“Kecanduan” Al-‘Alaq

Oleh Ustadz Dr Nashirul Haq, Lc, MA*

BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.(al-‘Alaq 1-5).

Berawal dari pertanyaan yang sering muncul dalam benak Ustadz Abdullah Said, “Mengapa Nabi Muhammad SAW begitu cepat mencapai hasil sedang kita tidak”?

Dalam jangka hanya 23 tahun beliau betul-betul dapat merampungkan hal-hal yang mendasar dalam perjuangan. Berhasil mengubah peta sejarah. Berhasil merombak kultur jahili menjadi kultur Islami. Kita, sudah berapa kali 23 tahun, belum ada perubahan yang signifikan ke arah perbaikan yang kita buat.

Padahal, kalau berbicara tentang konsep perjuangan, bukankah al-Qur’an yang digunakan Nabi Muhammad SAW masih itu juga yang ada sekarang? Tanpa perubahan sedikit pun. Kalau soal berpedoman kepada al-Qur’an, semua lembaga perjuangan Islam mengaku al-Qur’an sebagai pedomannya.

Lalu di mana letak masalahnya?

Setelah melalui pencarian dan perenungan yang cukup panjang, akhirnya Ustadz Abdullah Said menyimpulkan bahwa letak masalahnya adalah karena al-Qur’an tidak didakwahkan secara sistematis berdasarkan urutan-urutan diturunkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Proses menjadikan Sistematika Wahyu sebagai manhaj dan pola gerakan Hidayatullah telah melalui periode yang cukup panjang. Dirintis dan dipimpin oleh Ustadz Abdullah Said sejak beliau masih mengawali pendirian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Pertanyaan dasar yang selalu menggangu perasaan dan pemikiran beliau adalah darimana atau dengan apa Rasulullah SAW memulai gerakan perjuangannya?

Sejak kapan beliau menemukan jawaban terhadap kegelisahan dan kegundahan hatinya menyaksikan maraknya penyembahan berhala, hancurnya tatanan sosial masyarakat serta kerusakan akhlaq yang sudah tidak dapat diterima oleh akal sehat lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditemukan jawabannya pada wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW.

Kesimpulan ini mempunyai alasan sederhana: sebagai seorang Rasul yang baru saja diutus oleh Allah SWT, secara logika, wahyu-wahyu yang pertama kali beliau terima merupakan pokok dan inti dari gerakan Islam yang ditugaskan kepadanya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahwa hanya dengan wahyu pertama yaitu Surat al-‘Alaq ayat 1-5, Rasulullah SAW sudah menjadi seorang beriman, seorang Rasul, bahkan sudah mempunyai pengikut yaitu istri beliau (Khadijah) dan sepupu beliau (Ali).

Artinya, wahyu pertama itu adalah wahyu yang berisikan saripati jawaban terhadap pertanyaan besar umat manusia tentang hakikat penciptaan dan kekuasaan di alam semesta raya ini. Hanya dengan wahyu pertama saja, sudah mampu menjadikan Muhammad SAW sebagai seorang yang beriman dan seorang Rasulullah.

Bagaimanakah Muhammad dapat menjadi seorang beriman dengan wahyu pertama tersebut, padahal tidak ada satu kata pun dalam wahyu pertama yang memerintahkan untuk beriman? Bahkan perintah wahyu pertama dimulai dengan “Bacalah, dengan nama Rabb-mu yang menciptakan.”

Bagaimana pula, melalui wahyu pertama ini Muhammad dapat mengerti bahwa ada kewajiban pada dirinya untuk memulai suatu gerakan yang bahkan namanya pun belum beliau ketahui?

Dengan luasnya pikiran dan lapangnya jiwa yang telah dimiliki oleh seorang Muhammad, beliau langsung paham dan mengerti. Wahyu pertama ini adalah suatu jawaban terhadap berbagai pertanyaan mendasar yang telah “membebani” beliau selama lima tahun terakhir pulang-pergi berkhalwat ke Gua Hira’.

