Surat Edaran Protokol Krisis Hidayatullah

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah pada 7 Sya’ban 1441 H atau 1 April 2020 mengeluarkan Protokol Krisis Hidayatullah untuk dipahami dan dijalankan seluruh kader dan jamaah Hidayatullah terkait penanganan wabah covid19.

Berikut isi protokol yang ditandatangani oleh Ketum Umum DPP Hidayatullah tersebut:

Bismillahirahmahirrahim

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9).

“Tidaklah beriman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Latar Belakang

  1. Saat ini kita dan seluruh umat manusia di dunia sedang menghadapi wabah virus corona (corona virus decease / Covid-19) yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah ditetapkan sebagai Pandemi (wabah dunia).
  2. Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi puncak covid-19 akan mengalami pergeseran menjadi April hingga Mei. Hal ini disampaikan setelah adanya simulasi dan pemodelan sederhana penyebaran virus corona (covid-19) di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dikonfirmasi setelah terjadi penambahan positif corona yang terjadi di Indonesia. Prediksi yang sama juga disampaikan oleh Departemen Matematika Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Sebelas Maret.
  3. Banyak pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang memprediksikan Indonesia akan menjadi Epicentrum wabah seperti Wuhan China karena lalai dan abainya pemerintah Indonesia mengantisipasi wabah ini sejak awal sehingga setelah menyebar tak terkendali pemerintah dan masyrakat dalam kondisi tidak siap.
  4. Dari dunia medis dilaporkan bahwa mulai banyak orang yang mengalami gangguan psikosomatik (orang yang merasa khawatir berlebihan, merasa dirinya sakit namun sebenarnya tubuhnya tidak sakit) dan dikhawatirkan terjadi gelombang Anxiety disorder (gangguan kecemasan).
  5. Wabah Covid-19 ini turut memperparah kondisi ekonomi karena kondisi makro ekonomi dalam negeri saat ini, tanpa terjadinya wabah Covid-19, telah menunjukkan gejala terjadinya krisis. Ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang USD dan mata uang lainnya, anjloknya IHSG dan yang terakhir adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi, yang menurut Menteri Keuangan, skenario terburuknya adalah hingga 0%.

Dari latar belakang tersebut, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah memandang perlu untuk menerbitkan Protokol Krisis Hidayatullah, sebagai panduan bagi seluruh anggota, kader, jama’ah, amal usaha dan badan usaha dan struktur organisasi, dari DPP, DPW dan DPD, sebagai berikut :

  1. Cara terbaik untuk menghentikan wabah Covid-19 ini adalah membangun imunitas setiap pribadi secara optimal. Imunitas adalah cara tubuh menghadang serangan dari luar termasuk virus.
  2. Imunitas bisa dilakukan dengan upaya bersifat fisik seperti meningkatkan higienitas diri, mulai dari cuci tangan, semprotan lingkungan, cara bersin, cara batuk, cara karantina atau isolasi bahkan cara berinteraksi yang mengharuskan menjaga jarak (physical distancing) bahkan dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah (stay at home).
  3. Imunitas tubuh justru bisa dilesatkan melalui upaya non-fisik. Imunitas meningkat saat spiritualitas meningkat. Bagi kader Hidayatullah, spiritualitas terus dipupuk setiap waktu melalui Gerakan Nawafil Hidayatullah, halaqah diniyah, halaqah kader dan dakwah fardiyah serta dalam kondisi saat ini yang mengharuskan tinggal di rumah dan menjaga jarak merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Spiritualitas yang meningkat akan membangun ketenangan dan menguatkan kesabaran. Seperti perkataan seorang Ilmuwan Muslim,

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan”

