Jiwa Kenabian

KEHIDUPAN Muhammad bin Abdullah adalah kehidupan yang sempurna. Setiap pria normal niscaya memimpikannya: istrinya cantik dan mulia, putri-putrinya menyejukkan pandangan mata, mapan secara ekonomi, dan terpercaya (al-amin) dalam kaumnya.

Namun begitu, jiwanya tetap gelisah. Di usia 40-an, untuk meredahkan kegelisahan hatinya, seringkali ia menuju Jabal Nur, ber-tahannuts di gua Hira yang berada di lerengnya. Sungguh jauh jarak tempat itu dari rumahnya dan sulit untuk mendakinya.

Kegelisahan yang begitu kuat seolah mengalahkan segala letih itu. Dengan bertahanuts dia berharap mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya.

Bertahanuts cara yang ia pilih, karena cara itulah yang biasanya dilakukan orang-orang salih jaman dulu, jika mereka menginginkan pencerahan.

Dari ketinggian gua Hira, Muhammad dapat melihat kota Makkah secara keseluruhan. Di bawah langit Makkah yang bertabur bintang tanah kelahirannya itu tampak hening dan tenang. Kecintaan dan kecemasan berkelindan di benaknya saat memandangnya.

Ia mencintai kota itu karena ia lahir dan tumbuh di kota itu dengan segala romantikanya. Juga sebagian besar warga kota itu adalah kerabatnya.

Adapun ia mencemaskannya karena ia menyaksikan kota itu tidak lagi ramah. Kerusakan moral menggejala dimana-mana. Orang-orang yang lemah dan kurang beruntung tidak lagi diperhatikan.

Hukum bertindak keras terhadap orang-orang lemah, namun lembek bagi orang-orang berkuasa. Kekayaan hanya berputar di segelintir orang. Orang-orang kaya dan berkuasalah yang menguasai kota itu dari segala aspeknya. Dan mereka, para pengelola kota itu adalah juga termasuk paman-pamannya sendiri.

Ia dan kaumnya adalah ibarat orang-orang yang menaiki sebuah kapal yang sama. Beberapa penghuni kapal itu sedang berusaha merusak kapal tersebut, entah mereka sadari atau tidak.

Jika tindakan mereka tidak dihentikan, maka bukan hanya para perusak itu yang akan celaka, tapi seluruh penghuni kapal itu akan binasa, termasuk dirinya. Namun, apa yang dapat ia lakukan ?

Demikianlah, rasa tanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan kaumnya itulah yang membawa Muhammad bertahanuts ke gua Hira untuk bermunajat kepada Sang Pencipta, meminta solusi bagi nasib kaumnya. Jiwa yang semacam ini dipunyai oleh setiap nabi/rasul dan juga para pembaharu di setiap zaman.

Setiap kali Allah hendak menjadikan seseorang pembaharu bagi kaumnya, maka Dia akan tanamkan dalam hati hamba-Nya tersebut rasa benci terhadap praktek-praktek kaumnya yang menyimpang dari jalan kebenaran di satu sisi, di sisi lain Dia beri taufiq kepadanya untuk menemukan solusinya. Kita bisa menyebut jiwa yang sedemikian itu sebagai Jiwa Kenabian.

Kelak Al-Qur’an mengungkapkan Jiwa Kenabian Sang Rasul Terakhir itu dengan narasi yang indah:

“Sungguh telang datang kepada kalian seorang rasul dari (kaum) kalian sendiri. Terasa berat olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keselamatan dan keimanan) atas kalian, terhadap orang-orang beriman dia amat belas kasihan lagi penyayang.” (Qs. At-Taubah: 128)

Bagaimana dengan kita?

AHMAD SUHAIL, Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.