musibah yang menimpa umat Islam hingga sekecil duri menusuknya, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hikmah ketiga, mari jalani kehidupan ini dengan sewajarnya, mengedepankan akal sehat daripada keserakahan. Mengutamakan maslahat daripada ambisi kekayaan, sehingga apapun kebijakan yang diambil pada akhirnya benar-benar dapat kita pertanggungjawabkan.*

_____
IMAM NAWAWI, penulis adalah santri dan alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.