Rebutlah Lima Peluang Terbaik

“PENYESALAN selalu di akhir”. Kata mutiara ini sering didengar bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui ia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain. .

Benar sekali apa yang disebutkan dalam kata mutiara di atas. Penyesalan memang selalu di akhir. Tidak pernah di depan, selalu datang terlambat. Ketika sudah terjadi atau telah berlalu barulah ia menyadari akan kesalahannya.

Begitu juga ketika kesempatan atau nikmat Allah telah dicabut dari diri seseorang barulah timbul penyesalan dalam hati. Namun biasanya sesal sudah tiada guna.

Nah! Agar tidak terjadi penyesalan di akhir, mari manfaatkan sebaik-baiknya peluang yang dimiliki. Paling tidak, ada 5 peluang terbaik yang setiap manusia miliki.

Manfaatkan 5 Peluang Terbaik

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Masa Muda
Bisa dibilang masa muda adalah masa terbaik dalam kehidupan manusia. Badan kuat, pikiran cermat, dan selalu semangat. Maka tidak heran, pada masa mudalah kesempatan terbaik untuk meraih cita-cita. Peluang terbaik untuk menggapai impian hidup dan membangun masa depan.

Tidak heran, orang yang bisa memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya maka dia akan menjadi orang yang beruntung. Para Ulama di masa mudanya mereka habiskan untuk menuntut ilmu.

Maka tidak heran jika mereka menjadi Ulama besar pada masa tuanya. Walaupun tidak sedikit sudah ada yang menjadi Ulama pada pada masa mudanya.

Masa muda yang sangat potensial ini semestinya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Belajar ilmu agama, menempa diri, hingga mengasah potensi dan skill. Sehingga tiba masa tua ia sudah memiliki bekal dan pengalaman yang cukup. Ibarat menanam pohon, ia tinggal memetik buahnya.

Ingat, apalagi setiap orang hanya punya masa muda sekali dalam kehidupannya. Maka barangsiapa yang bisa memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya maka sungguh ia telah beruntung.

Kesehatan
Betapa mahal dan berharganya nikmat sehat barulah disadari seseorang ketika mengalami sakit. Maka benarlah jika dikatakan nikmat Allah yang paling besar setelah nikmat iman dan islam adalah nikmat sehat.

Jikalau seseorang dicabut nikmat sehatnya maka ia akan terbatas melakukan aktifitas. Banyak kewajiban yang tidak bisa ditunaikan serta terhalangi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.

Saking pentingnya nikmat sehat ini, Nabi pun pernah mengingatkan agar kita jangan lalai terhadap nikmat sehat. Beliau bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Maka dengan mahalnya nikmat sehat ini mari dijaga dengan olahraga teratur, konsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat serta bergizi. Tidak lupa istirahat yang cukup serta menjaga diri dari perbuatan yang bisa merusak kesehatan.

Kecukupan
Memang kecukupan ataupun kekayaan agak sulit untuk mengukurnya. Karena bagi orang yang rakus/tamak dengan harta maka sebanyak apapun harta maka akan kurang baginya.

Kecukupan disini maksudnya ketersediaan harta dari apa yang dibutuhkan. Nah, jikalau kita dalam masa kecukupan maka ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk menunaikan kewajiban harta dengan banyak beramal sholeh.

Yang bisa dilakukan pada masa kecukupan tentu yang pertama adalah mencukupkan nafkah kepada keluarga, orang tua dan karib kerabat. Lalu berderma kepada fakir miskin dan membantu orang yang kesusahan.

Penting juga agar kita tidak hidup boros dan berlebih-lebihan. Tidak mubadzir dalam hal makanan dan kebutuhan hidup. Berhemat dan menabung untuk keperluan anak dan cucu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang bahagia:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah)

Waktu Luang
Sudah disebutkan dalam hadits diatas tentang dua nikmat yang sering dilalaikan selain nikmat sehat adalah nikmat waktu luang/kosong.

Ini bisa kita lihat di mana-mana. Terutama di pesawat, kereta api, bis, dan warnet. Bahkan di rumah dan sekolah banyak orang menghabiskan waktu luangnya dengan sesuatu yang tidak berguna. Main game, menonton video, selfie, chattingan, hura-hura dan lain sebagainya.

Padahal tidak selamanya kita memiliki waktu luang. Bertambah umur maka bertambah pula tugas dan tanggung jawab. Maka disinilah pentingnya agar kita bisa memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.

Umar bin Khattab pernah memberi nasehat yang indah:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (HR. Bukhori)

Kehidupan
Terakhir, peluang terbaik yang kita miliki tentu adalah kehidupan ini. Kehidupan bagi orang yang beriman adalah suatu anugerah sekaligus ujian dari Allah Ta’ala untuk melihat siapa hamba-Nya yang terbaik.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Masa hidup adalah masa untuk beramal dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Namun sangat disayangkan masih banyak sekali manusia yang melalaikannya. Padahal waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tak terasa umur semakin tua dan badan semakin lemah.

Apalagi waktu kematian tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya. Ini perkara ghaib yang hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya.

Maka mumpung masih diberi kesempatan dan peluang terbaik yuk mari kita manfaatkan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.

______
*) Hidayatullah, penulis adalah dai di Bekasi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.