Mengikis Kesombongan dan Berbuat untuk Maslahat Umat

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Pekerjaan terbesar dalam hidup ini adalah mengesakan Allah. Tauhid itulah yang akan melahirkan kesadaran tentang kebesaran Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Yang Sempurna, akan melahirkan kesadaran kekurangan kita dan mengikis kesombongan dalam diri sehingga menjadi figur yang wara’.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, saat memberikan wejangan dalam penutupan acara Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur yang diselenggarakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kaltim, beberapa waktu lalu.

Wara’ adalah menjaga kesucian, yaitu menahan diri dari yang tidak pantas. Menurut istilah syariat, wara’ adalah meninggalkan yang meragukan, menentang yang membuatmu tercela, mengambil yang lebih terpercaya,dan mengarahkan diri kepada yang lebih hati-hati.

“Salah satu aplikasi wara’ dalam hidup adalah memikirkan kebaikan orang banyak. Tapi jika kamu hanya memikirkan diri sendiri, saat kamu dapat orang lain tidak dapat, itu yang akan melahirkan kecemburuan.” katanya.

Karena itu, beliau berpesan kader Hidayatullah harus memiliki sifat tawadhu, wara dan qona’ah, karena inilah menurutnya yangg akan melahirkan ketenangan, kemudahan dan kedermawanan dalam hidup.

“Secara struktural Ketua, sekretaris dan bendahara harus berkomitmen untuk bertabattul, sebagai bentuk kesadaran kekurangan diri, menyiapkan waktu khusus utk melakukan perenungan, dzikir, baca Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya,” ujarnya.

Selain itu, ia mengimbuhkan, bertawakkal kepada Allah SWT adalah kunci kemenangan ummat dan kekuatan yang luar biasa, sehingga ada ungkapan, jika engkau bertawakkal seperta burung, engkau dapat pindahkan gunung.

Penjabaran tawakkal dalam hidup adalah menyiapkan diri untuk diatur oleh keputusan-keputusan Allah dan menerima keputusan tersebut, dan tidak bersikap seolah-olah ingin mengatur Allah.

“Kemajuan Hidayatullah secara struktural sudah luar biasa, maka harus diseimbangkan dengan kemajuan kultural, program Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) adalah gerakan strategis meretas kesenjangan tersebut,” ujarnya.

Beliau menegaskan, kader Hidayatullah yang tercerahkan oleh GNH, tidak akan mudah menyalahkan orang lain, tidak suka mengeluh, baik kepada keluarga maupun lainnya, tidak suka mencaci dan punya etos kerja yang tinggi.*/Abu Haidar

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.