Ustadz Abdul Haris Amin, Dai Spesialis Wilayah Konflik itu Berpulang

Almarhum Ust Abdul Haris Amin bersama sang istri, Nunung Nurhayati (dok)

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Bertahun tahun ia menjalani tugas dakwah dari Aceh hingga Papua. Nyaris seluruh hidupnya dihabiskan untuk perjuangan meluaskan risalah Islam, kini sosok dai tangguh itu berpulang untuk selamanya.

Ustadz Abdul Haris Amin meninggal dunia pada usia 58 tahun di Timika, Papua Barat, pada Sabtu malam, 20 Rajab 1442 H/ 6 Maret 2021. Sebelumnya, beliau sempat sakit beberapa waktu.

Namun kendatipun dalam kondisi demikian, ia masih sempat mengikuti kegiatan daurah Al Qur’an yang diselenggarakan oleh Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah yang diikuti oleh segenap anggota Dewan Murabbi Wilayah seluruh Indonesia di Balikpapan, Kaltim, awal Februari lalu.

Pada kegiatan tersebut, Abdul Haris Amin mengikuti acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 pekan tersebut dengan sangat antusias. Tak terlihat sakit, bahkan tak pernah absen mengikuti berbagai sesi upgrading.

Anggota Dewan Murabbi Pusat Ust Zainuddin Musaddad yang turut memandu kegiatan tersebut menyaksikan betul betapa kuatnya mujahadah almarhum dalam belajar.

“Allahu Akbar Walilllahhilhamd. Perjalanan mujahid (Abdul Haris Amin) super mujahadah saat camp Qur’an. Duduk tak pernah absen menghadapkan bacaan Mukjizat Qur’an kepada Ust Abdan Syakir yang masih muda belia,” kata Ust Zainuddin Musaddad atau karib disapa Abah Zain ini.

Abah Zain menyaksikan sendiri semangat Abdul Haris Amin, yang, kendatipun dalam kondisi yang kurang stabil, tetap tekun dan gigih mengikuti acara yang digelar intensif dibawah panduan tim DMP.

“Tak ada gambaran penat dan sungkan, duduk disiplin mencermati dan menirukan bacaan walau dengan suara berat. Bercerita tak kenal lelah dengan tema ringan, kadang lucu,” imbuh Abah Zain.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi.

“Selamat jalan kawan. Allah menunggu, Insyaa Allah, di alam Roudlatul Jannah,” doanya.

Seperti bapaknya, mendiang Ust Amin Bahrun yang merupakan kader dai awal Hidayatullah, almarhum Abdul Haris Amin juga tipikal anak muda yang selalu girang dimanapun tugas dakwah diberikan.

Dia kader andalan di setiap tugas dakwah khususnya di kawasan rentan dan minoritas, termasuk dijuluki sebagai dai spesialis wilayah konflik karena kerapkali mendapat amanah di tempat yang sedang mengalami krisis.

Almarhum pernah tiga belas tahun bertugas di Aceh yang saat itu masih menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) Indonesia di Aceh antara tahun 1990-1998. Tentu tak mudah berdakwah di daerah yang sedang berkonflik tersebut. Dengan pembawaannya yang ramah dan selalu berupaya menyambung silaturrahim dengan berbagai pihak, Abdul Haris Amin dapat terus meluaskan kiprahnya di Tanah Rencong.

Selain sudah seperti tanah sendiri, ia sudah cinta pada wilyah yang pernah diterjang tsunami ini. Meski demikian, setelah dianggap berpengalaman berdakwah di wilayah Aceh, ia justru kembali dipindahkan tugaskan ke Papua. Kedua daerah ini dikenal wilayah konflik, walaupun Aceh sendiri, sejak 2005 Aceh telah dideklarasikan sebangai wilayah damai melalui MoU Helsinki.

Dijuluki sebagai dai spesialis wilayah konflik, Abdul Haris merendah dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang biasa.

“Hanya teman-teman saja yang menyebut saya dai spesialis wilayah konflik. Yang saya rasakan hanya soal kesiapan mental dan siap ditugakan kemana saja,” katanya di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, (2/10/2011) seperti dikutip laman Hidayatullah.com, menjelang keberangkatannya bersama anggota keluarga ke Timika, Papua.

Abdul Haris bersama dengan sahabat dalam awal-awal perintisan kampus Hidayatullah

Haris sejak 1998 hingga lima tahun lamanya bertugas di Pesantren Hidayatullah, Nisam, Aceh Utara. Kemudian pindah ke Medan selama dua tahun dan pasca tsunami Aceh 2004 ditugaskan kembali ke Hidayatullah Cabang Banda Aceh.

Ia mengisahkan, kiat berdakwah di wilayah konflik. Pertama, mengharapkan doa dari teman-teman, supaya selalu dalam lindungan Allah Swt. Kedua, ia terus mengkuti memperhatikan dan arahan pimpinan.

Kala itu, akibat konflik, jumlah santri Pesantren Hidayatullah di Nisam, Aceh Utara, turun drastis, dari 120 orang tinggal empat orang lagi.

Selain pengalaman di wilayah konflik, mantan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Aceh ini, juga mendapatkan pengalaman berharga saat tsunami. Ia, sekaligus ikut menjadi relawan, mengurus pengungsi dan membantu rehabilitasi pasca tsunami.

“Tak semua orang bisa mendapatkan dua pengalaman dakwah sekaligus, konflik dan tsunami,” katanya. Ia menyebut hal itu sebagai pendidikan alami yang diberikan Allah padanya.

Alhamdulillah, kini, Hidayatullah di Aceh pasca stunami telah berkembang pesat. Memiliki enam Cabang: di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Tenggara, dengan 212 santri/anak asuh dan 30 pengasuh/guru.

Sebelum meninggalkan bumi Aceh, ia menceritakan awal dakwahnya di Propinsi berjuluk Serambi Makkah itu. Saat itu, tugas pertamanya di Jakarta 1983. Selanjutnya berturut-turut pindah ke berbagai daerah: Samarinda, Bontang, ditugaskan lagi ke Jakarta, Manado, Manokwari, Kaltim, Lhokseumawe Aceh Utara, Medan dan Banda Aceh.

Selepas dari Banda Aceh, tugas telah menantinya kembali untuk berdakwah di bumi Timika. “Mohon doa saya dapat bertugas dengan baik dan mencapai target dakwah di Timika,” harapnya kala itu.

Kini Abdul Haris berpulang kekharibaan Allah SWT dan telah memungkasi perjalanan dakwahnya dengan baik dan sangat indah. Semoga kita yang ditinggalkan dapat mewarisi mujahadah beliau dan kelak menyusulnya dengan catatan amal shaleh yang disambut gemuruh di langit dan maslahat meluas di bumi. (ybh/hio)