Mengikis Kekikiran Dalam Diri

BISA dipastikan tidak ada orang yang mau disebut kikir walaupun dirinya memang kikir. Kenapa begitu? Karena orang yang kikir sekalipun tidak suka dirinya disebut sebagai orang kikir.

Orang kikir tidak hanya menyusahkan orang lain, orang-orang terdekat darinya (keluarga) juga turut merasakan kesusahan. Bahkan ia pun rela menyusahkan dirinya sendiri.

Ingat sebuah kisah tentang orang kikir ketika datang musim hujan ia rela berbasah-basahan karena tidak mau membeli payung agar tidak mubazir harta katanya. Ada lagi orang kikir rela berjalan kaki walaupun jauh jarak perjalanannya padahal ia mampu membeli kendaraan. Ada lagi si kikir rela makan apa adanya padahal ia mampu membeli makanan hingga ia jatuh sakit. Dan masih banyak lagi cerita yang menggelikan hati dari orang kikir.

Maka tidak heran apabila tidak ada orang yang suka dengan orang kikir. Bersahabat dengannya akan menyusahkan, menjadi keluarga dengannya akan merepotkan. Jangankan mengeluarkan zakat, infak dan bentuk kebaikan lainnya, kebutuhan dirinya saja ia akan sangat perhitungan. Ia rela ‘berkorban’ memayahkan dirinya sendiri dengan beralasan hemat, sederhana, tidak mubazir, dll.

Allah swt mengingatkan kepada orang kikir dalam firman-Nya:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah: 268)

Dalam tafsir Ath-Thabari, Ibnu Abbas ra berkata: “Dua hal dari Allah, dua hal dari setan. ‘Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan’. Setan itu berkata, ‘Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya’. “Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Dan dua hal dari Allah adalah), “Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya”, yakni atas maksiat yang kamu kerjakan,“ dan karunia ”berupa rizki”.

Maka beruntunglah orang yang terpelihara dirinya dari sifat kekikiran. Berbahagialah ia terbebas dari kikir karena terbebas dari kikir menjadi sumber kebahagiaan. Allah swt berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Bagi orang yang kikir Malaikatpun tiap pagi mendoakan kebinasaan bagi hartanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمِ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اَللَّهُمِّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفَا، وَيَقُوْلُ الآْخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفَا

“Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya atau kikir)”. (HR. Bukhori)

Akhirul Kalam
Melihat begitu buruknya sifat kikir, yang mana sifat dan perbuatan itu dibenci Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka semoga kita terhindar dan dijauhkan dari sifat kekikiran itu.

Mari kita perbanyak do’a yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ ، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (kepikunan), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur”.

“Aamiin ya Allah ya Robbal ‘aalamiin”

______|
*) UST HIDAYATULLAH,MHI, penulis adalah Mudir Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.