Hiduplah Ibarat Orang Asing

SETIAP kita pastilah pernah mengadakan perjalanan. Ada yang jarang bepergian namun ada pula yang sering melakukannya. Tidak sedikit pula karena tuntutan tugas atau profesi perjalanannya hingga keluar negeri.

Menarik, kehidupan di dunia inipun ternyata sebuah perjalanan bagi manusia. Betapa tidak, bukankah dulu kita tidak ada. Berkat rahmat-Nya, Allah swt menjadikan kita lewat kasih sayang orangtua kita. Dari bayi, lalu kanak-kanak sampai dewasa. Hingga tiba waktu ajal menjemputnya.

Tidak sampai disitu, setelah manusia mati maka ia masuk ke alam barzakh sampai tiba hari kiamat. Lalu dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Sampai terakhir tibalah ia pada waktu penentuan perjalanan akhir kehidupannya, apakah ke surga atau ke neraka.

Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala telah menggambarkan perjalanan hidup manusia.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاکُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 28)

Perjalanan kehidupan inilah yang akan dijalani manusia dalam kehidupannya. Suka tidak suka itulah garis ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi nasehat yang indah untuk kita. Beliau bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara“. (HR. Bukhori)

Pertanyaan bagi kita, mengapa Nabi menyuruh dalam menjalani kehidupan di dunia ini harus seperti orang asing atau musafir?. Tentu ada pelajaran berharga dari nasehat Nabi ini untuk kita semua.

Kalo orang asing tinggal disebuah tempat yang bukan asalnya maka tentu ia tidak mau berlama-lama. Ia tidak akan merasa betah dan pasti merindukan tempat asalnya untuk kembali.

Begitulah ibaratnya manusia yang tinggal di dunia ini semestinya seperti orang asing. Ia tidak betah berlama-lama tinggal di dunia dan juga berharap akan bisa kembali ke tempat asalnya.

Bukankah Nabi Adam sebagai Bapaknya manusia dulu berasal dari surga. Hanya karena melanggar perintah Allah maka ia diturunkan ke dunia sebagai tempat penebus dosanya.

Maka dunia hendaknya menjadi ladang amal kebaikan bagi anak cucu Adam. Sebagai syarat agar bisa kembali ke tempat asalnya yakni surga, maka timbangan amal kebaikannya harus lebih berat dari keburukannya.

Lebih tajam lagi Nabi berpesan hiduplah di dunia ibaratnya seperti seorang musafir atau pengembara. Seorang musafir tentu ada tempat yang ia tuju. Maka jikalau ia singgah sekalipun tentu tidak lama. Hanya sekedar istirahat dan menyiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

Begitu juga ibarat kita hidup di dunia ini, ia hanya sebagai tempat persinggahan sementara. Kita musti bergegas melanjutkan kembali perjalanannya karena dunia bukan tujuan akhir perjalanan hidup kita.

Seorang musafir juga ketika akan melakukan perjalanan mesti menyiapkan bekal yang cukup agar tidak kesulitan dalam perjalanannya.

Nah, begitu juga kehidupan kita di dunia. Inilah kesempatan bagi kita untuk menyiapkan bekal sebaik-baiknya agar perjalanan selanjutnya menjadi mudah dan selamat.

Terakhir, Nabi menyuruh kita hidup di dunia ibarat menjadi seorang asing atau musafir, padahal kehidupan ini sendiri memang sebuah perjalanan. Tentu ini menjadi ta’kid (penguat) agar setiap kita betul-betul menyadari hakikat kehidupan ini.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.