Beliau tidak menyangka, jawaban terhadap semua kegelisahannya adalah dalam wujud penugasan kepada beliau sendiri untuk menerima wahyu dan risalah dari Allah SWT.

Di sinilah daya tarik wahyu pertama ini. Nuansanya sangat filosofis dan penuh daya spiritual. Kalimatnya singkat namun mengandung makna yang begitu padat dan mendalam. Belum lagi berdasarkan sejarah, hanya inilah wahyu yang diantarkan langsung oleh Jibril kepada Rasulullah SAW dalam keadaan menunjukkan wujudnya. Dalam arti Rasulullah SAW dapat melihat dengan mata beliau keberadaan Jibril AS.

Demikianlah yang dialami oleh Ustadz Abdullah Said ketika mencoba menyelami wahyu pertama ini, dimana beliau telah menemukan bahwa muatan wahyu pertama ini begitu memukau. Baik dari sisi pandangan filsafat maupun secara spiritual.

Beliau merasa seperti menemukan kembali khazanah wahyu yang begitu lama terpendam dan tenggelam oleh perdebatan-perdebatan di kalangan umat. Baik perdebatan yang bersifat teologis maupun fiqih yang telah menyita energi umat selama berabad-abad.

Kegembiraan itu begitu luar biasa dan itu dapat kita serap dari cerita para pendiri dan perintis (founding fathers) yang sering mengungkapkan bahwa pada waktu awal dimunculkannya Sistematika Wahyu ini, diskusi dan kajian intensif dilakukan. Bahkan pernah sampai sebulan penuh tanpa henti.

Wahyu pertama ini telah digali dan dikaji sedemikian rupa untuk menghasilkan suatu keimanan yang mendekati keutuhan dan kesempurnaan kepada Allah SWT.

Beliau senantiasa menekankan betapa kejayaan Islam hanya dapat dibangun di atas pondasi keimanan dan tauhid yang kuat. Dalam bahasa sederhana, beliau selalu mengulang-ulang kepada para kadernya untuk mengingat bahwa Allah SWT yang ada di Gunung Tembak juga Allah SWT yang ada di Irian Jaya. Dia juga Allah SWT yang ada di manapun para kader akan ditugaskan.

Ibarat kata pepatah, dengan wahyu pertama ini beliau merasa telah membangkitkan kembali batang terendam. Yaitu telah menemukan kembali pusaka Islam yang telah begitu lama hilang, yang akibatnya adalah terpuruknya posisi kaum Muslimin di seluruh dunia selama berabad-abad.

Substansi al-Alaq ayat 1-5 begitu mempengaruhi pemikiran dan kehidupan beliau dan didoktrinkan kepada para jamaah dan santrinya.

Saking seringnya beliau mengulang-ulang ayat-ayat tersebut sehingga muncul istilah “keracunan” al-Alaq, da’i-da’inya Hidayatullah digelari Ustadz al-Alaq atau Ustadz Iqra’. Surah ini diyakini merupakan sumber kandungan falsafah dari bangunan Islam secara keseluruhan yang terartikulasi dalam kalimah tauhid: laa ilaaha illallah.

Dalam kajian fiqih, rukun Islam yang pertama atau syarat pertama seorang menjadi Islam adalah kalimat tauhid ini. Sehingga lebih memberikan keyakinan kepada beliau bahwa lima ayat pertama inilah yang menjadi falsafah Islam yang menghasilkan kesimpulan lahirnya kalimat tauhid.

Bahkan menurut Ustadz Abdullah Said, untuk melakukan perubahan mendasar di tubuh umat Islam harus berangkat dari masalah yang paling mendasar yaitu syahadat. Beliau menyatakan, “Memperbaiki kualitas umat Islam harus dimulai dari perbaikan kualitas syahadatnya. Di sini kuncinya. Inilah yang perlu dikondisikan lebih dahulu.”

Manhaj Gerakan Hidayatullah ini kemudian dalam perkembangannya disebut sebagai Sistematika Wahyu. Wallahu a’lam.

*)Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Naskah diambil dari rubrik Khiththah Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2019

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.