BMH Kepri Santunan Yatim dan Bantu Nelayan Pulau Panjang

PULAU PANJANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kepulauan Riau menyelenggarakan kegiatan dakwah dan sosial berupa Santunan Yatim dan Doa untuk Negeri serta penyerahan bantuan peralatan untuk nelayan di daerah pinggiran, tepatnya di Pulau Panjang, Batam, Kepulauan Riau, Ahad, 22 Muharram 1441 Hijriyah (22/9/2019).

Kegiatan begitu spesial karena mendatangkan Guru Besar dari Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, Syaikh Ahmed Abdul Mu’thy Ramadhan al-Musayyir (Syaikh al-Mishry), sebuah kerjasama Kementerian Agama RI dengan Universitas al-Azhar Mesir dalam penyebaran da’i di Nusantara.

Program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat pinggiran dari BMH ini mengangkat tema “Raih Kemuliaan, Bahagiakan Sesama”.

Menurut Abdul Aziz El-Haqqi, Ketua BMH Pewakilan Kepulauan Riau, ada 100 Paket Gizi dalam bentuk bingkisan dan 100 amplop santunan yang diserahkan secara langsung untuk masyarakat Pulau Panjang.

Dalam sambutannya, Abdul Aziz menyampaikan maksud dan tujuan program ini, yaitu untuk pemberdayaan masyarakat pinggiran dan upaya menjalin silaturahim dengan masyarakat luas agar dakwah ini semakin dirasakan oleh umat.

“Melalui kegiatan ini, BMH hendak berbagi dengan sesama, menyantuni para masyarakat Pulau Panjang, dan terkhusus kepada anak-anak. Semoga apa yang diterima dapat memberi manfaat untuk masing-masing keluarga yang ada di pulau ini,” paparnya di hadapan warga.

Abdul Aziz juga berharap, kunjungan ini bukan yang terakhir kali, tapi tetap berlanjut di waktu-waktu yang akan datang, agar jalinan silaturahim dan dakwah melalui BMH tetap berjalan.

“Ini bukan yang terakhir kali. Kami akan tetap bersilaturahim ke Pulau ini, mengunjungi bapak ibu sekalian di masa yang akan datang”, harapnya pada kegiatan yang diadakan di masjid tersebut.

Lewat kesempatan ini juga, BMH menyerahkan bantuan untuk nelayan berupa satu unit kapal dan satu paket alat tangkap untuk warga Pulau Panjang. Harapannya, agar pemberdayaan ekonomi di masyarakat tersebut dapat meningkat.

Selanjutnya, taushiyah dari Syaikh Ahmed al-Mishry, menjelaskan tentang rukun Islam. Tema ini diangkat karena saran dari pengurus masjid di Pulau yang mesti ditempuh dengan menggunakan perahu tersebut, bahwa masyarakat sangat awam tentang Islam.

Sehingga Syaikh menyampaikan pentingnya pilar-pilar Islam ini ditegakkan. Mulai dari mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat wajib lima waktu, membayar zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.

Lebih lanjut, Syaikh secara detil mengulas tentang shalat, mengingat masyarakat setempat masih banyak yang lalai untuk mengerjakan.

“Bagi kita yang beragama Islam, bukti bahwa kita ini menganut Islam adalah dengan mendirikan shalat wajib. Yang membedakan antara muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat. Kalau zakat, hanya orang kaya, puasa bisa saja ada udzur, berhaji, apatah lagi, hanya yang bisa menempuh perjalanan. Tapi shalat, semua muslim wajib secara mutlak untuk ia dirikan, tanpa memandang kaya atau miskin,” paparnya.

Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk negeri. Hal ini dilakukan untuk mengundang bantuan dan pertolongan Allah untuk negeri ini. Adanya kebakaran hutan dan lahan, kekeringan di mana-mana karena kemarau panjang, kondisi ekonomi semakin merosot, gejolak politik tanpa henti, dan masih banyak lagi problem yang mesti dimunajatkan kepada Allah SWT.

Usai penyerahan secara simbolis, kemudian berlanjut untuk ramah tamah dengan para hadirin. Kegiatan juga dapat berjalan lancar dan baik.*/Azhari

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.