Kapolda Sulbar Narasumber Seminar Parenting Mushida

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat (Kapolda Sulbar) Brigjen Pol Baharuddin Djafar saat menjadi narasumber seminar edukasi keluarga / Foto: Bashori

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Polisi tidak saja mumpuni dan lumrah bicara tentang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ternyata polisi pun piawai membahas tentang kepengasuhan dan pentingnya ketahanan keluarga.

Demikianlah yang dilakukan oleh Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat (Kapolda Sulbar) Brigjen Pol Baharuddin Djafar saat didapuk menjadi pemateri dalam acara Seminar Edukasi Keluarga gelaran PW Muslimat Hidayatullah Sulbar di Kota Mamuju, Ahad (24/09/2017).

Seminar edukasi keluarga yang berlangsung di Hotel Pantai Indah Mamuju yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatulah Sulawesi Barat berlangsung semarak. Apalagi dengan kehadiran Kapolda dengan pemarannya yang menyegarkan dan penuh semangat.

Kapolda Sulbar yang baru menjabat di wilayah tersebut sangat antusias dalam menyampaikan nasihatnya di hadapan ratusan peserta yang memadati Aula Hotel Pantai Indah.

Sosok yang dikenal familiar di lingkungan dan lingkup kerjanya yang sebelumnya menjabat sebagai Karopaminal Divprovam Mabes Polri ini mengaku sangat senang bisa beretemu dengan masyarakat melalui majelis-majelis ilmu sebagaimana perhelatan yang rutin digelar oleh Hidayatullah.

Bagi putra berdarah Enrekang yang dibesarkan di Bone Sulawesi Selatan itu menjadikan silaturahim sebagai hal pokok dalam mengemban amanah di mana saja ia bertugas. Termasuk ketika mantan Sesropaminal Divpropam Polri ini bertugas di Wilayah Sulbar ini.

“Hidayatullah adalah ormas pertama yang memberikan ruang dalam sosialisasi program kerjanya dan dikemas dalam sebuah acara Seminar Edukasi Keluarga,” kata mantan Kanit Reskrim Intel Polresta Pontianak Polda Kalimantan Barat ini.

Menurut Kapolda, kerjasama dengan Hidayatullah ini bukanlah yang pertama bagi Jenderal Bintang Satu yang rutin shalat berjamaah di masjid ini.

“Kejasama dengan Hidayatullah dengan program mainstream dakwah, pendidikan dan sosial merupakan aplikasi nyata di masyarakat dalam membentuk masyarakat yang paham dan taat hukum,” pungkas Baharuddin yang juga mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini.

Kapolda mengatakan sangat antusias menghadiri acara ini. Beliau menekankan bahwa keamanan masyarakat berawal dari keluarga.

“Keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi-generasi taat hukum,” katanya.

Lebih hebatnya lagi ketika didaulat menjadi narasumber dalam seminar walau dengan waktu yang sangat terbatas beliau mampu memukau peserta dengan statemen-statemen berkaitan dengan keluarga berdasarkan Al-Qur’an.

Kapolda memang bukan lulusan pesantren namun kedalaman ilmu agamanya tak bisa dipandang remeh. Kelima anaknya (4 putri dan 1 putra) dibesarkan dengan pembinaan agama yang ketat bahkan dia mengaku tak satupun anak gadisnya menikah dengan jalan pacaran. Cukup taaruf lalu dinikahkan, katanya.

“Lebih baik 70 orang melihat anak gadis kita lalu tak jadi menikah ketimbang satu orang tapi sudah diobok-obok lalu tak jadi pula menikah,” tegasnya disambut tawa hadirin.

“Orangtua punya tanggung jawab besar mengantarkan keselamatan keluarganya. Utamanya keselamatan kehidupan sesudah kematian,” tambahnya.

Statemen Kapolda ini sempat membuat peserta hening dan merenungkan kedalaman makna ungkapan tersebut. Tak lama kemudian kembali mencair dengan joke-joke segarnya yang dilemparkan tentang cinta yang membuat istrinya yang duduk di barisan terdepan tersipu malu.

