Kiprah dan Tantangan Ekonomi Hidayatullah

Oleh Drs Wahyu Rahman, MM*

SEKALIPUN secara historis Hidayatullah berangkat dari sebuah gerakan dakwah berbasis kader dan pesantren, tidak berarti kesadaran dan gerakan ekonomi tidak ada sama sekali. Terlebih sepanjang sepak terjang selama 50 tahun ini, kesadaran dan gerakan ekonomi itu ada walau belum menjadi satu kekuatan yang capaiannya sama dengan mainstream gerakan Hidayatullah itu sendiri, yakni dakwah dan tarbiyah.

Sejak masa Hidayatullah di bawah kepemimpinan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, wacana, kajian, implementasi bahkan gerakan nyata ekonomi secara langsung telah dimulai dan dijalankan.

Dari sisi wacana dan kesadaran berekonomi, Ustadz Abdullah Said sering mengatakan, “Suatu saat, kita akan memiliki toko, yang pada hari ini orang pesan, besok barang diantar.”

Kemudian dikatakan pula, “Kita akan membuat toko, dimana kita menjual terasi sampai helikopter.”

Kala ungkapan itu disampaikan, belum satu pun kader dan jamaah yang memandang ungkapan itu “realistis.”sebab di saat itu makan saja masih sangat sulit. Namun, kini sudah dapat dirasakan bagaimana orang belanja tidak perlu ke toko, hingga delivery order dan marketplace menjadi gaya hidup baru masyarakat di era digital.

Jelas ungkapan itu mengajak segenap kesadaran kader dan jama’ah Hidayatullah untuk melihat keadaan masa depan, dimana kaum Muslimin, setidaknya melalui Hidayatullah dapat memiliki kekuatan ekonomi secara riil.

Sudah barang tentu untuk sampai pada visi tersebut perlu gerakan perantara. Maka sejak awal, Hidayatullah telah aktif dalam gerakan ekonomi mikro, seperti membuat toko sembako disamping untuk media pembelajaran juga untuk memenuhi kebutuhan santri dan warga, jasa fotocopi, peternakan, perikanan, percetakan, penerbitan, hingga penyiaran dan lembaga keuangan.

Bidang Ritel

Kini gerakan ekonomi Hidayatullah terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, seiring dengan hadirnya supermarket dan mini market, serta usaha dalam bentuk retail lainnya, di berbagai kota di Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Jakarta.

Brand utama jaringan retail ini bernama Sakinah Mart yang tertidiri dari 17 cabang. Meskipun tetap ada yang berjalan dengan menggunakan brand lain, seperti Amanah Mart, Mulia Mart, U Mart dan lainnya.

Meskipun serangan digitalisasi di bidang percetakan dan penerbitan, majalah suara Hidayatullah (SAHID) masih tetap eksis hingga saat ini dengan berbagai inovasi baik konten maupun distribusinya.

Agro Bisnis

Optimalisasi lahan yang cukup luas dimiliki oleh pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh Nusantara menghadirkan bisnis di bidang agro.

Bisnis di sektor agro ini menjadi salah satu program fokus untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan terutama di masa pandemi covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat dan berdampak pada keberlangsungan pesantren.

Oleh karena itu bidang perekonomian Hidayatullah mengoptimalkan lahan untuk sawah, perkebunan dan peternakan.

Lembaga Keuangan Mikro

Satu lagi bidang usaha yang juga digarap dan sedang dikembangkan dengan begitu kuat dan massif ialah lembaga keuangan. Meski masih berskala mikro dan berbadan hukum koperasi, upaya ini terus dikembangkan dengan brand Baituttamwil Hidayatullah (BTH).

Kini BTH telah eksis di 10 kabupaten/ kota di Indonesia. Sejauh ini, BTH masih fokus pada layanan simpanan dan pembiayaan syariah.

Harapannya, BTH kelak dapat menjadi satu lembaga keuangan yang dapat melayani kebutuhan umat, sehingga kekuatan ekonomi umat benar-benar dapat mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri.

Membangun Ekosistem Bisnis

Semua jenis usaha ekonomi di atas dipayungi dalam bentuk CV, PT dan Koperasi, oleh karena jumlahnya yang terus bertambah maka didirikanlah payung besar berupa holding yang melakukan koordinasi, penguatan, pengembangan dan konsolidasi usaha.

Adapun para kader dan anggota sebagai pelaku ekonomi dihimpun dalam sebuah wadah asosiasi untuk dapat berbagi informasi, pengetahuan dan peluang bisnis melalu APHIDA (Asosiasi Pengusaha Hidayatullah). Di samping itu asosiasi ini dihadirkan untuk melakukan pembinaan dan rekruitmen anggota yang akan melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

Begitu juga para anggota dan kader yang telah memiliki produk sendiri difasilitasi dengan HiMall sebuah marketplace yang sengaja dihadirkan sebagai pasar online yang tidak lagi disekat oleh batas-batas teritorial, kita bisa menjual dan membeli produk yang dibutuhkan kapan dan di mana saja, dari kita dan untuk kita.

Begitu juga dengan alat bayar untuk memudahkan transaksi maka kita meluncurkan sebuah paperless yang diberi nama HiCash. Kemudahan tekhnologi di era 4.0 harus direspon dan dimanfaatkan untuk memudahkan membangun ekosistem bisnis agar proses pengembangannya lebih cepat melesat.

Gerakan Ekonomi ke Depan

Pengembangan ekonomi ke depan meliputi tiga sektor, yakni ekonomi lembaga, ekonomi umat dan ekonomi sosial. Ekonomi lembaga mendorong pengembangan Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO) baik di tingkat pusat hingga wilayah dan daerah. Harapannya untuk memberikan provitsharing dan kontribusi ke organisasi.

Kemudian ekonomi umat, yakni pola pengembangan ekonomi yang didesain sebagai kepemilikan para kader dan jamaah, baik pribadi maupun kelompok (halaqah).

Konsep ini mendorong para kader dan jama’ah untuk memiliki usaha yang dikembangkan dalam bentuk koperasi, syirkah, atau privat company. Goal-nya adalah berdayanya para kader, sehingga potensi kontribusi terhadap gerakan dakwah dan tarbiyah melalui organisasi bisa semakin baik.

Terakhir ialah ekonomi sosial, hal ini mengarah pada potensi ekonomi yang terdapat pada kegiatan amal usaha di bidag sosial seperti pengembangan yayasan pendidikan, yayasan pesantren dan yayasan sosial asuhan anak.

Dari tiga sektor inilah ekonomi Hidayatullah akan dikembangkan, sehingga ekonomi sebagai salah satu pilar peradaban dapat berkontribusi secara nyata dalam mewujudkan visi Hidayatullah.

Sebagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW, dimana beliau adalah seorang pedagang kemudian berubah menjadi pelaku ekonomi besar dan menguasai sistem perekonomiaan di Jazirah Arab pada masa itu, sejatinya umat Islam menjadikan sirah nabi sebagai benchmark untuk bersinergi membangun kekuatan ekonomi.

Semoga pada 50 tahun kedua Hidayatullah, gerakan ekonomi bisa diwujudkan dengan baik, luas dan merata, sehingga kontribusi Hidayatullah untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat benar-benar dapat dihadirkan dan dirasakan semua pihak. Allahu ‘alam.

*)DRS WAHYU RAHMAN, MM, penulis adalah Kabid Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah