Hadangan Bramacorah dan Pengabdian Jumawir di Bosso

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

BOSSO (Hidayatullah.or.id)- Malam sudah larut. Penduduk memilih istirahat di rumah masing-masing saat ustadz Jumawir memacu sepeda motornya pulang dari pengajian di desa binaanya dihadang oleh sekelompok orang di tengah jalan.

Penghadangan itu dilakukan sekelompok bramacorah, atau penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan, seperti merampok.

Langsung menunjukkan keinginannya, seorang diantara penghadang itu berbicara kasar dan mengancamnya dengan sebilah parang.

Sebagai santri yang diamanahkan untuk berdakwah di wilayah itu ustadz Jumawir berpikir panjang untuk bertindak ceroboh.

“Alhamdulillah, Allah menolong saya,” kenangnya singkat saat berbincang dengan Muhammad Bashori, kontributor Hidayatullah.or.id di Sulawesi Barat.

Jumawir melanjutkan, seorang dari gerombolan tersebut juga rupanya mengenalinya dengan baik dan sontak episode menegangkan itu berujung indah dan mencitrakan dinamika dakwahnya para dai yang ikhlas.

Bagi Jumawir, Pondok Pesantren Hidayatullah di kelurahan Bosso yang berada di perbatasan antara Kabupaten Luwu dan Luwu Utara adalah tempat yang istimewa karena menjadi tempat pertama ia abdikan ilmunya yang ia dapat sejak mondok di Kampus Hidayatullah Palopo.

Awal April 2014 ia kisahkan, memulai rintisan di lokasi seuas 1 hektar di tengah persawahan.

Bertemu dengan salah seorang tokoh masyarakat Bosso, Haji Hamzah yang lebih dulu mengenal Hidayatullah melalui Majalah Hidayatullah lalu memutuskan untuk mewakafkan satu hektar dari sawah yang ia miliki.

Ustadz Jumawir sangat bahagia karena menurut pewakaf akan ditambahkan ke Hidayatullah 2 hektar lagi jika di kemudian hari dianggap bagus perkembangan pondoknya.

Saat itu juga Jumawir, S.Pd.I dengan istri yang baru saja mereka langsungkan pernikahannya tidak menunggu lama untuk memulai kegiatan layanan kepada masyarakat Bosso dan sekitarnya yakni membuka pendidikan al-Qur’an dengan fasilitas seadanya .

Setelah beberapa bulan kemudian mencoba membuka Taman Kanak Kanak menyusul bangunan mushala berbahan kayu atas dukungan masyarkat Bosso yang sejak awal selalu mendukung dan menyambut antusias dakwah ustadz Jumawir.

Bersama dengan salah seorang kader dai Hidayatullah lainnya ia bersinergi juga dengan baik bersama warga masyarakat sekitar untuk rutin melakukan pembinaan melalui Persatuan Orangtua Siswa (POS).

Walhasil semua bangunan yang ada dalam pondok berasal dari bantuan masyarkat sepenuhnya. Adapun bangunan dari pemerintah, “Sudah kami ajukan dan diterima bahkan dijanji awal tahun depan (2019) akan direalisasikan,” tutur Jumawir yakin.

Salah satu perhatian pemerintah adalah izin operasional TK dan SD yang yang ia rintis hanya membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan saja.

“Setelah sering mengikuti lomba lomba di tingkat kecamatan dan kabupaten dan selalu menang di peringkat atas sehingga pemerintah penasaran,” kenangnya mengawali pondok yang sudah memiliki murid sekitar 150 ini.

Sadar akan kekurangan yang ia miliki ustadz Jumawir selalu berpegang pada satu prinsip yang selama ini ia jadian penyemangat dalam beraal jariyah di tempatnya bertugas.
“Kita memang ada di mana mana tapi jangan ke ‘mana-mana’ fokus saja dalam dakwah Insya Allah menang,” tandasnya.*/ Muhammad Bashori.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.