Rabbana, Jadikanlah Ilmu yang Kami Pelajari Bermanfaat

ADA banyak buku. Ada banyak ilmu. Keduanya ada di sekeliling manusia. Banyak ilmu bisa didapat lewat buku. Untuk itu sebagian menjuluki buku sebagai jendela dunia.

Namun, tak semua buku bisa memberi ilmu. Ada buku hanya bersifat hiburan atau selingan saja. Ada juga buku malah mengajarkan kepada keburukan. Tentu seperti itu yang didapat bukan ilmu bermanfaat. Bahkan nirfaidah.

Pun dengan ilmu, tak semua juga mesti lewat buku. Buku hanya satu sarana menimba ilmu. Selebihnya, ada ratusan pintu-pintu lainnya yang bisa menawarkan ilmu. Setiap jengkal dari seluruh jagat raya bahkan menjadi alamat ilmu. Sebagai pertanda kebesaran Allah, Pencipta semesta. Di sana ada potret keagungan Sang Khaliq sekaligus keterbatasan manusia sebagai makhluk.

Hal ini pernah diungkap oleh Aidh al-Qarni, penulis buku La Tahzan. Ia menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Perpustakaan Kongres, Washington, Amerika. Kabarnya, itulah perpustakaan terbesar di dunia saat ini.

Buku-buku di perpustakaan itu disebut nyaris setinggi gunung. Tumpukannya mencapai koleksi ratusan ribu buku. Dari ilmu-ilmu modern sampai literatur dan manuskrip kuno.

Usai berpenat-penat dalam pencarian setetes ilmu. Sebakda berpayah-payah dalam pendakian. Lalu apa yang didapatkan oleh orang itu? Adakah sejumput barakah ilmu tersebut dirasakan? Benarkah ada manfaat yang didapat?

Sebab, nyatanya, buku setumpuk bak gunung pun bukan jaminan ilmu itu lantas beroleh rahmat-Nya. Bisa saja, pengetahuan manusia bertambah tapi kian menjauhkan dirinya dari hidayah.

Bagi orang beriman, ilmu ialah sarana. Sebab ilmu yang dikejar hingga berpeluh keringat bukanlah tujuan akhir. Ibarat halte kendaraan, ada terminal berikutnya yang mesti dituju sebagai perhentian akhir. Bahwa setelah berilmu ya beramal.

Setelah beramal masih ada keikhlasan yang perlu dijaga. Hingga benar-benar semuanya bersih. Lillahi Ta’ala semata demi menggapai ridha-Nya. Itulah puncak kebahagiaan hakiki manusia.

Jadi rupanya usai mengetahui atau memahami sesuatu masih ada kewajiban lain yang menanti. Yakni mengerjakan perintah itu atau menjauhi larangannya. Ahli hadits, Imam al-Bukhari memberi penamaan khusus dalam karyanya. Bab al-ilmu qablal qauli wal amali.

Al-Qur’an juga memberi isyarat demikian. Ada begitu banyak ayat yang menerangkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu. Sekaligus peringatan sekira ilmu itu diabaikan begitu saja.

Firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al-Mujadilah [58]: 11).

Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff [37]: 2-3).

Ilmu yang disanjung sedemikian tinggi, bahkan ditambah dengan beberapa derajat kemuliaan yang tak dimiliki selainnya, seketika bisa nyungsep menjadi orang-orang yang dihinakan. Hal itu tak lain gara-gara persoalan ilmu yang tak sebanding dengan perilaku dan akhlaknya. Saat itu, manusia mendapat sematan gelar, sebagai seburuk-buruk binatang. Ia dianggap begitu dekat dengan ilmu dan kebenaran namun sedikit pun ia tak mendapat hidayah.

Lihatlah bagaimana seekor keledai yang setiap waktu disibukkan lalu lalang memikul beban kitab di pundaknya.

Allah berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Jumuah [62]: 5).

Inilah tragedi ilmu. Bencana itu menimpa saat pengetahuan baru secuil tapi dirinya telah sombong hingga lupa daratan. Saat ilmunya yang seujung kuku namun sudah melenakan dirinya dari beribadah kepada Allah. Semua karunia Allah dinikmati sepuasnya tapi giliran diminta mensyukurinya, tiba-tiba ia enggan dengan sejuta alasan dibuatnya.

Rabbana, jadikanlah ilmu yang kami pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang membuat kami semakin takut kepada-Mu. Ilmu yang membuat kami bisa menolong sesama manusia dan menegakkan agama-Mu.

Karunikan hidayah dan rahmat-Mu ya Allah. Jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur atas segala curahan nikmat dan kasih sayang-Mu selama ini.

MASYKUR SUYUTHI

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.