SAR Hidayatullah Sukses Laksanakan Diklatsar Jawa Barat

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah sukse selenggerakan diklat selama 8 hari di Bandung, Jawa Barat. SAR Hidayatullah adalah lembaga ormas Hidayatullah yang bertugas untuk mengkoordinasikan, memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, melakukan mitigasi, kesiapsiagaan bencana, dan rehabilitasi pasca bencana.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan SAR Hidayatullah kali ini dilaksanakan selama delapan hari sejak tanggal 23-30 Oktober 2021.

Kegiatan diklatsar ini di ikuti oleh 32 orang peserta yang dilaksanakan di dua tempat, di Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus II Soreang dan Situ Cileunca Bandung.

Komandan Pusat SAR Hidayatullah, Irwan Harun Nurdiansyah, dalam keterangannya mengatakan diklat yang telah bergulir di sejumlah wilayah ini merupakan bagian dari program SAR Hidayatullah dalam mempersiapkan sumber daya relawan kemanusiaan yang andal, cakap, dan siaga dalam setiap bencana.

Menurut Harun, Indonesia yang merupakan merupakan negara kepulauan, tidak lepas dari ancaman bencana alam. Bahkab, secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

“Ini yang penting diantisipasi dengan melakukan upaya kewaspadaan ini melalui diklat SAR Hidayatullah,” kata Harun.

Harun menyebutkan, pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa – Nusa Tenggara, dan Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut, kata dia, sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Mengutip Peta Bencana yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) yang disadur dari penelitian Arnold. E.P, dkk berjudul “Southest Asia Association on Seismology and Earthquake Engineering. Indonesia: Series on Seismology Volume V tahun 1986, Harun menyebutkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat.

Di satu sisi, wilayah Indonesia yang beriklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan lalu digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Namun, sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

Di sisi yang lain, dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

“Karena itu, SAR Hidayatullah, sebagaimana perannya, berupaya untuk selalu memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, melakukan mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana,” pungkasnya.

Sebelumnya, SAR Hidayatullah juga mennggelar diiklat di DKI Jakarta, Balikpapan, Kalimantan Timur, Mamuju Sulawesi Barat, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ternate, Maluku Utara, dan mengutus puluhan anggota relawan mengikuti bimtek search and rescue (SAR) yang digelar Basarnas.(ybh/hio)