  1. Secara psikologis, setiap manusia cenderung akan lebih sehat jika dalam kondisi tetap bekerja. Semua kader Hidayatullah harus tetap produktif menjalankan amanahnya. Di rumah bisa tetap bekerja (work from home) dan manfaatkan teknologi untuk tetap berinteraksi dengan rekan kerja baik melalui group WA maupun menggunakan teknologi videoconference seperti Zoom, TeamLink, dll. Bagi yang tidak memungkinkan untuk work from home, bisa tetap bekerja seperti biasa namun dengan sungguh-sungguh mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.
  2. Nabiullah Muhammad SAW telah mengajarkan cara meningkatkan imunitas sosial, yaitu dengan salah satu akhlak yang dicontohkan oleh beliau yaitu perilaku Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan diriya sendiri.
  3. Berbagai penelitian membuktikan bahwa saat Altruisme (Itsar) dikedepankan dan egoisme ditekan seminimal mungkin (mendahulukan selain dirinya, menebarkan apa saja yang bermafaat dari dirinya, bersegera membantu siapa pun yang membutuhkan) akan berdampak meningkatnya kebahagiaan yang kemudian meningkatkan imunitas hingga optimal sehingga dapat mengalahkan serangan dari luar tubuh termasuk virus. Demikian sebaliknya saat egoisme dikedepankan, kegelisahan pribadi dan sosial akan makin mencekam dan berdampak pada imunitas yang menurun.
  4. Oleh karena itu, dalam kondisi krisis seperti ini maka kita akan menjauhi sikap yang mementingkan diri sendiri apalagi sikap yang mencari keuntungan dari kondisi seperti ini. Meski ada anggota dan kader yang secara ekonomi memungkinkan untuk melakukan, kita tidak akan melakukan panic buying membeli, memborong apalagi menimbun segala sesuatu hanya karena khawatir kehabisan sembako, dll. Kita juga tidak akan memperkeruh suasana seperti sikap egois yang mengalihkan rupiah ke dollar, membeli emas atau tindakan-tindakan lainnya yang membuat orang lain menjadi panik atau ekonomi negara semakin terpuruk.
  5. Kondisi seperti saat ini adalah momentum yang paling tepat menunjukkan diri bahwa kita, Hidayatullah, adalah sebuah Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah. Waktu yang tepat bagi kita untuk beramal kebajikan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan ummat, agama dan bangsa.
  6. Bangun kepedulian dari lingkungan terdekat, kampus-kampus Hidayatullah yang berjumlah 580 kampus. Upayakan untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang menunjukkan bahwa kita peduli, terhadap tetangga-tetangga di sekitar lingkungan kampus yang penghidupannya terdampak, orang-orang yang rentan (orang tua dan orang yang mempunyai permasalahan kesehatan), dll baik yang diinisiasi oleh BMH, IMS, SAR, Pos Da’I, Tim Aksi Siaga kemanusian (TASK), lembaga-lembaga sosial lainnya maupun berinisiatif secara pribadi mengajak orang lain untuk melakukan gerakan kepedulian.
  7. Setiap kader Hidayatullah adalah Da’I, maka sapalah ummat lebih sering dan lebih akrab meski tidak harus bertatap muka langsung, kabarkanlah harapan, bangkitkan optimisme, sampaikan peluang kita menang menghadapi pandemi global dan krisis ini. Ajak ummat lebih rileks dan lebih tawakal agar terbangun ketahanan masyarakat terhadap stress menghadapi kondisi saat ini. Saat ini adalah momentum bagi setiap Da’I Hidayatullah untuk mempersaudarakan ummat (Muakhah) seperti halnya Rasulullah mempersaudarakan para Muhajirin dan Anshar.

