Menjadi Saudara Rasulullah

SEPULANG dari haji wada’, Rasulullah menyempatkan diri untuk takziyah ke pemakanan Uhud. Kemudian Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah bersabda, “Saya rindu bertemu saudara-saudaraku”.

Tentu para sahabat heran, hening diam sejenak dan bertanya-tanya dalam hatinya,

“Ya Rasulullah, bukankah kami ini saudaramu?” kata Abu Bakar kemudian.
“ Bukan, kalian adalah sahabatku” jawab Rasulullah.

“Kami juga saudaramu, Ya Rasulullah,” kata Abu Bakar lagi seolah ingin diakui juga sebagai saudara Rasulullah.

Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kemudian beliau bersabda,

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tapi mereka beriman kepadaku dan mencintai aku melebihi cintanya kepada anak dan orangtuanya. Merekalah saudaraku dan kelak akan bersamaku. Beruntunglah orang-orang yang bertemu kepadaku dan beriman kepadaku. Beruntung pula orang-orang yang tidak pernah bertemu kepadaku tapi mereka beriman kepadaku”.

Para sahabat saja ingin menjadi saudara Rasulullah. Artinya, menjadi saudara Rasulullah itu memiliki kedudukan yang istimewa.

Peluang itu ada pada kita yang hidup ratusan tahun setelah Rasulullah wafat dan kita tidak pernah melihat dan berjumpa dengan Rasulullah.

Kita bisa melihat akhlak Rasulullah melalui membaca dan memaknai mukjizat yang Allah berikan yaitu kitab suci al Qur’an.

Kita mendengar sabda Rasulullah melalui hadis-hadistnya yang ditulis dan dibacakan para ulama.

Kita bisa mengenal Rasulullah dari kitab-kitab shirah yang disampaikan oleh para kyai dan ustadz.

Tapi untuk menjadi saudara Rasulullah tidak cukup hanya mengenalnya tapi mengimaninya dan mencintainya melebihi cinta kita kepada anak, saudara dan orang tua.

Aktualisasi beriman kepada Rasulullah mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Artinya, saat mendengar atau membaca hadist maka seolah memang melihat dan mendengar nasehat Rasulullah sehingga ada keterpanggilan dan semangat untuk menjalankan perintahnya. Seperti hadist tentang keutamaan menjaga waktu shalat, mengamalkan shalat sunnah rawatib, puasa Senin Kamis dan banyak sunnah yang lainnya.

Ada banyak cara dan contoh untuk bisa dicintai Rasulullah. Ada sahabat Bilal bin Rabah yang sandalnya sudah ada di surga karena amalan yang istiqamah dalam melaksanakan sunnah shalat setelah wudhu.

Ada sahabat yang setiap mau tidur memaafkan semua kesalahan orang lain. Ada juga yang senantiasa setiap pagi bersedekah, ada yang memperbanyak membaca shalawat.

Rasulullah rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaranya. Sekarang apakah kita yang mengaku dan ingin menjadi saudara juga merindukan Rasulullah?

Rasa rindu itu ada perasaan menggebu dan semangat untuk bertemu dengan mempersiapkan sejak sekarang ini untuk ikhlas beramal ibadah, beramal sholeh dan mengambil tugas Rasulullah yaitu dakwah tarbiyah untuk memperjuangan agama Islam bisa tegak di dunia ini. Wallahu a’lam bis shawwab

UST ABDUL GHOFAR HADI