Mengabdi Jadi Guru Ngaji di Kepulauan Aru

KEPULAUAN ARU (Hidayatullah.or.id) — Matahari sudah meninggi, tapi sinarnya masih lembut menyusuri tubuh berpeluh sekumpulan remaja dan anak muda yang sedang bersandau gurau. Mereka baru saja menuntaskan kerja bakti membabat semak belukar hari itu.

Tampak seorang pria berbadan tambun, cambang melingkari dagunya. Dialah yang memimpin kerja bakti itu. “Ayo mandi, bersih-bersih. Kita siap siap shalat dzuhur,” katanya mengimbau santrinya.

Ustadz Sulaiman Sandere, lelaki murah senyum tersebut bergegas. Begitupun dengan santrinya yang umumnya adalah anak-anak kampung di pedalaman Kepulauan Aru tersebut. Mereka membersihkan diri untuk selanjutnya mendirikan shalat berjamaah.

Usai shalat, mereka bersantai di teras dipan pondokan yang sekaligus menjadi mushalla sementara itu. Seraya menyeruput teh yang ditingkahi manisnya penganan pisang goreng, mereka menikmati siang itu dengan penuh keakraban.

Itulah aktifitas sehari hari Sulaiman selain mengajar Al Qur’an dan taklim masyarakat selama masa perintisan bakal kampus Hidayatullah Dobo Kepulauan Aru tersebut. Dengan bahu membahu dengan warga dan masyarakat sekitar, kini kampus dakwah dan pendidikan Hidayatullah Kepulauan Aru itu kian menunjukkan progresifitasnya.

“Sampaikan saja yang apa sudah kita rasakan tentang nikmatnya berislam,” kata Ust Sulaiman mengungkapkan tipsnya ketika ditanya apa kiatnya dalam berdakwah.

Menurutnya, dakwah adalah bahasa hati. Bahasa seorang dai adalah juga bagian dari kepingan hatinya. Artinya, jelas dia, seorang dai harus betul betul sudah merasakan, meresapi dan mendalami apa yang disampaikan kepada umat.

“Dengan begitu, hati akan sama-sama klop untuk segera menyergap, menyedot dan menyadap spirit Ilahi,” katanya sambil menirukan diksi yang sering dilontarkan pendiri Hidayatullah, almarhum Abdullah Said.

Sulaiman menyelesaikan pendikan SD dan Mts di Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di Makassar dan juga menyelesaikan pendidikan tingginya di kota Daeng tersebut.

Dai 6 orang anak ini terus menguatkan dakwah di Aru dengan merintis pesantren sebagai pusat dakwah dan pendidikan di Dobo yang dipersiapkan untuk generasi dari pulau pulau.

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku. Ibukota kabupaten ini terletak di Dobo. Di kawasan inilah Ustadz Sulaiman mendapatkan tugas mengemban amanah dakwah sejak kurang lebih 2 tahun lalu.

Alamnya sebagai daerah yang eksotik begitu unik dengan gugusan pulau-pulaunya yang menawan. Namun dibalik itu, hal itu menjadi spesial bagi Sulaiman.

Bagaimana tidak, dengan gugusan lebih dari 100 pulau kecil, membuat dakwah Sulaiman yang selain menantang, juga sarat dengan haru biru. Saban waktu pria 37 tahun harus berjibaku dengan ombak laut.

“Jadi pergerakan ekonomi sangat ditentukan oleh kapal-kapal atau perahu dari desa ke desa. Dan begitu pula pergerakan dakwah, tidak lepas dari tranportasi laut. Inilah yang membedakan kabupaten Aru ini dengan daerah lain,” kata Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, transportasi laut memang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat baik untuk pemenuhan keperluan ekonomi maupun interaksi sosial masyarakat. Sehingga wajar jika transportasi laut hampir sama jumlahnya dengan transportasi darat yang ada di kota Dobo.

Tiada kesibukan Sulaiman yang menyita waktu dan perhatiannya selain berdakwah. Lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini selain memenuhi permintaan mengisi kajian dakwah rutin ke berbagai titik pulau, ia juga membina salah satu dusun yang bernama Jerukin di Desa Maikor.

Penduduk desa Makor heterogen dengan agama Islam dan Kristen. Mereka hidup rukun bahkan mereka tinggal satu rumah. Kata Sulaiman, harmoni tersebut terus terawat dan menjadi teladan dalam toleransi. (ybh/hio)