Karakter Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang Harus Diteladani

MADIUN (Hidayatullah.or.id) — Sebagai umat Islam, patutlah kita menjadikan Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam (SAW) sebagai teladan dalam segenap kehidupan. Terlebih, dalam hal kepemimpinan.

Demikian tegas Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. DR. Nashirul Haq, MA, ketika mengisi materi di Rapat Kerja   Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur, Rabu (29/01/2020)

“Sosok visioner, menjadi salah satu ciri kepemimpinan Nabi,” katanya.

Seorang pemimpin, lanjutnya, haruslah memiliki visi besar. Dan itulah yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Hal itu bisa dilihat pada peristiwa perang Khandak. Di mana saat itu, kaum muslimin tengah berjibaku menyiapkan diri dengan menggali parit untuk menghadapi kaum quraisy dan sekutu.

Namun, di waktu yang sama, beliau (Nabi Muhammad SAW) menyuntikkan semangat, dengan mengatakan kepada para sahabat, bahwa Yaman, Persia, dan Romawi, yang notabene menjadi simbol kejayaan peradaban saat itu, akan jatuh di tangan kaum muslimin.

“Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi sahabat, untuk terus berjuang mewujudkan apa yang telah disabdakan Rasulullah SAW,” tegas alumni Madinah ini.

Lebih lanjut sosok murah senyum ini mengingatkan para peserta Rakerwil, bahwa pemimpin yang yang tidak memiliki visi, itu ibarat seseorang berjalan di tengah kegelapan.

Adapun visi yang tidak dilanjuti dengan tindakan atau aksi nyata, itu tak ubahnya orang yang tengah bermimpi di siang bolong.

Karakter lainnya, pemimpin haruslah memiliki keteguhan hati. Tidak rapuh. Apalagi sampai mudah terpengaruh.

Ustadz Nashirul mencontohkan, bagaimana tegarnya hati Nabi, ketika mengahadapi imingan-imingan kaum quraisy untuk meninggalkan dakwah, dengan mempengaruhi paman beliau, Abu Tbalib.

“Dengan tegas Nabi menolak. Meski rayuan itu datang dari paman yang sangat dihormatinya. Bahkan beliau lebih memilih untuk mati daripada menyerahkan diri. Pilihannya hanya dua; hidup mulia, atau mati sebagai syahid,” gugahnya.

Sikap inilah (keteguhan hati), imbuh mantan ketua STIS Balikpapan ini, yang akan memberikan energi kekuatan bagi para pengikut, untuk menapaki jejak atasannya.

“Jadi modal keteguhan hati inilah yang akhirnya menjadikan risalah Islam terus menyebar, hingga akhirnya sampai pada kita, pada hari ini” katanya.

Selain daripada itu, pemimpin juga dituntut untuk mampu bersikap adil, memiliki skil komunikasi yang baik, konsekuen dan konsisiten dengan keputusan yang diambil.

“Aib besar bagi para pemimpin yang suka menyelisihi kesepakatan yang telah dibuat. Ia akan kehilangan wibawa.”

“Karakter yang tak kalah pentingnya,” imbuhnya, “pemimpin itu harus bermusyawarah dalam mengambil kebijakan. Islam tidak mengenal kepemimpinan diktator. Dan Rasulullah SAW pun tidak pernah menyontohkan demikian. Padahal beliau merupakan pribadi yang maksum,” katanya.

Untuk itu, himbaunya, seorang pemimpin haruslah menyingkirkan kepentingan pribadi dan rasa gengsi. Karena dua hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pemimpin diktator. 

Selain Ust Nashirul Haq, dari jajaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, hadir juga Ketua Departemen Organisasi Ust Syamsuddin SE MM, yang mengemban tugas sebagai pendamping Rakerwil Hidayatullah Jawa Timur kali ini.

Rakerwil yang diselenggarakan di Kampus Hidayatullah Madiun ini diikuti oleh 135 orang terdiri dari pengurus DPW dan DPD Hidayatullah seluruh Jawa Timur. Dengan mengangkat tema Konsolidasi Wilayah untuk Pencapaian Target Organisasi. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.