Baitul Maal Hidayatullah

Oleh: Dr Abdul  Mannan*
 Sudah jamak diketahui bahwa sumber dana hampir semua organisasi sosial berasal dari publik. Hanya sebagian kecil berasal dari mereka sendiri. Dalam pandangan ekonomi publik, bertambahnya lembaga sosial di tengah masyarakat akan mengurangi’ pendapatan mereka. Jika lembaga sosial tak ingin menjadi beban masyarakat, mereka harus mampu memberikan kompensasi yang seimbang.
Misalnya, produk yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Berikan pula informasi yang jelas dan mudah diakses. Sebab, harus disadari bahwa informasi merupakan kekuatan yang menentukan maju—mundurnya suatu lembaga.

Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan bagian dari organisasi massa (ormas) Hidayatullah yang bertugas mengoleksi dana masyarakat untuk kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah. Cita-cita mereka adalah menjadi organisasi terdepan di antara organisasi sejenis.
Agar menang dalam persaingan, BMH perlu berpikir ekstra, kerja keras, dan kerja cerdas. Mereka harus mampu mengeluarkan produk yang bisa memberi kepuasan kepada para donaturnya. Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan sapi perahan saja.

 

BMH juga harus merujuk kepada strategi tujuh komponen bauran pasar agar mampu memenangkan persaingan. Ketujuh komponen —yang biasa disingkat 7P- itu adalah produk (product) , harga (price), tempat (place), promosi (promotion), pegawai (personnel), prosedur (procedure), dan penampilan fisik (phisycal evidence).

Selain itu, BMH harus selalu belajar kepada manajemen sejenis yang sukses. Belajar kepada manajemen yang sukses berarti ada upaya untuk membangun karakter sukses.
Namun, mengubah karakter agar senantiasa belajar tidaklah ringan. Sebab, ini menyangkut karakter dasar orang yang bersangkutan.
Untuk mengubah sikap mental diperlukan proses kesadaran diri bahwa hidup ini, baik individu maupun kolektif, adalah persaingan yang harus ,dijawab dengan keunggulan.
Lantas, apa keunggulan BMH, baik secara personal atau kelembagaan, dibanding organisasi sejenis? Kekuatan internal apa yang dapat dipacu untuk mendongkrak posisi BMH?

Pertanyaan—pertanyaan ini harus dijawab tuntas oleh pihak manajemen BMH. Jika tidak, maka dapat dipastikan BMH tidak akan mampu betkompetisi. Ujungnya, mati sebelum bangkit atau hidup segan mati tak mau.
Strategi yang dipakai BMH juga harus mumpuni agar tidak berjalan di tempat atau mati mengenaskan. Strategi tersebut adalah memberdayakan pengurus agar memiliki kemampuan manajerial . Tanpa itu, jangan bermimpi bisa tampil terdepan.
Tolak ukur berhasil tidaknya BMH menjadi lembaga keuangan terdepan adalah seberapa besar dana yang berhasil dikoleksi dari masyarakat. Besarnya dana ini bersifat relatif karena tergantung pada penetapan target. Penetapan target ini harus dikomparasi dengan organisasi sejenis yang lebih tinggi posisinya.
Dengan demikian, kinerja pengurus BMH dapat dievaluasi setiap pekan, bahkan setiap hari. Perlu diketahui bahwa kunci sukses semua pekerjaan adalah terus-menerus memikirkan langkah strategis agar organisasi tidak berjalan ditempat, melainkan maju dengan pesat. Mencari gagasan-gagasan menarik tak boleh terbatas oleh ruang dan waktu. Jika sikap mental pengurus BMH terikat oleh jam kerja kantor, maka tak ubahnya seperti sikap karyawan atau buruh. Ini merupakan insiden buruk sekaligus virus menuju sukses.

Selain itu, kemampuan manajerial pengurus harus selalu ditingkatkan. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan, cara melayani, strategi pemeliharaan pelanggan, dan bagaimana pula cara mengemas produk agar layak dijual di pasar.
Akhir kata, kita harus mencanangkan tekad bahwa kinerja BMH harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga!

*Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah >

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.