Bangsa ini Punya Harapan Bila Anak Mudanya Rajin ke Masjid

TOBELO BARAT (Hidayatullah.or.id) — Masa depan bangsa ini tergantung pada anak mudanya. Demikian diungkap Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, saat berceramah di depan para santri dan pengasuh Pondok Pesanten Hidayatullah Tobelo Barat, Halmahera Utara, Maluku Utara, pada 21 Dzulqaidah 1443 (20/6/2022).

“Jika bertemu anak-anak muda yang rajin ke masjid seperti kalian maka bangsa ini punya harapan,” jelas Shohibul lagi.

Sebaliknya, jika banyak dijumpai anak muda yang gemar nongkrong tanpa tujuan yang jelas, maka masa depan bangsa ini akan suram.

Hidayatullah, sebagai organisasi Islam, bertugas mencetak anak-anak muda yang paham tujuan hidupnya. Pesantren-pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, mendidik ribuan santri agar dekat kepada Allah Ta’ala, memiliki ahlak mulia, serta paham apa yang baik dan yang tidak.

Shohibul kemudian bercerita tentang kisah perjalanannya mengunjungi pesantren Hidayatullah di Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, beberapa bulan silam. Di sana rupanya ada warga non Muslim yang menyekolahkan anaknya di pesantren Hidayatullah.

Saat diberitahu bahwa itu sekolah Islam, warga tersebut tidak mempermasalahkannya. “Saya lihat anak-anak di pesantren ini baik-baik. Tidak ada yang mabuk-mabukan (minum-minuman keras). Saya ingin anak saya baik seperti itu,” kata Shohibul mengutip perkataan warga tersebut.

Rupanya warga tersebut paham bahwa anak muda yang suka minum minuman yang memabukkan tak akan punya masa depan. Ketika orang mabuk, jelas Shohibul, zat yang memabukkan tersebut akan menyerang otak.

“Jika otak sudah rusak, akal pun ikut rusak. Bila akal sudah rusak, mana mungkin ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” katanya.

Shohibul memberi contoh penduduk Aborigin yang tinggal di Australia. Mereka sebenarnya penduduk asli di benua tersebut. Namun, saat ini mereka hampir punah. Jumlahnya tinggal sedikit saja. Apa penyebabnya?

Rupanya, kata Shohibul, mereka ditampung di dinas-dinas sosial setempat, diberi uang dan makanan, serta minuman yang memabukkan. Akibatnya, angka kematian mereka tinggi. Begitulah jika harta paling berharga, yakni otak, sudah dirusak. Apalagi bila pengrusakan telah terjadi sejak usia remaja, usia di mana pada masyarakat Barat sering memimbulkan masalah.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan para sahabat Rasulullah SAW dan pahlawan-pahlawan Islam justru sudah menoreh prestasi gemilang pada usia remaja. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, pada usia 10 tahun sudah menjadi pendamping dan pembela Rasulullah SAW. Zaid bin Tsabit, sejak usia 11 tahun sudah menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Imam Syafii, pada usia 15 tahun sudah memberi fatwa. Thoriq bin Ziyad, pada usia 21 tahun mampu menaklukkan Romawi.

Shohibul kemudian menghimbau kepada para santri Hidayatullah Tobello Barat agar giat belajar dan tidak terpengaruh oleh kehidupan tanpa nilai di luar sana. Sebab, masa depan bangsa ini berada di pundak anak-anak muda, utamanya para santri.*/Mahladi