Syahadat Selamatkan Jiwa dari Mental Cengeng dan Manja

JAYAPURA (Hiidayatullah.or.id) — Meneguhkan dakwah di perbatasan, tidak cukup hanya memberi perhatian kepada dai, tetapi juga daiyah.

Oleh karena itu di Papua, tepatnya Holtekamp Jayapura, para daiyah dalam sepekan sekali disediakan ruang upgrading agar senantiasa siap memberikan support terbaik bagi dakwah di Papua.

Dalam hal ini hadir sebagai narasumber Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ustadz Muallimin Amin. Pada momentum itu beliau tegaskan pentingnya memahami syahadat.

“Ketika kita sudah berikrar, sudah menyatakan janji setia kepada Allah Ta’ala dengan ucapan syahadat, berarti dia sudah siap diatur oleh Allah Ta’ala,” katanya saat memberikan materi pengarahan di Kampus Hidayatullah Jayapura, Sabtu (22/2/2020)

Ibarat kalau di pengadilan, lanju dia, ada perkara yang akan diputuskan vonis, maka itu sangat dipengaruhi oleh adanya orang yang menjadi saksi. Saksi itu boleh menyatakan diri sebagai saksi jika memiliki bukti.

“Kalau saksi ini membawa bukti palsu, tidak sesuai dengan kenyataan, maka saksi itu langsung bisa dipenjara. Karena ia bersaksi secara palsu,” urainya.

Muallimin menerangkan, bahwasanya idealnya orang Islam total dan siap diatur oleh Allah. Kalau tidak maka kerugian sudah pasti.

“Jadi, kalau kita bersyahadat lantas tidak siap diatur oleh Allah, maka persaksian kita belum seutuhnya,” imbuhnya.

Di sinilah pentingnya lanjut Muallimin kita mengenal Shirah Nabawiyah agar mengerti bagaimana syahadat bekerja di dalam hati dan pikiran mereka.

Pria yang merupakan ayah dari 6 anak itu menegaskan hanya dengan syahadatlah perubahan bisa diwujudkan.

“Harapannya sederhana, kita memiliki perubahan-perubahan nyata dalam diri kita. Jadi, Islam-nya bukan lagi sekedar tahu, tapi dialami, dirasakan indah dan nikmatnya,” tegasnya.

Lebih dari itu, pria yang telah malang melintang di Papua itu menegaskan bahwa dengan syahadat yang benar, yang kuat, maka tidak akan ada lagi karakter negatif dalam diri, seperti mental cengeng dan manja.

“Islam tidak mengajarkan kemanjaan dan kecengengan. Tapi sebaliknya, bangkit dan tandang ke gelanggang. Kalau sedih mengadu kepada Allah. Kalau bahagia, bersyukur kepada Allah. Shalat disiplin, mengaji rajin, dan mengamalkan ajaran Islam, bahagia hatinya,” tutupnya.*/ Imam Nawawi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.