Takaran Ilmu

ALKISAH, ada seorang pendekar sedang berhadapan dengan sekerumunan binatang buas di tengah hutan. Selama ini ia dikenal kepiawaiannya sebagai petarung dan ahli beladiri. Sebagai professional, dirinya pun punya peralatan yang lengkap, senjata pelindung diri.

Namun, bagaimana jika saat itu ilmu dan alat-alat lengkap tersebut tak digunakan atau dikeluarkan oleh sang pendekar. Dia hanya mematung di hadapan binatang buas itu. Tanpa melakukan satu amalan atau perbuatan apapun, misalnya.

Ilustrasi sederhana itu dinarasikan oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam satu karyanya, Ayyuhal Walad. Menurut al-Ghazali, kira-kira apa yang didapatkan seseorang yang merasa cukup dengan ilmunya? Sedang ilmu hanya dibiarkan menumpuk tanpa pernah diamalkan dan dimanfaatkan.

Apa manfaat dari usahanya sepanjang waktu, mengejar ilmu hingga mengorbankan banyak urusan? Jika hamparan ilmu itu selayak senjata yang cuma menempel dimana-mana pada tubuh pendekar di atas. Tanpa difungsikan sama sekali.

Iya, nyaris tak ada gunanya. Al-ilmu bi la amalin ka syajaratin bi la tsimar. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa ada buah. Demikian disebutkan dalam satu pepatah bahasa Arab.

Jika yang paling dinanti adalah merekahnya buah-buah di setiap cabang atau ranting pohon, maka kerinduan itu boleh jadi bertepuk sebelah tangan. Sebab manusia terlanjur berhenti pada tingginya atau luasnya ilmu yang dicapai. Menjadikannya sebagai akhir tujuan dari perjalanan ilmu. Ilmu bukan lagi sebagai perantara untuk mengamalkan apa yang diketahuinya.

Lihat saja, ada sebagian orang tampak hidup semaunya. Tak peduli kejadian dengan sekitarnya. Baginya hidup untuk bersenang-senang sepuasnya.

Disinyalir al-Quran, perilaku demikian tak ubahnya binatang ternak yang hanya berpikir tentang urusan perut dan di bawahnya saja. Toh, menurutnya, apa-apa juga milik dia. Ilmu dan harta yang didapat karena kerja kerasnya. Tak ada urusan dengan orang lain.

Bagi orang beriman, sikap tersebut tentu keliru. Fitrahnya manusia adalah hidup secara berjamaah dalam bingkai ukhuwah imaniah. Ada toleransi dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Mereka berlomba untuk urusan amal shaleh dan ibadah. Sebab diyakini, ilmu hanya bermanfaat saat diamalkan dan didakwahkan. Bukti manfaat ilmu ialah kepedulian dan kepekaan terhadap sesama.

Didapati dalam lembar sejarah, ada sosok Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya), yang tak punya apa-apa selain ilmu. Tidurnya banyak dihabiskan di emperan masjid. Tapi namanya harum mewangi sepanjang masa karena manfaat ilmunya.

Ada Abdurrahman bin Auf (semoga Allah meridhainya). Harta kekayaannya tak kunjung habis. Padahal setiap waktu harta itu dihabiskan dan dibelanjakan untuk kepentingan dakwah, jihad, hingga sosial.

Ada pula Amru bin Jamuh dan Abdullah bin Ummi Maktum (ridhailah mereka semuanya ya Rabb). Secara fisik mereka cacat. Ada yang kakinya pincang, ada yang matanya buta.

Namun nama-nama itu terukir indah karena prestasi yang ditorehnya. Selalu ada manfaat, itulah tekad baja mereka. Mereka sadar, apapun itu, takaran manusia dilihat dari kadar iman dan manfaatnya kepada sesama. Bukan pada apa yang dipunyai semata. Apalagi jika sekadar sebagai koleksi yang dibanggakan.

MASYKUR SUYUTHI

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.