Sedari Dini Tanamkan Nilai Kejujuran dalam Berniaga

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga penyemaian generasi yang mencetuskan motto “Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, maka sudahlah tentu menjadi komitmen Hidayatullah bersama segenap stakeholder untuk selalu meneguhkan penanaman nilai-nilai agung ajaran Islam dalam setiap aktifiti di lingkungan pendidikan.

Hal demikian diantaranya dilakukan oleh SD Integral Hidayatullah Ngawi, Jawa Timur, yang belum lama ini menyelenggarakan kegiatan Market Day bertajuk Aku Jujur Dalam Berdagang.

Ketua panitia kegiatan Market Day SD Luqman Al Hakim Ngawi, Ustadzah Nur Hasanah, mengatakan dengan kegiatan ini mengajarkan anak jujur sejak dini, mencontoh akhlak nabi yang jujur dalam berdagang. “In syaa Allah akan membentuk pembiasaan yang akan menjadi karakter anak,” kata Hasanah.

Menurut Hasanah, karakter jujur dan amanah saat ini mungkin telah menjadi sesuatu yang “mahal” dan langka. Sungguh miris menyaksikan rentetan kejahatan rente di negeri ini. Apalagi pelaku korup ini tidak saja oleh masyakarat kelas bahwa namun umumnya juga mereka yang bergelimang harta.

“Mungkin memang mental rakus yang mendasari berbuat keji, akibatnya sifat jujur dan amanah seolah menguap tak berbekas pada diri. Itu yang menjadi pertimbangan pentingnya penanaman adab penguatan karakter jujur dalam diri sejak dini,” imbuh Hasanah.

Kegiatan market day yang digelar cukup meriah di komplek sekolah Jalan Panjaitan No.20 B, Kamis (27/02) pagi ini berupa jual-beli antar siswa SD Luqman Al Hakim yang bertujuan untuk melatih anak bermuamalah, menumbuhkan jiwa wirausaha, mengajarkan anak nilai-nilai kebersamaan dan yang terpenting adalah menanamkan karakter jujur sejak dini.

Diterangkan Hasanah, dalam ajaran Islam, jujur merupakan sifat yang sangat terpuji. Suri tauladan terbaik umat Islam, Muhammad Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, telah menunjukan sifat terpuji itu.

“Maka di kalangan bangsa Quraish waktu itu, Nabi Muhammad diberi gelar al-amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya,” ujarnya.

Dalam beberapa tulisan sejarah, Muhammad Rasulullah disebutkan saat usia 12 tahun Nabi SAW telah turut serta dalam perjalanan berniaga bersama pamannya, Abu Thalib. Kemudian pada saat usai remaja, disebutkan pada usia 17 tahun, Muhammad SAW telah memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri.

Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam buku Sirah Nabawiyah menyebutkan, dalam berdagang, nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakter beliau di segenap sisi kehidupan, hingga diberi gelar al-amin.

Melihat sekilas sirah di atas, Muhammad juga menjalani fase berdagang saat usai 12 tahun hingga mendapat gelar al-Amin, tentu bukan sesuatu yang instan terjadi.

“Karakter harus dibentuk sejak dini. Apa lagi kita sebagai umatnya, sebagai manusia biasa maka wajib hukumnya membiasakan karakter jujur dan amanah sejak dini,” kata Hasanah.

Penanaman karakter jujur dan amanah sejak dini disadari Ustadzah Nur Hasanah sebagai hal penting dan mendasar dalam menyiapkan generasi Rabbani yang jujur dan amanah di masa mendatang.

“Sekolah Dasar adalah dasar pendidikan anak ke jenjang berikutnya. Kita mempersiapkan masa depan mereka dua puluh tahun yang akan datang,” tukas Hasanah.

Dia menambahkan, di SD Luqman Al Hakim Ngawi ini, sebagai sekolah berbasis tauhid, selain mengajar, guru juga berposisi sebagai pendiidk dan juru dakwah yang setiap materi yang diajarkan memuat pesan-pesan Al Qur’an dan Sunnag.

Guru Kelas SD Luqman Al Hakim Ngawi ini berharap melalui kegiatan ini diharapkan mampu membiasakan anak untuk bersikap jujur, amanah dan penyayang.

Terlihat pada saat kegiatan, dengan sabar para pedagang, yang merupakan murid kelas atas (kelas 4-6) SD Luqman Al Hakim Ngawi, melayani pembelinya dari adik kelas SD, adik-adik TK maupun wali murid yang datang dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Sikap jujur ditunjukkan oleh para pedagang maupun pembeli di kegiatan itu. Para pedagang cilik dengan jujur menyampaikan dagangan apa adanya. Tidak ditutup-tutupi, jika masakannya baru disampaikan baru, jika tidak maka disampaikan tidak. Para pembeli juga dengn jujur menghitung dan membayar apa yang dibelinya.

“Bukan semata jumlah keuntungan nominal yang dituju dari kegiatan ini. Tapi pembentukan mental karakter jujur inilah yang penting,” pungkas Hasanah.*/Galih Pratama Yoga

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.