Bertandem dengan trainer yang juga pemerhati parenting Islami, KH Zainuddin Musaddad, acara semakin menghangat hingga jelang shalat dhuhur waktu setempat.

“Sempurna sudah, betul kata pak Kapolda. Karena hanya melalui transformasi kekuatan besar saja ketika para kaum wanita memberikan asupan energi terbaiknya saat mereka menyusui pada proses itulah ada regenerasi kader-kader bangsa yang unggul,” kata Abah Zain, demikian ia karib disapa.

Selaras dengan materi yang disampaikan oleh tandemnya sebelumnya, keduanya menekankan betapa pentingnya membangun karakter anak melalui kekuatan cinta yang dirajut dalam kehidupan berumahtangga dan bermasyarakat dalam upaya meraih kehidupan yang haikiki sebagaimana tema acara “Merajut Cinta Meraih Surga”.

“Hingga contoh ringan yang dihadirkan ketika sang anak sudah candu dengan gadget dengan konten negatif yang harus diperangi bersama sebagai langkah memaksimalkan daya kerja otak anak agar tidak diasupi oleh penghalang hafalan al-Qur’annya,” kata Abah Zain.

Kedua pemateri yang saling menguatkan paparan itu mengakhirinya dengan kesimpulan; bahwa mendidik anak dan mengantarnya menjadi soleh adalah kerja yang membanggakan.
Hal ini harus dipahamkan kepada semua orangtua agar menjadi sahabat karib bagi anak-anaknya sebelum sang anak mencari teman dan tempat lain sebagai teman curhatnya.

Mencintai Keluarga

Sementara itu, pada prolog  Seminar Edukasi Keluarga yang dimoderatori oleh Murabbi Halaqah Hidayatullah Sulbar, Drs Muhammad Naim Thahir, di Hotel Pantai Indah Mamuju menekankan pentingnya membangun jalinan cinta yang sinergis antar sesama anggota keluarga terutama kepala keluarga.

“Cinta kita kepada istri itu merupakan keharusan bahkan wajib, namun jangan mengalahkan cinta kita kepada Allah Ta’ala,” demikian benang merah prolog tersebut.

Dikatakan Naim, mencintai orang terdekat bahkan tidur sama-sama harus mengutamakan nilai-nilai sunnah yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Hingga ia mengandung dan sejak itulah kesempatan sang bapak memberikan pendidikan pertama kepada anak-anaknya. Dengan memperdengarkan tilawah qur’an sebagai rekaman perdana dalam hidupnya untuk mengawali kehidupan mereka di dunia ini.

“(Memperdengarkan lantunan Qur’an) ini bahkan lebih baik dari pada alunan musik-musik intrumental sekalipun,” kata Naim dalam prolognya mengawali acara.

Sehingga, katanya, pentingnya pendidikan keluarga harus dimulai dari figur ayah dan ibu yang sholeh karena dari dua pribadi itulah akan terlahir generasi yang dekat dengan Tuhannya.

“Maka di sinilah pentingnya mengajari setiap perempuan kepada agamanya agar kelak terlahir generasi yang shaleh. Mengapa masih terjadi fenomena ibu-ibu sering memarahi anak saat makan, belajar dan menjelang tidur. Fitrahnya, karena setiap ibu belum bisa mengontrol lisannya” katanya.

Hal tersebut, jelasnya, sebagaimana belum bisanya mengontrolnya mata bagi kaum bapak-bapak. “Contohlah sahabat Nabi, Ali Karramallahu wajhah yang “dikeramatkan” wajahnya yang sejak kecil menjaga wajahnya dari maksiat,” imbuhnya dengan semangat.

Sekira dua ratus peserta acara makin serius karena materi terus mengalir meneduhkan jiwa-jiwa yang haus akan nilai-nilai kebahagiaan dalam membina mahlligai rumahtangga.*/ Muhammad Bashori

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.