Dominasi Ilmu

APA yang Anda pikirkan? Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh seorang Mark Zuckerberg, melalui aplikasi bikinannya, Facebook. Saban waktu kalimat tanya itu sudah siap tersedia. Terpampang begitu jelas di bagian atas dinding aplikasi jejaring sosial.

Zuckerberg tanya, setelah kemarin, apa lagi yang Anda pikirkan hari ini? Usai yang barusan, lalu sekarang berpikir apa lagi? Demikian pertanyaan tersebut terus mengejar. Sepertinya Facebook kepo, apa sih sebenarnya yang dipikirkan kebanyakan manusia yang memenuhi dunia ini.

Sebagai makhluk yang diciptakan Allah secara sempurna, tubuh manusia terdiri dari beberapa unsur. Ada raga, jiwa, akal, dan lain sebagainya. Raga berarti jasmani dan fisik luar manusia, jiwa itu yang menyangkut hati, dan akal ialah tempat manusia menalar sesuatu dengan pikirannya.

Sebagai kesatuan, semuanya saling berhubungan dan terkait dengan lainnya. Kata Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw), jika ada satu anggota badan yang sakit maka sakitlah yang lain pula.

Lebih jauh Rasulullah pernah ditanya: Siapakah orang yang paling utama? Dia menjawab: Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya. Para sahabat berkata: Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya? Nabi menjawab: “Orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad,” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani, dishahihkan oleh Imam al-Albani).

Dipahami dari hadits di atas, yang paling utama diperhatikan manusia ialah hatinya. Jika hati tersebut baik atau bersih niscaya yang lain juga ikut menjadi baik. Sebaliknya jika hati itu rusak atau terkotori maka yang tampak pada orang itu hanyalah hal-hal yang buruk juga. Mulai dari ucapannya yang kotor, akhlaknya buruk, perilakunya tak beradab, hingga apa yang dipikirkan pun ikut jadi rusak pula.

“… Ketahuilah dia itu adalah hati (yang memengaruhi semuanya)…” (HR. Muttafaqun alaihi).

Allah Ta’ala berfirman:

“… dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun [64]: 11).

Ayat ini menerangkan bahwa ketika Allah mengaruniakan iman dan hidayah dalam jiwa seseorang, maka seharusnya itu pulalah yang menjadi dominan dalam hati. Keyakinan penuh yang mendominasi tersebut selanjutnya berfungsi membatalkan dan menyingkirkan semua yang bertentangan dengan nilai-nilai ketauhidan.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa ilmu yang mendapat hidayah ialah ilmu yang benar-benar merasuk hingga ke petala jiwa seseorang. Dia mengalir bersama aliran darah yang menggelora dalam tubuh manusia.

Dengan berkah yang didapatnya, ilmu itu lalu dipancarkan penuh cahaya melalui tutur kata yang lembut kepada sesama Muslim. Dia berwujud menjadi amal yang shaleh dan semangat berbagi manfaat selalu.

Ketika ilmu itu belum mendapat cahaya hidayah, maka hatinya seolah terbelah. Pengetahuannya tentang agama begitu melimpah. Tapi itu bukan jaminan hatinya tergerak dan terpanggil mengerjakan satu amalan yang paling sederhana sekalipun. Ilmu dan wawasannya luas, namun disayangkan jiwanya tak kunjung menerima petunjuk. Jadilah orang-orang demikian menjadi manusia-manusia hipokrit yang sering menimbulkan masalah.

Inilah sesungguhnya kesempurnaan ajaran Islam. Agama tak menilai orang tersebut hanya dari rupa dan raganya secara fisik semata. Tidak pula mesti tergila-gila dari gagasan-gagasan hebat orang cerdas jika ternyata tak lebih dari sekadar teori di atas kertas saja.

Islam juga tidak menganjurkan untuk berlomba-lomba menyibukkan diri dengan ibadah ritual, beralasan untuk menyucikan hati kalau ternyata malah lupa atau tak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Dengan keindahannya, Islam mengajarkan hubungan yang begitu mesra antara satu dengan lainnya. Bahwa dominasi ilmu yang hebat pada nalar dan kecerdasan seseorang, seharusnya itu juga yang sampai kepada hati manusia. Ilmunya senantiasa sejalan dengan imannya. Sebagaimana imannya tak boleh lelah dalam memandu ilmu dan amal kesehariannya.

Sehingga, ketika manusia menuangkan pikirannya atau mengerjakan satu perbuatan, sesungguhnya saat itu orang tersebut sedang mempersaksikan apa yang sedang dominan dalam hatinya. Apakah yang dominan dalam hatinya, energi takwanya ataukah potensi fujurnya.

MASYKUR SUYUTHI

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.