Adapun arahan khusus dan bersifat instruksi bagi seluruh anggota, kader, jama’ah, amal usaha, badan usaha dan struktur organisasi, dari DPP, DPW dan DPD, sebagai berikut :

1.Untuk Anggota, kader dan Jama’ah

a. Berhemat dan melakukan pengeluaran atas yang penting dan mendesak

b. Menghindari pengeluaran yang tidak perlu

c. Mempersiapkan ketersediaan makanan (bukan menimbun), terutama makanan pokok untuk beberapa bulan kedepan

d. Dilarang melakukan panic buying (membeli dengan tujuan menimbun) dan rush money melakukan penarikan uang yang besar-besaran di bank

e. Memperbanyak infaq dan sedekah

f. Tidak dianjurkan untuk melakukan spekulasi dengan menukarkan dollar atau membeli emas, dengan tujuan untuk mencari keuntungan

g. Memanfaatkan lahan yang dimiliki sebesar apapun ditanami dengan tanaman-tanaman produktif sebagai bagian dari menjaga ketersediaan pangan, misal sayuran dan sejenisnya.

h. Belanja ke warung kecil terdekat

i. Selalu menyediakan uang cash secukupnya

2.Untuk Amal Usaha dan Badan Usaha

a. Melakukan penghematan dengan cara meninjau ulang pos-pos pengeluaran untuk menjaga cashflow.

b. Merevisi dan mengevaluasi ulang pos-pos penerimaan dan memastikan bahwa pemasukan terjaga dengan baik

c. Bagi amal usaha Pesantren, melakukan persiapan ketersediaan makanan di pesantrennya untuk beberapa waktu tertentu, bukan dalam rangka untuk menimbun

d. Memperbanyak kegiatan sosial yang bisa dilakukan : bazar makanan murah (dengan tetap memperhatikan physical distancing), jika perlu menyediakan makanan murah/gratis

e. Memanfaatkan tanah yang dimiliki oleh amal usaha/badan usaha dan ditanami dengan tanaman pangan.

f. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membantu mempersiapkan ketersediaan pangan, misal : dengan menanam tanaman di lahan-lahan kosong.

g. Dilarang melakukan spekulasi dengan menukar rupiah dengan dollar (kecuali memang untuk pembayaran/keperluan usaha), dan juga membeli emas untuk tujuan mencari keuntungan

h. Dilarang melakukan ekspansi usaha terutama yang terkait dengan peminjaman dana dari pihak ke-3 (perbankan atau lembaga pembiayaan lainnya)

i. Melakukan negosisasi/restrukturisasi pinjaman bagi amal usaha/badan usaha yang memiliki pinjaman di lembaga keuangan

j. Selalu menyediakan uang cash secukupnya

k. Saling bekerjasama antara amal usaha dan badan usaha

3. Untuk Struktur Organisasi DPP, DPW dan DPD

a. Melakukan penghematan dengan cara meninjau ulang pos-pos pengeluaran untuk menjaga cashflow. Mata anggaran yang tidak penting, dipending atau dicoret dari anggaran

b. Merevisi dan mengevaluasi ulang pos-pos penerimaan dan memastikan bahwa pemasukan terjaga dengan baik di APBO (Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi)

c. Mengalihkan penghematan dana dari pos-pos anggaran tersebut sebagai DanaCadangan Organisasi

d. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melaksanakan kegiatan sosial seperti : bazar makanan murah (dengan tetap memperhatikan physical distancing), jika perlu menyediakan makanan murah/gratis

e. Dilarang melakukan spekulasi dengan menukar rupiah dengan dollar dan juga membeli emas untuk tujuan mencari keuntungan

f. Bendahara selalu menyediakan uang cash secukupnya, untuk kepentingan mendesak (dana taktis) dan selalu menyediakan saldo di rekening yang aman dan dijamin LPS

g. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyiapkan ketahanan pangan, dengan memproduktifkan lahan-lahan yang ada dengan skala yang masif.

Demikian Protokol Krisis Hidayatullah menghadapi kondisi wabah virus corona dan krisis ekonomi. Hal-hal yang perlu dibreakdown, dibuatkan Juknis dan Juklak akan disiapkan oleh bagian terkait. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jakarta, 7 Sya’ban 1441 H / 1 April 2020

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr. Nashirul Haq, Lc., MA
Ketua Umum

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.